Cerita Terbaru
- CERITA CINTA : KEKASIH TAK SAMPAI
- CERITA DEWASA : PAARTWENE
- CERITA CINTA : PURNAMA DI PELUPUK MATA
- CERITA DEWASA : CINTA BISU
- CERITA DEWASA : Cinta Sejati
- CERITA DEWASA : Tinggal Kenangan
- CERITA DEWASA : Terpisahnya Persabatan
- CERITA DEWASA : Penghianat Cinta
- CERITA DEWASA : Kenapa Kau Ambil Ke Dua Orang Tua Ku
- CERITA DEWASA : TAKDIR (True Story)
- CERITA DEWASA : JANJI MANIS
- CERITA CINTA : AKU INGIN DIA KEMBALI
- CERITA CINTA : DOA CINDY KEPADA MANTAN PACAR PLAYBOY (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : TERPISAHNYA PERSAHABATAN
- CERITA DEWASA : DOLLY
- CERITA CINTA : PENGHIANAT CINTA
- CERITA DEWASA : Mata Cinta Kasih dari Surga
- CERITA CINTA : Karena Cinta Sejati, Vino Tidak Jadi Pergi
- CERITA CINTA : HUJAN DI BULAN JANUARI
- CERITA DEWASA : MALAM MINGGU KELABU
- CERITA DEWASA : DUA CINTA
- CERITA DEWASA : GELISAH SI CANTIK NESSA YANG PUTIH MULUS DAN SEXY
- CERITA DEWASA : MENCINTAIMU...
- CERITA DEWASA : MISTERI CINTA SESAAT
- CERITA DEWASA : ALWAYS IN LOVE
- CERITA DEWASA : BAU BADAN... OH NO !!!
- CERITA DEWASA : TERSENYUMLAH UNTUKKU
- CERITA DEWASA : KEPENTOK CINTA KAKAK KELAS
- CERITA DEWASA : GARA-GARA FACEBOOK (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : CARIIN GUE COWOK !!!

Sponsor Kami #2
Iklan Link
Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
CERITA DEWASA : DUA CINTA
Last Updated on Saturday, 16 October 2010 17:42 Written by Administrator Saturday, 16 October 2010 17:25
Sesuatu terjadi didalam hatiku. Hatiku berdetak tak menentu saat aku bersamanya. Waktu terasa berjalan cepat bila aku bersamanya. Aku seperti kembali kemasa-masa remaja dahulu. Saat baru mengenal cinta. Kini aku kembali jatuh cinta pada seorang pria yang seharusnya tidak ada dihatiku.
Tapi kini ada dua cinta dalam satu hati. Aku tak menyangka akan seperti ini. Padahal aku sangat membenci perselingkuhan tapi yang sekarang aku alami malah sebaliknya. Aku mendua disaat dirinya meninggalkan aku untuk belajar di Belanda.
Dan saat pangeran tampanku kembali, aku dihadapkan pada pilihan sulit untuk memilih diantara mereka berdua. Ini adalah pilihan yang sangat sulit. Rekim medikan adalah cowok yang tampan, kaya, pintar dan misterius. Untuk mendapatkan hatinya, aku harus mengalahkan ratusan wanita yang mengejarnya. Tapi hanya aku yang mampu singgah dihatinya. Dan kini aku dan Rekim menjalani pacaran jarak jauh.
Awalnya aku sanggup untuk menjalaninya. Namun seiring berjalannya waktu, aku merasa kesepian. Disaat aku sedang membutuhkan dirinya untuk mengusir kegundahan didalam hatiku, dia tidak ada. Aku juga tidak ingin mengganggunya dengan masalah yang membelengguku ini. Aku ingin Rekim bangga memilihku menjadi bunga hati yang tumbuh dihatinya.
Seiring berjalannya waktu, seorang pria manis, baik hati, humoris dan romantis menyembuhkan rasa kesunyian yang mengisi hati ini. Lionier pantoun adalah mahasiswa baru jurusan Informatika Komputer pindahan universitas luar negeri dan kebetulan aku juga mengambil jurusan Informatika Komputer di kampus ungu.
Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai teman yang special tapi lama-kelamaan cinta tumbuh dihatiku dan ternyata Lionier juga mencintaiku sejak dirinya bertemu denganku. Akupun tidak bisa membohongi perasaan yang semakin hari semakin tumbuh mengisi taman hati ini. Perhatiannya membuatku mati kukuh saat bersamanya. Namun aku tidak bisa menerimanya sebagai pacarku karena aku sudah menjalin hubungan lebih dahulu bersama Rekim. Beruntungnya lagi Lionier tidak pernah mempersoalkannya. Dia hanya menginginkan aku selalu ada disisinya. Sampai kesepakatan konyol diantara kita berdua terjadi yaitu saat Rekim kembali ke Indonesia, aku akan kembali kepadanya dan menganggap hubungan ini tidak pernah terjadi diantara kita berdua.
