Sponsor Kami #2

Iklan Link

 

Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent

--------------------------

Buy Online

--------------------------

Kredit Mobil Jakarta

--------------------------

Jual Flash Disk

--------------------------

Baju Baju Baju

--------------------------

Busana Muslimah

--------------------------

Kredit Laptop

--------------------------

Lowongan Kerja

--------------------------

Buy Vacuum Cleaner

 --------------------------

Jual Laptop Murah

 --------------------------

Jual Tas Laptop

--------------------------

 Lelang Online

--------------------------

Hotels & Resorts Finder

 

Vemma Bisnis Online Automatis

Vemma Bisnis Online Automatis

CERITA DEWASA : MALAM MINGGU KELABU

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Cerita Dewasa - Cerita Dewasa

User Rating: / 5
PoorBest 

“Waah…besok sudah tanggal 27 Oktober. Berarti sebentar lagi gajian. Iyakan Puj?”tanya Siska

“Apaa?”kata Puja sambil menatap keluar jendela.

“Besok udah tanggal 27. Berarti satu hari lagi kita gajian dong?”tanya Siska sambil menunjuk ke kalender.

Raut wajah Puja mendadak pucat dan memutar posisi duduknya menghadap Siska. “Masa Sih?”

Siskapun memberikan kalender kepada Puja. “Nih! Kamu lihat sendiri.”

“Berarti besok Gioli me…,”ucap Puja terputus saat terdengar suara ketukan dari balik pintu.

“Iya masuk!”teriak Puja dari dalam.

Setelah mendengar suara dari dalam, Anita membuka pintu dan melangkah menuju meja kerja Puja. “Maaf kak Siska, anda sudah ditunggu oleh Pak Hendro di bawah.”

“Oke! Sebentar lagi saya turun. Terima kasih ya Anita,”kata Siska sambil melambaikan tangan ke arah Anita yang berprofesi sebagai reseptionis.

“Mari Kak!”kata Anita sebelum meninggalkan ruang kerja Puja.

“Terima kasih,”kata Puja kepada Anita.

Setelah Anita menutup pintu, Siska kembali menanyakan soal Gioli kepada Puja.

“Kalau aku enggak salah dengar kamu bilang Gioli me...me…,”ujar Siska dengan kerut didahinya.

Puja beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Siska. “Perasaan aku enggak bila apa-apa? Itu Cuma perasaan kamu doang kali,”elak Puja memalingkan wajahnya dari hadapan Siska yang sedang menatap tajam kearah Puja.

“Apa jangan-jangan telinga aku yang soak karena sering di sumpel headset, ya Puj?”tanya Siska dengan raut wajah bingung.

“Entahlah!”jawab Puja sambil mengangkat kedua bahunya.

Sesaat suasana berubah haru biru ketika Siska mengucapkan sesuatu ke pada Puja.”Thank’s ya girls, kalau bukan karena kamu yang mencomblangi aku dan Hendro. Mungkin sampai sekarang aku masih menjomblo.”

“Ya udah…cepet temuin Hendro! Kamu mau jadi jomblo lagi kalau kamu masih disini?”usir Puja.

Siska tidak memperdulikan perintah Puja tapi Siska langsung memeluk sahabatnya dengan erat hingga Puja sulit bernapas. Setelah Puja mendaratkan kecupan manis dikening Puja, ia bergegas pergi dari hadapan Puja yang terengah-engah akibat pelukan Siska beberapa detik yang lalu.

Sebelum Puja merapikan meja kerjanya yang berserakkan dengan kertas-kertas kerja, file-file yang berisi pembukuan, juga sebotol air mineral yang ada diatas kertas foto copian, Puja perlahan mengatur napasnya dengan menghirup lalu menghembuskannya.

Pujapun bergegas merapikan semua benda-benda yang tergeletak diatas meja kerjanya. Saat Puja sedang memindahkan sebotol air mineral kesamping laptopnya, tiba-tiba terdengar langkah yang memburu dari luar. Seketika Puja tersentak oleh suara sepatu pantopel yang dipakai Siska.

