CERITACERITAKU.COM | Cerita Ceritaku Cahaya Yang Menua

Cerita Ceritaku Cahaya Yang Menua

Cahaya yang menua

Kala, nama kecil yang tak hentinya membuatku tersenyum pada seiap memori masa lalu tentangnya. Kala adalah setitik masa lalu yang pernah bersinar, seperti embun yang jatuh berbintik bening pada daun kelor, tak banyak yang ia cipta pada tiap episode nya, hanya sembarang lewat lalu bercerita soal apa yang di kata bahagia, yang aku jarang sekali punya. Tingkah bodohnya tak jarang membuat ku lupa pada kisah sedih masa kanak-kanak yang tidak bisa ku hapus meski masa telah mengaduknya larut.
Kala bukan sahabat ku, hanya teman sepaham kurasa, dimana apa yang ia pernah punya tak jauh beda dengan yang kumiliki. Kala bilang, kita tumbuh sebelum waktunya. Lalu aku nyengir kuda, pada tubuh kecilnya dan jambul yang mecuat dipuncak kepala. Dia tidak tumbuh kurasa, tapi aku paham, tumbuh yang di maksud adalah jiwa. Jiwa nya menua, entah apa aku juga? Tapi yang kurasakan listrik menyengat saat dia bercerita soal kisah bahagia, dengan asumsi hanya aku yang bisa mengerti.
Waktu itu, tepat usia ku 15 tahun, dismester kedua, masa remuk redam kehidupan. Dimana mimpi seperti hal yang sulit di raih, bukan, bukan Cuma mimpi. Apapun itu rasanya jauh sedang aku di dalam dasar lubang dan tak ada yang mendengar suara teriakan ku meski sedikit, lalu kala dengan bodohnya terjun kebawah. Menerangi aku dengan gigi berseri dan tawa yang menggema, membuat ku terpantul bahagia. Dengan sangat bodohnya dia berkata “cengeng ih, jelek cek mama aku mah kalo mewek. Kalau matahari tenggelam, kan ada bulan yang menggantikan, kalo bulan gaada … hm, atuh masa gaada, mendung mereun” lalu nyengir kuda padaku. Dan sedih ku hilang,
Tapi, kadang Mengingatnya terasa sedikit menyedihkan, pernah sekali waktu, membayangkannya justru membuat dada tersesak, ingin menangis tapi terasa semakin bodoh jika melakukannya. Kurasa mungkin dulu, dulu sekali, Suatu waktu sempat ku taruh cinta di atas kepalanya, tapi ia tak punya otak cukup cerdas untuk menangkap itu dan meletakan di tempat yang seharusnya. Lalu ku biarkan cinta itu menggantung, menunggu ia menangkap sampai akhirnya aku tahu, dia ada hanya untuk menemani, bukan lebih dari itu.
Kala bukan anak yang banyak bicara, tapi dia bukan juga pendiam. Dia tau harus seperti apa. Dia sangat memahami situasi. Sekali lagi dia menyelamatkan aku, pada kemalangan yang ku bebani sendiri.
Waktu itu, Bandung hujan di bulan april.
“Diva….”
Dia berhenti, menggunakan motor matic dengan kagok. Aku diam, mengenggam tali tas, menariknya seikit kedepan. Menghangatkan punggung yang dingin.
“Jangan ujan-ujanan ih. Tar pala nya masup air”
“kok bisa”
“itu keliatan banget pikiran kamu lg kosong, tau tau weh diisi air bahaya”
Aku nyengir. “so tau kamu”
“hayuk sok atuh..” ia mengedip pada jok belakang.
“mau nganter dibonceng?”
Dia berfikir sebentar, lalu menurunkan standard motor beat biru nya.
“ya ngga atuh, kita jalan aja. Aku gabisa naik motor. Itu teh motor nya alip, iseng aja aku bawa sampe sini”
Lalu dia berjalan mendahului aku di depan, meninggalkan entah motor siapa di pinggir jalan, lalu menoleh menandakan ‘lets go’. Sore itu, fikiran ku tidak lagi kosong, karena diisi air hujan dan beberapa lelucon bodoh miliknya.
Aku meletakan pulpen pada meja, menutup laptop, menikmati lagi bulan april di kota yang sama tapi di moment yang sangat berbeda. Hampir 5 tahun kala tak berkabar, macam batman yang kelelahan mengurus gotham dengan seribu mafia didalamnya. Bukan kah pernah aku bilang, sempat ku gantungkan cinta diatas kepalanya, tapi kurasa cinta itu ku tarik kembali, sebab bukan cinta maksud dari semua rasa yang ia tuangkan dan kucampurkan. Aku menyayangi, seperi sepatu kanan menyayangi sepatu kiri, sahabtanya.
Hujan, di bandung lagi. Belakangan ini aku banyak mengingatnya, entah karena apa. Mungkkin berkat suatu sore yang ia dedikasikan hanya untuk ku, menjadi tempat berpijak untuk melompat meraih apa yang orang bilang mimpi.
Pelataran kantin sekolah, aku lupa wakatunya. Tapi masih ingat betapa hari itu dia kucel bukan main, sebab ia coordinator kelas, dia yang paling sibuk menyambut hari guru. Menjadi tokoh yang harus di teladani atau semacamnya. Dengan baju setengah basah dan sedikit bau matahari, dia duduk di tengah lapangan basket, sementara sekolah sudah sepi tinggal beberapa anak yang menjadi panitia inti masih berdiskusi soal esok hari.
“sok atuh latihan, aku liatin”
“diva malu ih”
“atuh masa aku merem mana bisa nilai”
“kamu di ujung lapangan aja liat nya”
