Sponsor Kami #2

Iklan Link

 

Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent

--------------------------

Buy Online

--------------------------

Kredit Mobil Jakarta

--------------------------

Jual Flash Disk

--------------------------

Baju Baju Baju

--------------------------

Busana Muslimah

--------------------------

Kredit Laptop

--------------------------

Lowongan Kerja

--------------------------

Buy Vacuum Cleaner

 --------------------------

Jual Laptop Murah

 --------------------------

Jual Tas Laptop

--------------------------

 Lelang Online

--------------------------

Hotels & Resorts Finder

 

Vemma Bisnis Online Automatis

Vemma Bisnis Online Automatis

CERITA DEWASA : PAARTWENE

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Cerita Dewasa - Cerita Dewasa

User Rating: / 1
PoorBest 
cerita dewasa
Kisah ini berawal di sebuah negeri yang damai dan indah, bernama Paartwene. Layaknya negeri dongeng, negeri ini mempunyai sebuah istana yang dipimpin oleh seorang raja dan ratu.

Pada saat itu, Ratu Mandy sedang hamil tua, kelahiran sang pewaris tahta tinggal menghitung hari saja. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, di suatu malam, sang ratu akhirnya melahirkan. Namun celakanya, sang ratu melahirkan putri kembar. Menurut kepercayaan Paartwene, melahirkan anak kembar merupakan sebuah pertanda buruk, sehingga sudah menjadi tradisi bagi istana, untuk membunuh salah satu dari anak kembar yang dilahirkan.

Mengetahui hal tersebut, hati sang ratu menjadi sangat sedih. Ia tidak rela bila harus membunuh salah satu dari anaknya yang sudah ia kandung. Akhirnya sang ratu memutuskan untuk merahasiakan kelahiran anaknya yang kembar itu, dan meminta agar sang bidan membawa salah satu dari anak kembar tersebut untuk dirawat. Meskipun berat namun sang bidan menyanggupi permintaan sang ratu.

Malam itu juga dikumandangkan berita bahagia mengenai kelahiran seorang putri bagi istana dan tentu saja berita ini membuat Raja Steeven dan seluruh negeri bahagia, kecuali sang ratu. Ratu Mandy masih bersedih karena ia harus merelakan salah satu putrinya pergi demi menyelamatkan hidup putri tercintanya.

Tujuh belas tahun kemudian, rahasia itu masih tertutup rapi. Dan kedua putri sudah tumbuh besar menjadi remaja yang cantik. Putri Anna yang tinggal di dalam istana, tumbuh menjadi perempuan yang cantik nan anggun, sedangkan putri Adeline yang tumbuh di luar istana, tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan tangguh. Sifat mereka memang berbeda, namun wajah mereka begitu mirip. Sehingga sang ratu sangat mengusahakan agar mereka berdua tidak bertemu, karena dapat mengundang kecurigaan siapapun.

Maka di hari ulang tahun mereka yang ke tujuh belas, Adeline dan sang bidan yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri, pergi ke sebuah pondok di hutan dengan alasan mereka akan pindah disana untuk sementara waktu, mencari suasana baru. Karena pada hari yang sama istana akan mengadakan sebuah perayaan besar sebagai pesta hari ulang tahun sang putri yang ke tujuh belas, di pesta itu pula Putri Anna akan tampil ke publik untuk pertama kalinya.

Sesampainya sang bidan dan Adelaine di pondok tersebut, mereka membuat kue ulang tahun bersama, Adelaine merasa bahagia, ia sama sekali tidak menaruh curiga dengan keadaan yang sebenarnya sudah diatur sebelumnya. Tepat di tengah malam saat Adelaine dan bidan sudah tertidur lelap, Adelaine terbangun dan melihat kilatan kembang api dari kejauhan. Karena penasaran, ia keluar dari pondok dan berusaha  mencari tahu asal kilatan indah itu. Langkah kakinya membawa Adelaine ke tepi bukit, sesampainya ia di sana, rasa penasaran Adelaine terjawab. Ternyata kilatan-kilatan itu berasal dari istana.

Di pagi hari Adelaine mengatakan bahwa ia melihat kilatan indah dari tepi bukit semalaman. Sang bidan terkejut, namun berusaha tenang dan tidak peduli. Tapi Adelaine lalu bertanya, ”Sebenarnya kemarin malam itu ada perayaan apa di istana, mengapa kita tidak ikut merayakannya?”. Pertanyaan itu dijawab dengan sedikit gugup oleh si bidan ”Karena kemarin adalah hari ulang tahun mu, aku rasa itu lebih penting dari pada perayaan di istana itu.” Setelah menjawab pertanyaan itu, sang bidan langsung pergi ke luar untuk mencari buah untuk mereka makan hari itu, dan tinggalah Adelaine seorang diri di pondok tersebut.

Entah mengapa Adelaine masih sangat penasaran dengan perayaan apa yang diadakan istana tadi malam, Adelaine pun pergi ke desa untuk mencari tahu. Namun di tengah perjalanan, Adelaine tersesat dan malah tiba di sebuah taman yang sangat indah. Yang tanpa diketahuinnya, taman tersebut adalah taman belakang istana.