Pujapun memutar tubuhnya membelakangi meja kerjanya dan mendapati sesosok wanita yang mengenakan gaun empire warna coklat muda bermotif bunga yang terkesan feminim juga menampakkan kedewasan seorang wanita, ditambah tas yang bergelantung dilengannya sambil tersenyum kearah Puja,”Puj? Temenin aku yuk!”ajak Siska dengan mata berharap.

Puja melangkah mendekati Siska yang berjarak dua jengkal dari posisi Puja berdiri. Lalu dengan lembut Puja mengantarkan Siska sampai didepan pintu. Sebelum siska pergi, Puja membisikkan sesuatu ketelinga Siska,”Sis! Aku yakin kamu bisa,”

Siska menggeleng-gelengkan kepalannya,”Aku enggak bisa Puj?” “Kamu mau ya…acara ngedate aku sama Hendro gagal. Kamu tahu sendiri kalau ini adalah pertama kalinya aku ngedate sama cowok.Please Puj, tolong aku?”ucap Siska seraya memohon kepada Puja.

“Baiklah kalau begitu tapi kemungkinan gajian bulan ini diundur. Soalnya aku belum selesai menyelesaikan pembukuan ini,”ujar Puja sambil memperlihatkan lembaran-lembaran file-file pembukuan dilayar laptopnya kepada Siska.

Bibir Siska menengut kearah Puja. Kepalanya dipenuhi kecemasan yang ingin meledak. Puja bener-bener bikin aku kena serangan jantung mendadak? Kalau sampe bulan ini gajian aku diundur, gimana sama sewa apartemen aku, cicilan mobil, belum lagi tunggakkan kartu kreditnya? Aduuh! Aku bisa jadi gembel mendadak kalau tetap memaksa Puja ikut ngedate sama aku?

Ya Tuhan…tolong aku!! Hatinya berdesir. Siskapun membuyarkan lamunannya dan mengalah kepada keadaan.

“Baiklah teman, Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sadar bahwa orang akunting paling pandai menjepit lawannya,”sindir Siska sebelum pergi.

Puja hanya tersenyum menanggapi sindiran Siska. “Sahabatku yang melankolis,”ujar Puja sambil mendaratkan kedua tangannya dibahu sahabatnya dari belakang. “Aku sangat berterima kasih karena kamu mau membagi kebahagiaan denganku. Tapi…karena waktunya enggak tepat?”ujar Puja.

“Aku cuma bisa bilang,’you are the best friend,Puj’,”ujar Siska. “Oya ada satu lagi, kamu sudah dapat undangan dari Gioli?”

“Undangan apa?”tanya Puja.

“Masa sih kamu belum dikasih undangan pernikahan Gioli?”ujar Siska sambil tangannya merogoh isi tasnya dan mengambil sebuah undangan berpita merah yang diberikan kepada Puja.

Puja seperti disambar petir dimalam hari. Tubuhnya terasa kaku, wajahnya pucat pasih dan kepalanya terasa pening saat undangan pernikahan Gioli berada digengaman tangannya. Hatinya menjerit. Ini enggak mungkin!

“Puja kamu baik-baik saja kan?”tanya Siska cemas.

Puja tidak mendengar pangilan Siska tetapi pikirannya melayang jauh kebelakang saat dirinya secara tidak langsung mendengar anak OB (Office Boy) membicarakan pernikahan Gioli di ruang Pantry ketika dirinya ingin meminta dibuatkan secangkir kopi.

Awalnya Puja berharap berita itu hanya gossip dikalangan anak OB. Namun mendengar berita pernikahan Gioli terlontar dari mulut sahabatnya sendiri, membuat Puja tidak bisa membendung air matanya menetes. Itu membuat Siska semakin cemas.

“Puja, are you oke?”tanya Siska melihat sahabatnya berliang air mata membasahi wajah bundarnya.

“Aku hanya terharu mendengarnya,”kata Puja sambil berusaha menghapus butiran-butiran halus yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Mengapa sepertinya Puja sedang menyembunyikan sesuatu dariku? bisik hati Siska.

“Kamu tidak percaya?”tanya Puja yang menyadari keraguan yang terpancar dari wajah sahabatnya.