“yaudah terserah kamu deh div, aku mah nurut we, aku perlu berdiri di belakang sesuatu gak biar gak keliatan?”
“perlu-perlu”
Lalu si jambul kala, berangkat ke ujung lapangan, berharap dia berdiri di balik pohon mangg, tapi nyatanya,
“aku disini aja ah diri nya..”
dia berdiri di balik pot setinggi 20cm, sambil terkekeh. Melihat ku dari jauh membaca puisi.
Itu pertama kalinya, puisi karyaku didengar. Setelah sebelumnya, semua puisi itu hanya jadi penghuni lemari dan meja belajar. Sebab papa tak suka pada sastra karena sastra adalah bagian dari hidup mama, yang pergi meninggalkanya demi mengejar cinta nya yang salah.
Hujan hampir reda, tapi yang ku tunggu tak kunjung datang, batrei laptop ku hampir habis, sedang kepalaku di penuhi sesak oleh memori. Biasanya setiap memori yang masuk dalam kepala, akan menghasilkan karya. Sebab puisi yang tercipta selama ini adalah ekstrak dari cerita hidup ku dimasa lalu, yang lagi dan lagi di sinari oleh titik cahaya, yang pernah kala sodorkan, dimasa lalu
Satu frapuccino, lagi. Kembali ku pesan setelah gelas ke dua. Karena hujan bandung, mungkin undangan ku terlambat datang, ah lagi pula aku sedang mengenang kala. Bagian mana yang lupa ku cerita kan?
Ah ya, waktu itu, pagi hari saat gerimis pertama di smester terakhir sekolah, aku menjadi primadona, soal sastra puisi dan dongeng. Banyak hal yang ku raih, mulai dari lomba tingkat bawah sampai atas-atasnya. Hingga aku lupa, aku Berjaya, berkat di dengar oleh seorang teman. Hanya berkat di dengar, aku begitu menjadi percaya, bahwa mimpi butuh di hargai lewat mengejarnya dan berusah meraihnya.
Kembali lagi ke gerimis di awal smetsrer terakhir ku di putih abu-abu, waktu itu aku jarang melihat kala, sebab kami tak satukelas lagi. Tapi beberapa kali aku melihat nya di kantin, melakukan lelucon seperti biasa, tertawa lalu sedih di waktu yang sama. Perpindahan bahagia dan duka hanya stau detik lewat kedipan matanya. Entah, aku yang sok tahu atau memang begitu keadaannya. Tapi teman teman disekelilingnya tetap tertawa,tak peka atau ah, terserah saja. Yang jelas kulihat dari jauh jiwanya semakin menua, benar benar menua kurasa. Sekali waktu, aku memergoki dia banyak merokok di belakng sekolah, bukan tipikal kala yang ku kenal dua tahun lalu. Lumayan sering aku melihatnya bolos, melarikan diri dari bangunan persegi dan menggapai dunia lewat melompati pagar jeruji di belakang sekolah. Lalu esoknya berdiri di jemur di bawah tiang bendera, dengan tawa terkikik dan perasaan seolah menikmati hukuman mandi matahari siang itu. Aku melihat jiwa nya lelah, entah.
Sampai saat ini, itu lah yang ku sesali, kenapa tak datang membalut luka pada jiwa nya atau setidaknya membawa obat anti agiing untuknya yang bertambah renta. Aku bukan dia, yang bisa datang membawa kebahagiaan lalu pergi seolah semua baik baik saja dan menanggung beban banyak di balik punggungnya.
Sekali waktu, aku pernah menuliskan sebuah puisi rindu, untuknya. Sebelum malam perpisahan sekolah, sebelum aku benar benar kehilangan kala-ku dan jiwa nya yang pernah ku cinta. Tapi aku tak sempat memberinya, sebab dia telah mati, maksudku jiwa nya yang dulu pernah ada sudah tak ada lagi. Lalu kembali ku masukan kedalam tas secarik kertas biru berisi puisi untuk sahabat bagi jiawa ku, kala.
Hampir 30 menit setelah frapuccino ketiga ku, aku akan bergegas pergi, mungkin dia tak benar benar datang. Mungkin hanya untuk dikenang sebagai masa lalu, dan di buka kembali ketika rindu, ah hujan mungkin menghambtnya, sebab ia tidak seperti kala yang dulu, yang menjadikan hujan adalah jalan untuk mendekat. Aku memasukan laptop, buku dan kacamata kedalam tas, memsatikan tak ada yang tertinggal di menja, dan menyesap habis frapuccino ku lalu meninggalkan beberapa lembar uang, dan mengangkat tangan menandakan aku pergi, lalu bersamaan dengan itu, pintu kafe terbuka, dan seseorang yang baru saja ku fikirkan dan kubuka lagi lembarannya terkekeh dan menyapa
“Hai diva, mau ngisi kepala di luar?”
“hai kala………..”
Sore itu, aku kembali bernostalgiapada hujan, pada tokoh utama masa remaja ku, bukan,bukan membahas soal cinta, tapi soal jiwa yang kian menua dan soal kisah lain di baliknya.

Sebelumnya aku tak tau apa itu cahaya
Sebab aku hidup didalanya
Tapi sampai suatu saat, aku masuk kedalam gulita
Lalu ku ketahui, bahwa setitik pun dapat terlihat disana
Jadinya, aku belajar jadi gulita
Sebab kamu, gulita terasa indah
Karena melihat jiwa yang bercahaya adalah hal langka
Terimkasih pernah menjadi cahaya disaat yang tepat
Dari aku, gulita.
Untuk kamu, cahaya yang menua. kala

Cerita Ceritaku Cahaya Yang Menua