Cerita Terbaru
- CERITA CINTA : KEKASIH TAK SAMPAI
- CERITA DEWASA : PAARTWENE
- CERITA CINTA : PURNAMA DI PELUPUK MATA
- CERITA DEWASA : CINTA BISU
- CERITA DEWASA : Cinta Sejati
- CERITA DEWASA : Tinggal Kenangan
- CERITA DEWASA : Terpisahnya Persabatan
- CERITA DEWASA : Penghianat Cinta
- CERITA DEWASA : Kenapa Kau Ambil Ke Dua Orang Tua Ku
- CERITA DEWASA : TAKDIR (True Story)
- CERITA DEWASA : JANJI MANIS
- CERITA CINTA : AKU INGIN DIA KEMBALI
- CERITA CINTA : DOA CINDY KEPADA MANTAN PACAR PLAYBOY (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : TERPISAHNYA PERSAHABATAN
- CERITA DEWASA : DOLLY
- CERITA CINTA : PENGHIANAT CINTA
- CERITA DEWASA : Mata Cinta Kasih dari Surga
- CERITA CINTA : Karena Cinta Sejati, Vino Tidak Jadi Pergi
- CERITA CINTA : HUJAN DI BULAN JANUARI
- CERITA DEWASA : MALAM MINGGU KELABU
- CERITA DEWASA : DUA CINTA
- CERITA DEWASA : GELISAH SI CANTIK NESSA YANG PUTIH MULUS DAN SEXY
- CERITA DEWASA : MENCINTAIMU...
- CERITA DEWASA : MISTERI CINTA SESAAT
- CERITA DEWASA : ALWAYS IN LOVE
- CERITA DEWASA : BAU BADAN... OH NO !!!
- CERITA DEWASA : TERSENYUMLAH UNTUKKU
- CERITA DEWASA : KEPENTOK CINTA KAKAK KELAS
- CERITA DEWASA : GARA-GARA FACEBOOK (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : CARIIN GUE COWOK !!!

Sponsor Kami #2
Iklan Link
Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
CERITA ANAK : SEPEDA UNTUK AMIR
Last Updated on Sunday, 06 December 2009 17:21 Written by Administrator Sunday, 01 November 2009 23:32

Jam telah menunjukkan pukul 12 siang, Amir dan teman sekelasnya yang duduk di kelas 4 Sekolah Dasar bergegas pulang. Terlihat Amir dan teman sekelasnya, yaitu Budi dan Ijul menuju ke parkiran sepeda. Seperti biasanya, mereka bertiga pulang sekolah bersama.
Amir tidak punya sepeda, sehingga ia menumpang sepada Budi. Sepeda Budi memiliki bondengan di bagian belakangnya. Terkadang Amir juga suka menumpang sepeda Ijul.
Perjalanan pulang mereka melewati komplek perumahan. Tujuh menit kemudian mereka tiba di depan gapura Jalan Mangga. Budi dan Ijul tinggal di Jalan Mangga.
”Terima kasih ya Bud, sudah memberikan aku tumpangan,” kata Amir.
”Sama-sama. Kamu mau mampir enggak ke rumahku ?” tanya Budi.
”Terima kasih Bud, aku langsung pulang saja,” kata Amir.
”Mir, besok pagi kami tunggu kamu di rumah ya. Kita bareng lagi,” ajak Ijul.
”Baiklah, kalian baik sekali padaku.” kata Amir
Akhirnya Amir berpisah dengan Budi dan Ijul. Amir masih melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang ada di Jalan Garuda. Teriknya sinar matahari di siang itu mengiringi langkah kaki Amir. Amir membayangkan kalau seandainya ia punya sepeda, maka ia akan cepat tiba di rumah.
”Kalau aku punya sepeda, pastinya aku bisa lebih cepat sampai di rumah. Aku juga tidak harus menumpang setiap hari pada Budi ataupun Ijul,” demikian harapan Amir dalam hati.
Sepuluh menit kemudian Amir tiba di rumahnya. Amir melihat ayahnya sedang mempersiapkan bahan dagangannya untuk dimasukkan ke dalam gerobak. Amir memberi salam pada ayahnya, lalu berbincang sesaat, kemudian ia masuk ke dalam rumah.
”Eeeh, anak ibu sudah pulang....Kamu haus Mir ? Di meja makan ada es jeruk, tadi ibu baru beli di warung,” kata ibu.
”Wah aysik ! Ibu tahu saja kalau Amir sedang haus,” jawab Amir senang.