Buru-buru Siska menyangkalnya,”Ooh…tentu saja aku selalu percaya, padamu?”

“Oooh?”

“Em…memang ada sesuatu yang…?”selidik Siska.

“Ada.”

Siska semakin penasaran. “Apa?”tanya Siska dengan semangat.

“Masalahnya ada pada diri kamu sendiri,”kata Puja yang bertele-tele.

“Aku?”sentak Siska sambil jari telunjuknya mengarah kedadanya.

“Iya?”jawab Puja menganggut-anggutkan kepalanya. Lalu Puja mengatakan sesuatu yang membuat Siska terkejut,”Kamu lupa ya? Kalau Hendro sedang menunggu kamu dibawah.”

“Ya Tuhan! Kenapa aku bisa lupa. Ooh…guys terima kasih, lagi-lagi kamu menyelamatkan aku. Aku enggak mau membuat Hendro terlalu lama menunggu, sebaiknya aku pergi !”ujar Siska yang langsung melesat pergi bak roket yang meluncur.

Memang sebaiknya begitu, sahabatku? Hatinya menepis.

Setelah Siska pergi. Puja hanya bisa terpaku memandang lurus ke arah pintu melihat kepergian sahabatnya. Sekejap sosok Siska menghilang dari balik pintu. Pujapun terduduk lemas. Pandangannya terlihat kosong. Kesediahan terpancar di kedua bola matanya yang berwarna coklat. Butiran-butiran halus menggenanggi pelupuk matanya. Matanya tak sanggup lagi membendung butiran-butiran halus yang semakin lama semakin deras mengalir. Puja meresapi setiap tetes air matanya yang membasahi wajahnya. Sesekali Puja mengusap air matanya dengan tissue yang berada disamping laptopnya. Namun terkadang membiarkan air matanya, tumpah mengenai blus bermotif kotak yang dikenakannya.

Malam turun perlahan. Semakin malam, udara AC menusuk tulang rusuknya. Namun dinginnya udara AC tidak membuat Puja merasakannya. Puja seperti mayat hidup yang terhempas di dunia lain.

***

Puja menyadari cintanya terhadap Gioli hanya sepihak. Puja hanya bisa memendam perasaan cintanya yang bersemayam abadi di lubuk hatinya. Keputusan untuk menyembunyikan perasaannya terhadap Gioli, dipicu oleh perbedaan keyakinan diantara mereka. Pujapun tak sanggup untuk menghapus rasa cintanya terhadap Gioli. Padahal banyak laki-laki yang ingin menjadi kekasihnya.

Berbagai cara dilakukan Puja untuk menghapus rasa cintanya terhadap Gioli. Dari menghindari bertatap muka langsung dengan Gioli, sampai menjalin hubungan dengan Fiko teman yang dikenalkan Siska.Namun hubungan yang terjalin diantara Fiko dan Puja kandas ditengah jalan. Puja tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Fiko. Karena sampai detik ini, dirinya masih mencintai Gioli.

Sejak lamaran Puja sebagai Staf Akunting, mendapat panggilan dari perusahaan Terbit Terang. Esok harinya Puja datang keperusahaan Terbit Terang untuk diinterview oleh kepala HRD. Setelah melalui beberapa tes tertulis sampai lisan, akhirnya Puja diterima sebagai Staf Akunting. Tetapi sesuatu terjadi pada diri Puja. Ada sesuatu yang membuat hatinya berdebar kencang, setiap dirinya bertatap muka dengan Gioli yang berprofesi sebagai kepala HRD.

Rasa debaran jantung yang kencang, aliran darah yang mengalir deras, dan rasa ingin selalu disampingnya, menggelayuti seisi renung hatinya. Sebelumnya Puja sempat berhubungan dengan lelaki, tetapi dirinya belum pernah merasakan hal seperti ini. Satu senyuman yang dilemparkan oleh Gioli kepadanya, membuat hatinya tentram, damai dan sulit untuk digambarkan.

