Cerita Terbaru
- CERITA CINTA : KEKASIH TAK SAMPAI
- CERITA DEWASA : PAARTWENE
- CERITA CINTA : PURNAMA DI PELUPUK MATA
- CERITA DEWASA : CINTA BISU
- CERITA DEWASA : Cinta Sejati
- CERITA DEWASA : Tinggal Kenangan
- CERITA DEWASA : Terpisahnya Persabatan
- CERITA DEWASA : Penghianat Cinta
- CERITA DEWASA : Kenapa Kau Ambil Ke Dua Orang Tua Ku
- CERITA DEWASA : TAKDIR (True Story)
- CERITA DEWASA : JANJI MANIS
- CERITA CINTA : AKU INGIN DIA KEMBALI
- CERITA CINTA : DOA CINDY KEPADA MANTAN PACAR PLAYBOY (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : TERPISAHNYA PERSAHABATAN
- CERITA DEWASA : DOLLY
- CERITA CINTA : PENGHIANAT CINTA
- CERITA DEWASA : Mata Cinta Kasih dari Surga
- CERITA CINTA : Karena Cinta Sejati, Vino Tidak Jadi Pergi
- CERITA CINTA : HUJAN DI BULAN JANUARI
- CERITA DEWASA : MALAM MINGGU KELABU
- CERITA DEWASA : DUA CINTA
- CERITA DEWASA : GELISAH SI CANTIK NESSA YANG PUTIH MULUS DAN SEXY
- CERITA DEWASA : MENCINTAIMU...
- CERITA DEWASA : MISTERI CINTA SESAAT
- CERITA DEWASA : ALWAYS IN LOVE
- CERITA DEWASA : BAU BADAN... OH NO !!!
- CERITA DEWASA : TERSENYUMLAH UNTUKKU
- CERITA DEWASA : KEPENTOK CINTA KAKAK KELAS
- CERITA DEWASA : GARA-GARA FACEBOOK (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : CARIIN GUE COWOK !!!
AdsSpy: 18 sites by this AdSense ID 

Sponsor Kami #2
Iklan Link
Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
CERITA DEWASA : Mata Cinta Kasih dari Surga
Last Updated on Tuesday, 30 November 1999 07:00 Written by Administrator Monday, 14 February 2011 13:48
Galih tidak pernah bersyukur dengan kehidupannya, ia selalu mengeluh karena hidupnya yang jauh dari berkecukupan dan juga merasa malu karena memiliki ibu yang buta. Namun sang ibu tetap menjalani hidup dengan rasa syukur, meski banyak orang yang mencelanya termasuk anaknya sendiri.
Suatu hari di sekolah, Galih akan diadakan hari ibu dan mengharuskan setiap murid untuk datang bersama ibu mereka. Namun Galih malu jika harus datang ke sekolah bersama ibunya yang buta, sehingga Galih memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perayaan tersebut.
Pada hari perayaan, si Ibu bertanya pada anaknya, “Tidak pergi ke sekolah?”, lalu Galih menjawab ”Untuk apa?”. ”Ibu bisa menemanimu datang untuk perayaan hari ibu, kita pergi ke sekolah bersama..” jawab ibu dengan nada yang halus. ”Tidak perlu! Saya tidak mau ibu ikut ke perayaan..” sahut Galih dengan ketus. ”Kenapa?” tanya ibu. ”Galih malu bu! Malu punya ibu yang buta seperti ibu!”. Mendengar perkataan anaknya, sang ibu hanya bisa menangis lalu berkata ”Apa yang membuat kamu malu?”. Perkataan sang ibu tersebut dibalas dengan hentakan dan sahutan keras dari Galih ”Pokoknya Galih malu, sudah miskin, punya Ibu cacat! Galih tidak mau hidup seperti ini, Bu!”. Setelah pertengkaran itu, Galih pergi meninggalkan rumah, ia tidak peduli dengan ibunya yang menangis-nangis sambil memohon agar ia tidak pergi.
Singkat cerita sudah 10 tahun sejak Galih pergi meninggalkan rumah, Galih berhasil menjadi orang yang memiliki hidup berkecukupan, bahkan sudah lebih dari cukup.
Suatu hari, Galih teringat dengan kehidupan lamanya dan juga ibunya. Lalu ia pergi ke daerah tempat tinggalnya yang lama, bermaksud ingin melihat keadaan ibu yang telah ditinggalkannya 10 tahun yang lalu.