Namun aku menodai kepercayaan yang telah Rekim tanamkan kepadaku. Aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya, maupun harus melihat kesedihan di mata Lionier, saat merelakan diriku kembali kepelukan Rekim. Aku begitu egois dalam hal ini. Sekarang aku membenci diriku sendiri. Wildia yang polos, setia dan menjunjung tinggi cinta suci, kini Wildia yang tidak punya belas kasih.
Aku takut bila Rekim tahu aku membohongi dirinya. Bebagai kecemasan menggelayuti pikiranku. Apakah penghianatan aku akan dimaafkan oleh Rekim bila semua ini terbongkar? Apakah Rekim akan tetap melanjutkan hubungan ini walaupun dirinya tahu aku telah menghianatinya? Atau Rekim akan sama dengan Lionier yang berjiwa besar memaafkan aku? Tapi rasanya mustahil bila aku tahu kalau Rekim akan semudah itu memaafkan aku? Lalu aku harus bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini tanpa harus menyakiti diantara mereka berdua?
Aku harus membunuh rasa rinduku terhadapnya. Setelah tiga tahun lamanya, aku dan Rekim berpisah. Padahal begitu banyak hal-hal yang sudah aku siapkan untuk menyambut kedatangannya. Tapi aku harus mengubur dalam-dalam perasaan ini. Seandainya aku tetap setia dan tidak membagi hatiku untuk pria lain, mungkin aku tidak akan diselimuti perasaan bersalah seperti ini. Aku akan damai didalam pelukkannya yang hangat, Mengulang masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama.
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin kembali menjadi nasi. Begitu pula kisah cintaku yang akan segera meredak, menghancurkan hati kedua pria yang mengisi hati ini. Sungguh tragis kisah cintaku. Disatu sisi aku sangat mencintai Rekim namun disisi lain aku juga mencintai Lionier. Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan keadaan ini normal kembali? Tuhan tolong aku!! Hatiku berdesir.
***
Ku rasakan dinginnya udara dipagi hari yang diselimuti kabut. Aku masih terjaga dalam balutan selimut bermotif strawberry ( buah favoritku ) menyelimuti diriku. Aku merasakan belaian lembut yang tak asing lagi menyapu rambut hitam yang tergelai dibantal tidurku. Aku seakan kembali ke tiga tahun yang lalu saat Rekim dengan penuh cinta menyapu rambutku seperti saat ini.
Terdengar bisikan mesra berdengung di telingaku,”Sayang…aku kembali untukmu?”
Seketika mataku terbelalak oleh suara yang tak asing lagi. Kata-kata yang ingin aku dengar sekian lama, kini tiba-tiba muncul tanpa bisa aku percayai. Mimpi atau hanya keinginan yang mengebu di dasar hati ini untuk bertemu dengan Rekim. Setelah semalaman mataku sulit terpejam karena memikirkan masalah ini dan mataku terbuka oleh sebuah suara itu.
Aku tidak percaya pada apa yang aku lihat sekarang. Sesosok pria terduduk dipinggir ranjangku, sambil membawa sebuah nampan yang terisi oleh roti bakar dan segelas susu panas berada di kedua tangannya dan bibir merahnya mengantup sekuntum mawar merah sambil menatapku dengan pandangan cinta, yang membuat aku tidak bisa bernapas sejenak, sampai mataku benar-benar terbuka lebar menatapnya. Namun refleks tanganku mengucek-ngucek kedua mataku berharap ini bukan mimpi.
Suara ketukan mengema dari balik pintu. “Tok!tok!”bunyi pintu diketuk. Tak lama pintu kamar Wildia terbuka.”Kak Remik sudah ditunggu untuk makan bersama.”kata Fena adik Wildia. Hanya berselang beberapa menit Fena mengatakan sesuatu yang membuat Wildia terkejut,”Oh ya…selain itu ada Kak Lionier juga loh…dibawah,”ujar Fena yang melesat pergi.
“Apaah!”teriak Wildia yang terlihat ketakutan.
“Kamu kenapa? Kok kaget denger nama Lionier. Emang dia siapa?”Tanya Remik yang terdengar mengintrogasi Wildia.
“Dia…mm..teman satu kampus. Benar cuma teman,”ujar Wildia berusaha untuk menyakinkan Remik.