Puja sadar bahwa dirinya jatuh cinta kepada Gioli. Maka dari itu, Puja menarik diri dari laki-laki yang menyukainya. Puja tidak mau menyakiti perasaan laki-laki yang mencintainya karena dirinya tidak bisa memberikan hatinya seutuhnya. Apalagi Gioli tidak pernah menyatakan cinta kepada Puja. Seharusnya Puja dapat menghapus Gioli dari hati dan pikirannya. Tetapi sebuah senyuman yang diberikan Gioli kepada Puja, membuat dirinya berharap kembali. Dan kini Puja harus menelan pil pahit dari mencintai seseorang yang bertepuk sebelah tangan. Tak pernah terbayangkan oleh Puja bahwa akhirnya akan seperti ini. Seandainya waktu dapat berputar kembali, Puja memilih untuk tidak dipertemukan dengan Gioli. Kalau hanya membuat hatinya hancur berkeping-keping seperti malam minggu ini.

***

Puja merasa dadanya sesak dan sakit seperti ada benda asing yang masuk mencabik-cabik uluh hatinya. Sehingga Puja kesulitan bernapas. Puja menggeser kursinya kearah jendela, berharap bisa mengobati sakit didadanya. Dibukanya pelah tirai dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegangi dadanya. Pemandangan yang disuguhkan dari balik jendela membuat Puja sedikit melupakan kesedihannya.

Bioskop yang dibuatnya sendiri dengan ruangan yang dibiarkan gelap gulita dengan sedikit cahaya dari celah pintu yang dibiarkan terbuka sedikit, ditambah udara AC yang menyelimuti ruang kerjanya, sekilas hampir menyerupai bioskop sungguhan.

Dengan kisah nyata yang disuguhkan oleh pemandangan jalan raya dari balik jendela kerjanya. Pujapun bersandar dibahu kursi meja kerjanya, sambil memandang dari balik jendela. Suasana malam kota Jakarta yang padat merayap, menjadi pemandangan yang sudah biasa. Kerap kali suara kelakson menjadi musik yang sering terdengar menemani para pengemudi yang menunggu lampu hijau menyala.

Selain itu pemandangan yang sangat menyentuh sanubari Puja adalah ketika anak kecil yang seharusnya ada di rumah menikmati acara televise, harus berkeliaran dijalan demi mencari rezeki dengan menyanyikan lagu-lagu band yang terkenal seperti ungu, peterpen bahkan lagu pelangi ciptaan Tuhan, kerap mengisi kebisingan jalan raya.

Semua pemandangan yang terlihat dari balik jendela kerjanya, membuat Puja meneteskan air matanya kembali, menyaksikan anak-anak dengan pakaian compang-camping dan peralatan yang dibawa seadanya  yaitu kecekan dari tutup botol minuman atau tepukan kedua tangan menjadi alat musik yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan, untuk menghibur para pengemudi yang sudah bosan menunggu lampu hijau menyala.

Tak jarang para pengemudi mengabaikan memberi imbalan kepada anak-anak yang bernyanyi, yang terdengar seperti angin rebut. Tetapi anak-anak itu tetap terlihat senang dan sesekali kekecewaan yang dirasakan anak-anak dengan menyoraki para pengemudi. Lalu sebuah senyum kepuasan terpancar jelas di wajah mereka.

Bagi mereka, lampu lalu lintas merupakan berkah yang takk terhitung harganya. Disaat lampu merah menyala, mereka bergerombolan menyerbu kendaraan yang sedang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Walapun tidak banyak orang yang memberikan uang kepada mereka, anak-anak jalanan tetap bersemangat menjalani hidup ini.

Puja yang melihat tingkah laku anak-anak jalanan dari balik jendelanya, terharu tetapi sesaat tertawa terpingkal-pingkal karena di adegan itu ada salah satu anak kecil tersungkur dijalan lalu bangkit berdiri tanpa merasakan sakit sedikitpun.

Sebuah suara yang khas terdengar ditelinga puja, membuat Puja berhenti tertawa.

“Memangnya ada yang lucu, ya?”tanya Gioli.

Mata Puja terbelalak. Pria yang bertubuh tinggi, berwajah cina yang mengenakan kemeja pendek berwarna putih dengan bawahan celana panjang, berdiri tegak di hadapan Puja.