Di hari yang sama, ternyata Putri Anna sedang berkuda di taman. Saat awal berpapasan, Adelaine dan Anna seperti becermin, mereka bingung karena wajah mereka begitu mirip. Anna yang mengenakan kerudung, langsung membukanya dan memastikan, bahwa mereka berdua itu nyata dan tidak sedang bermimpi. Setelah sama-sama terkejut, mereka akhirnya berbincang-bincang sejenak. Dari perbincangan itu, mereka terkejut karena ternyata mereka berulang tahun di hari yang sama pula, dan Adelaine mengetahui bahwa perayaan istana yang diadakan kemarin adalah perayaan ulang tahun sang putri.

Namun mereka tidak merasa curiga dengan setiap kesamaan yang mereka miliki. Mereka menganggap hal itu sebagai sebuah kebetulan, dan melalui obrolan singkat itu, mereka menjadi sangat akrab bahkan berjanji untuk bertemu kembali.

Sebelum sang bidan tiba, Adelaine sudah sampai di pondok terlebih dahulu sehingga tidak mengundang rasa curiga.  Di setiap pagi, minggu ke tiga tepat di hari berkuda, Anna dan Adelaine bertemu dan bermain bersama. Setelah cukup lama mengenal satu sama lain, Anna mengundang Adelaine untuk makan bersamanya di dalam istana, sekaligus bermaksud mengenalkannya dengan sang raja dan ratu. Sebelum mengenalkan Adelaine, Anna menceritakan kepada ibunya, Ratu Mandy bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengannya di taman belakang saat ia sedang berkuda, dan bermaksud membawanya ke istana untuk menjamunya makan malam.

Ratu Mandy sangat terkejut mendengar hal itu, ia segera mengatur pertemuan dengan sang bidan, dan memerintahkan untuk menjauhkan keduanya secepat mungkin. Sang bidan pun meminta Adelaine untuk ikut pergi bersamanya ke negeri seberang. Sementara sang ratu meminta Anna untuk tidak bertemu lagi dengan Adelaine. Tapi Adelaine dan Anna menolak, mereka merasa ada yang tidak beres, dan sepakat untuk melarikan diri bersama.

Mereka berjanji untuk bertemu di perbatasan desa. Mengetahui bahwa Anna melarikan diri dari istana, sang ratu bersama dengan para pengawal kepercayaanya pergi mencari mereka berdua. Setelah seharian mencari, akhirnya berhasil  menemukan kedua putri itu. Lalu akhirnya sang ratu memutuskan untuk menceritakan kenyataanya pada kedua putrinya dan mengajak mereka ke suatu goa. Di dalam goa itu terdapat sebuah batu yang bersinar. Batu tersebut adalah batu harapan, dimana setiap anak kembar harus dibunuh di depan batu ini sebagai tanda perdamaian dengan alam semesta. Sang ratu memutuskan untuk memberi tahu mereka, alasan memisahkan mereka berdua saat dilahirkan dulu. Anna dan Adelaine tentu merasa sangat sedih, karena mereka sudah sangat saling menyayangi dan tidak bisa dipisahkan.

Sang ratu pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, semuanya seperti sudah ditakdirkan, dan mempertahankan mereka berdua untuk tetap hidup adalah sebuah kuputusan yang salah dan melanggar hukum.

Pada saat itu pula, sang ratu akhirnya berdoa dengan para leluhur meminta petunjuk, ia menyerahkan kedua putrinya itu, dan merelakan salah satu dari mereka untuk diambil darinya. Sebelum itu, Ratu Mandy memeluk kedua putrinya itu, seakan tidak rela melepaskan mereka. Sambil tetap memeluk kedua putrinya itu, mereka bertiga berdiri di depan batu harapan, mereka memejamkan mata, tidak ingin melihat apa yang terjadi kelak. Disaat bersamaan muncul kilatan-kilatan dari batu tersebut yang meyambar. Setelah kilatan itu mereda, perlahan mereka membuka mata.

Tapi ternyata, tidak ada satupun dari mereka yang pergi. Mereka tetap bertiga tanpa kurang satu apapun. Ternyata para leluhur merasa tersentuh dengan rasa cinta yang dimiliki oleh kedua putri kembar tersebut. Sehingga memutuskan agar mereka tetap hidup, dan masing-masing, salah satu lengan mereka diberi tanda kilatan yang menandakan agar mereka dibiarkan hidup.

Adelaine dan Anna hidup bahagia bersama di istana. Tidak ada musibah yang terjadi di Paartwene karena kehadiran putri kembar itu. Semenjak saat itu hukum di Paartwene berubah, kehadiran anak kembar tidak lagi menjadi sebuah masalah besar. Dan dibuatlah patung Anna dan Adelaine di pusat desa sebagai tanda perdamaian dan kasih.

Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook

DbClix




Cerita Cerita Lainnya :

Powered By relatedArticle

CeritaCeritaKu.Com TrafficRevenue Get paid To Promote at any Location

GTranslate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Sponsor Kami #1

Custom Tags Cloud