“Iya…baby! Aku percaya.”kata Remik. “Dan sekarang kamu harus makan sarapan yang aku buat,”ujar Remik menyodorkan nampan dan sekuntum bunga mawar kearah Wildia.
“Terima kasih tapi kenapa kamu jadi romantis kaya gini? Terus semalam kamu bilang, bakal balik ke Jakarta minggu depan, Lalu sekarang tiba-tiba muncul dikamarku Aku enggak percaya aja, Remik yang cuek dan sadar atau enggak, kalau dia punya pacar berubah seperti..,”ucapannya terhenti saat Remik mendekap tubuh mungil Wildia.
Wildia merasa tubuhnya lemas, darahnya mengalir deras, jantungnya berdetak kencang sebaliknya Wildia juga merasakan jantung Remik bergejolak lebih kencang seakan berlomba untuk mencapai finis. Belaian lembut dari Remik mematahkan ketahanan Wildia. Wildia tidak sanggup lagi menahannya, iapun mendekap erat Remik.
Untuk sejenak mereka saling melepas rindu. Kata-kata yang terucap dari mulut Remik membuat Wildia semakin bersalah dan matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih baby, kamu tetap setia menungguku walaupun aku tidak pernah membuatmu bahagia tapi aku kembali untuk menebus semuanya. Aku sangat mencintaimu. Dan..ucap Remik terhenti sejenak sambil tangannya mengambil cincin disaku celananya.
Saat suara pintu kamar Wildia diketuk.”Tok!tok!” Remik langsung memasukkan cincin ke saku celananya.
Remikpun dengan perlahan melepaskan dekapannya dari tubuh Wildia saat Suti membuka pintu kamar Wildia.
Dan kali ini yang memanggil Remik adalah Suti pembantu Wildia,”Maaf mba ganggu. Mas Remik sudah ditunggu dibawah dan mas lionier juga sudah menunggu mba dibawah.”
“Iya bok, nanti aku turun. Makasih ya bok,”ujar Wildia sambil menghapus air mata dari wajahnya.
“Baby, kamu kenapa menangis?”tanya Remik cemas.
“Emm…mungkin kelilipan,”ujar Wildia sangkalnya.
“Kali ini aku tidak akan membuatmu menangis lagi dan nanti malam aku tunggu kamu di pantai cerita jam 8,”ujarnya sambil mengecup kening Wildia sebelum beranjak pergi.
Setelah sosok Remik menghilang dari balik pintu, Wildia menghabiskan sarapan yang dibuat oleh Remik.
***
Malampun turun perlahan. Angin yang sepoi-sepoi mengiringi langkah Wildia yang terlihat anggun mengenakan gaun eyelet hitam yang menampakkan kecantikan seorang wanita. Seorang pria yang berdiri mengenakan jas hitam menyambut dengan senyum lebar menghiasi wajah Remik dari kejauhan.
Remik tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya. Ia menatap lurus kedepan kearah Wildia yang menghampirinya dengan perlahan menuju meja bundar yang dilengkapi vas bunga yang berisi aneka mawar, sebotol senfen, lengkap dengan makanannya.
Ini seperti mimpi yang menjadi nyata bagi Wildia. Wildia tidak bisa menyembunyikan rasa terharunya melihat laki-laki yang dicintainya bisa melakukan ini semua hanya untuknya. Namun hati kecilnya penuh dengan kebimbangan.
Ini sama persis dengan impian aku? Tapi dari mana Remik bisa tahu ini semua? Padahal aku hanya bilang sama Lionier tentang ini? Apa jangan-jangan Remik punya indra keenam dan mengetahui penghianatan aku? Hatinya berbisik.
Wildia mengibaskan lamunannya. Dengan piawai Remik mempersilakan Wildia duduk dikursi yang dihiasi pita berwarna merah yang dilekatkan dibadan kursi.
“Baby! malam ini kamu sangat cantik,”kata Remik sambil mencium tangan Wildia.
Wildia tersipu malu. Pipinya merona mengalahkan bles on yang disapunya beberapa menit yang lalu sebelum datang menemui Remik. Remikpun tidak kalah tampannya. Bibirnya yang merah menaun membuat Wildia mati kukuh.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berpandangan satu sama lain. Tatapan Remik yang dalam menusuk hati Wildia. Wildia tidak sanggup untuk mengatakan kepada Remik tentang penghianatan yang dilakukannya bersama Lionier.
Keheninganpun terpecahkan oleh suara alunan biola yang merdu dari para pianis yang disewa Remik untuk menambah suasana romantis yang tercipta.
Wildia semakin hanyut dalam penyesalan. Iapun memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Remik. Apapun yang terjadi diantara meraka. Wildia harus menerima semua hujatan yang mungkin terlontar dari mulut Remik.