Seketika Puja bangkit dari tempat duduknya sambil mempersilahkan Gioli untuk duduk.

“Hai! Apa kabar? Em…silahkan duduk,”kata Puja yang terdengar seperti orang yang baru mengenal.

Namun Gioli menolak tetapi menghampiri Puja yang berdiri kaku dihadapannya. Seketika Puja menggeser sedikit tubuhnya menyamping saat Gioli mendekati jendela.

“Apanya yang lucu? Enggak ada apa-apa, cuma macet?”tanya Gioli melirik kearah Puja.

“Em…sudah lupakan saja. Mungkin karena pekerjaan yang belum selesai. Aku jadi stress,”ujar Puja sambil menguntir-nguntir ujung rambutnya dengan jari telunjuknya.

Puja berusaha bersikap senormal mungkin dihadapan Gioli tetapi Gioli seraya mendekatkan tubuhnya kearah Puja. Hingga Puja terduduk lemas dikursinya,saat Gioli membungkukkan sedikit badannya ke arah laptop yang menyala.

“Gimana mau selesai kalau enggak dikerjakan?”ujar Gioli sambil tersenyum.

“Oooh…iya,”jawab Puja polos.

Didekat Gioli, Puja menjadi manusia yang pendiam. Tak seperti biasanya didepan teman-temannya, Puja terkenal dengan omongannya yang tidak pernah bisa dikalahkan.

Jangan-jangan Gioli mau memberikan surat undangan pernikahannya? Hatinya berdesir.

            “Coba besok bukan hari pernikahanku, mungkin mala mini aku bisa lembur untuk membantu kamu,”ujar Gioli dengan tulus.

            Puja sudah siap menghadapi kemungkinan yang terpuruk saat dirinya mendapatkan undangan pernikahan Gioli langsung darinya.

            “Oooh…enggak apa-apa.”

            “Puja kamu enggak mau tanya, kenapa malam ini aku ada disini?”kata Gioli sambil menatap kearah Puja.

            “Oooh…kenapa?”terdengar datar.

            “Laptop aku ketinggalan dikantor. Terus pas aku lewat ruangan kamu, pintu kerjamu terbuka dan kamu lagi tertawa sendiri. Dan mau kasih undangan ini kekamu, soalnya aku jarang ketemu kamu akhir-akhir ini,”kata Gioli panjang lebar sambil menyodorkan undangan berwarna pink ke arah Puja.

            Dengan berat hati Puja menerima undangan itu. Sebelum mengucapkan terima kasih, ponsel Gioli berbunyi dan Giolipun segera mengangkatnya.

Saat melihat layar ponsel yang menyala, Giolipun tersenyum manis, “Iya Baby, sabar ya…aku sekarang ada dilift,”jawabnya dengan lembut.

            Puja sudah tidak memiliki harapan lagi saat melihat kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajah Gioli. Sebelum Gioli pergi, sebuah pelukan melingkar ditubuh Puja. Puja tercenang dan napasnya terhenti sejenak.

            “Aku harap kamu bisa datang, sahabatku?”bisik Gioli ditelinga Puja.

            Puja hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bibir terkunci.

            Setelah berpamitan, Gioli bergegas pergi dari hadapan Puja. Puja hanya bisa melambaikan tangan ke arah Gioli dan membiarkan sosok Gioli menghilang dari balik pintu.

            Sesaat Puja memandangi undangan pernikahan Gioli yang tergeletak di atas meja kerjanya. Pujapun menyadari, terkadang apa yang menjadi impian kita tidak selalu dapat kita wujudkan dan membuat orang lain senang, itu jauh membahagiakan hati kita. Walaupun malam minggu Puja harus kelabu tetapi masih ada hari esok. Lalu Pujapun kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang ada dihadapannya.

 

 

 

 

 

 

 


Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook

DbClix




Cerita Cerita Lainnya :

Powered By relatedArticle

CeritaCeritaKu.Com TrafficRevenue Get paid To Promote at any Location

GTranslate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Sponsor Kami #1

Custom Tags Cloud