Setelah membersihkan diri dan makan siang, Amir ingin beristirahat siang. Dari jendela kamar tidurnya, Amir melihat ayahnya mendorong gerobak bakso menuju jalan. Ayahnya Amir meninggalkan rumah untuk berjualan bakso.
Amir sangat kagum pada ayahnya yang telah berjuang untuk memenuhi kehidupan hidup keluarga, dan juga membiayai keperluan sekolah dirinya dan Sari, kakak kandung Amir yang duduk di kelas 1 SMP. Amir pun tak pernah kecewa, kalau selama ini ayahnya belum bisa membelikannya sebuah sepeda yang ia inginkan sejak lama.
”Semoga dagangan bakso ayah hari ini laris,” itulah harapan Amir dalam hati.
Besok harinya, di pagi hari Amir mampir ke rumah Ijul, tak lama kemudian munculah Budi yang bertetangga dengan Ijul. Mereka bertiga segera berangkat ke sekolah. Hari ini Amir dibonceng sama Ijul.
Selama Amir menumpang naik sepeda Budi atau Ijul, terkadang Amir yang mengayuh sepeda, sedangkan Budi dan Ijul yang dibonceng.
Suatu ketika batangan sepeda Budi patah. Orang tua Budi belum mampu membawa sepeda Budi ke bengkel sepeda, karena biayanya lumayan besar.
Kini Amir tidak bisa menumpang sepeda lagi pada sepeda Ijul ataupun Budi, karena sekarang Budi yang menumpang sama sepeda Ijul, saat mereka berdua berangkat ataupun pulang sekolah.
Suatu ketika, sebuah perusahaan produk susu terkenal mengadakan lomba melukis untuk pelajar Sekolah Dasar yang ada di kota tempat tinggal Amir. Lomba dibagi dalam 2 kategori. Kategori A untuk pelajar kelas 1 SD sampai kelas 3 SD, sedangkan kategori B untuk pelajar kelas 4 SD sampai kelas 6 SD.
Beberapa sekolah mengirimkan perwakilannnya. Karena Amir dikenal mahir dalam melukis, maka Amir dan beberapa pelajar lain di sekolahnya, ditunjuk untuk mewakili sekolah mereka.
Pada hari Minggu pagi, perlombaan melukis dimulai, dan diselenggarakan di balai kota. Acara ini diikuti oleh beberapa pelajar dari beberapa Sekolah Dasar di kota tempat tinggal Amir. Amir dan beberapa peserta lainnya mulai melukis. Amir sangat mahir dalam melukis di atas kertas gambar yang disediakan oleh panitia lomba.
Akhirnya waktu melukis selesai, seluruh peserta mengumpulkan hasil lukisannya.
Seminggu berlalu. Seperti biasanya, di hari Senin pagi ini diadakan upacara bendera. Setelah upacara bendera selasai, Bapak Kepala sekolah ingin memberikan sebuah informasi.
”Bapak dan seluruh guru di sekolah ini sangat bangga dan bahagia, karena sekolah kita mendapat juara pertama lomba melukis untuk kategori B. Teman kalian, Amir yang mendapat juara tersebut. Selamat ya Nak Amir, bapak sangat bangga pada kamu,” demikian ucapan Bapak Kepala Sekolah yang didengar oleh seluruh guru dan pelajar di sekolah Amir.
Tepuk tangan membahana.
”Amir !...Amir !...Hidup Amir !” terdengar teriakan sebagian besar pelajar mengelu-elukan nama Amir.
Tiga hari kemudian, panitia lomba yang juga merupakan pihak sponsor lomba, datang ke sekolah Amir untuk memberikan sebuah sepeda baru dan tabungan kepada Amir. Ayah dan ibu Amir turut datang ke sekolah. Amir dan kedua orang tuanya sangat senang dan bersyukur atas pemberian hadiah tersebut.
Kini Amir memiliki sepeda baru. Amir berangkat dan pulang ke sekolah dengan mengendarai sepeda.
”Budi, selama sepeda kamu belum diperbaiki, kamu ikut saja bersamaku, naik sepedaku,” demikian ajakan Amir kepada Budi saat ada di sekolah.
Seperti biasanya, Amir, Budi dan Ijul berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Terlihat Budi dibonceng oleh Amir.
Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook
| < Prev | Next > |
|---|
| Cerita Cerita Lainnya : |
|---|
|
| Powered By relatedArticle |
CeritaCeritaKu.Com