Sesampainya ia di rumah lamanya, Galih tidak mendapatkan apapun kecuali rumahnya yang kosong dan sudah usang, seperti sudah lama ditinggalkan. Lalu Galih bertanya kepada seorang kakek, tetangga lamanya yang juga tinggal di dekat rumah. Melihat Galih yang sudah dewasa, sang kakek tidak mengenalinya dan hanya diam memandang Galih, apalagi penampilan Galih saat itu sudah menjadi orang kaya raya. ”Maaf kek, saya ingin tanya... Ibu yang tinggal disebelah rumah kakek dimana sekarang?” Tanya Galih kepada si kakek.
Setelah memandangi Galih lebih lama, kakek itu memanggilnya ”Galih? Apa kamu Galih?”. Galih terdiam dan tertunduk, lalu menjawab ”Kemana ibu, Kek?”. Mendengar pertanyaan itu lagi, sang kakek bertambah yakin bahwa pria di hadapannya itu adalah Galih. ”Kemana saja kau Galih, Ibumu setiap hari menangis memanggil namamu..”. Setelah mendengar perkataan si kakek, Galih bertanya lagi ”Ibu ada dimana? Bagaimana keadaannya kek?”.
Setelah lama terus bertanya tanpa ada jawaban dari sang kakek, Galih kemudian berdiri dan beranjak pergi meninggalkan sang kakek. Namun sang kakek berkata ”Satu-satunya yang ditinggalkan Ibumu di dunia ini adalah matamu, Galih”. Perkataan kakek tersebut menghentikan langkah Galih yang beranjak pergi. Galih pun berbalik dan memandang sang kakek, berharap kakek akan meneruskan perkartaannya lagi.
Lalu akhirnya sang kakek menceritakaan kejadian 25 tahun yang lalu, saat ayahnya meninggal. ”Waktu itu, kalian sekeluarga sedang pergi untuk pulang ke kampung halaman. Saat akhirnya ayahmu harus pergi meninggalkan kalian berdua karena kecelakaan.” Galih pun diam dan mendengarkan cerita kakek itu. ”Beruntung kau dan ibumu bisa selamat, meskipun kau harus kehilangan matamu karena kecelakaan itu.. Tapi ibumu dengan ikhlas menyerahkan matanya, agar kau bisa melihat lagi dan hidup dengan normal.” lanjut sang kakek. Perkataan kakek itu membuat Galih bertanya-tanya, ia bingung ”Maksud kakek, siapa?”. Kakek itupun menjawab, ”Kamu Galih... Ibumu buta, karena ia memberikan bola matanya untukmu karena kecelakaan itu.”
Mendengar perkataan sang kakek, Galih pun terkejut dan langsung menangis, ia tidak percaya dengan semua perkataan kakek tersebut. ”Tidak mungkin! Saya akan bertanya langsung pada ibu..” Lalu kakek itu langsung berkata lagi ”Saya akan mengantarmu kepada ibumu.” Lalu kakek itu pergi bersama Galih ke suatu tempat yang tidak diketahui Galih. Ternyata Galih diajak ke sebuah kuburan yang tak jauh dengan tempat tinggalnya. ”Kenapa kita kesini, Kek?” tanya Galih dengan persaan bingung. ”Bukankah tadi kau bilang, kau ingin bertemu ibumu?”. Galih pun bertanya lagi ”Lalu dimana ibuku?”. Sang kakek lalu menunjuk ke arah sebuah kuburan kecil di dekat pohon yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, ”Makam ibumu ada di sana.” Galih masih tidak mau percaya, ia bertanya lagi tentang keberadaan ibunya. Lalu sang kakek berkata ”Ibumu sudah meninggal 5 tahun yang lalu.” Pada saat itu juga Galih benar-benar merasa terpukul, ia tidak sempat berada disisi ibunya di saat-saat terakhirnya. Bahkan kata-kata yang terakhir kali ia ucapkan kepada ibunya, adalah kata-kata yang sangat menyakitkan. Hari itu galih hanya bisa bersujud, menangis dihadapan makam ibunya dan meminta maaf, menyesali semua perbuatanya.
Seumur hidupnya, Galih tidak pernah berterima kasih kepada ibu yang telah melahirkan, membesarkan, merawat serta mengorbankan matanya demi dirinya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa, ibu yang selama ini dicelanya, ternyata buta demi dirinya.
Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook
| < Prev | Next > |
|---|
CeritaCeritaKu.Com