“Remik, aku mau…”ucap Wildia terdengar sumbang.
“Oh…ya aku tahu, kamu udah laparkan?”tanya Remik.
“Bukan itu tapi…”suara perut Wildia berbunyi.
Remik yang mendengarnya tertawa,”Aduuh…sayang kamu enggak usah malu, lagian ini aku siapkan hanya untukmu jadi sebaiknya kita makan sekarang.”perintah Remik.
Wildiapun hanya bisa mengganggukkan kepala. Mereka berdua makan dengan lahap sambil diiringi alunan irama gesekan biola. Suasana romantis semakin terasa diantara mereka. Dengan teratennya Remik memotongkan daging untuk Wildia, sesekali saling menyuapi satu sama lain.
Ditengah-tengah makan, Remik menanyakan sesuatu yang membuat Wildia tersendak,”Baby, kamu enggak jatuh cinta sama Lionier kan?”tanya Remik.
“Houk!!”sendak Wildia. Remikpun langsung memberikan segelas air putih kepada Wildia.
“Gimana? Kamu sudah merasa baikkan?”tanya Remik cemas terlihat dari raut wajahnya.
Wildia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah merasa baikkan, Wildia menjawab pertanyaan Remik,”Maybe yes,maybe no?”jawab Wildia yang tak pasti.
“Aku sudah menduganya dan asal kamu tahu ya…aku sudah tahu semuanya,”kata Remik yang membuat Wildia bercucuran keringat dingin.
“Maaf Remik, Maafkan aku…aku memang tidak pantas mendapatkan ini semua dari kamu karena…”kata Wildia terpotong saat Remik menyodorkan sebuah cincin silver bermata berlian yang sinarnya terpantul oleh cahaya bulan.
“Maukan kamu menemani aku selamanya dan memberikan anak-anak yang cantik buah dari cinta kita?”tanya Remik dengan tatapan mesra kearah Wildia.
Sejenak Wildia hanya bisa termangung. Lalu Wildia mengutarakan isi hatinya kepada Remik sebelum menjawab lamaran Remik.
“Aku sangat berterima kasih atas semua yang kamu lakukan. Aku tidak bisa terus menyembunyikan ini dari kamu. Aku sudah siap menerima apapun keputusan kamu setelah kamu mendengar ini semua. Sejenak Wildia berhenti. Raut wajahnya memerah, air matanya menggenanggi pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak namun Wildia tidak mau menyembunyikan ini terlalu lama. Iapun melanjutkan pengakuannya.
“Sejak kepergian kamu ke Belanda. Aku merasa kesepian dan disaat aku sedang membutuhkan seseorang ada disampingku untuk mencurahkan semua gundah yang ada dihati, dia datang menyembuhkan semua kesepian yang ada dihatiku dan kamu tahu siapa orang itu? Dia Lionier teman yang special dihatiku. Maafkan aku karena dihatiku kini ada seseorang selain kamu,”kata Wildia diiringi isak tangis.
Remik hanya diam seribu bahasa. Wildia tidak sanggup melihat Remik seperti itu. Dilubuk hatinya yang terdalam, Wildia lebih suka kalau Remik marah atau memaki-maki dirinya karena telah menghianatinya.
“Re…maafkan aku. Aku mohon katakan sesuatu kepadaku. Jangan hanya diam seperti ini. Aku terima apapun yang menjadi keputusanmu,”ujar Wildia sambil mencoba menyentuh tangan Remik yang terasa dingin.
“Aku memang kecewa. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu. Mungkin kamu yang akan meninggalkan aku, setelah kamu mendengar ini semua,”kata Remik yang menguras rasa penasaran Wildia.
“Aku mungkin tidak pantas mendapatkan maaf darimu tapi kalau kamu ingin mengakhiri ini semua, aku terima. Dan asal kamu tahu aku tidak akan menerima cinta Lionier setelah aku…”kata Wildia tidak sanggup untuk meneruskan kata-katanya.
Remik beranjak pergi meninggalkan Wildia tanpa sepatah katapun. Dalam kesunyian malam yang semakin dingin, Wildia merasa udara menusuk tulang rusuknya. Lututnya lemas seakan beban yang ditompangnya begitu berat sehingga Wildia tertatih saat beranjak pergi.
Tiba-tiba ada suara yang tidak asing lagi menyerukan dari kejauhan. Wildia menghentikan langkahnya dan kepalanya berputar mencari sumber suara itu berasal.
“Wildia ini belum berakhir!!”teriak Lionier dan Remik berdiri disampingnya. Mereka berdua berlari kearah Wildia. Ketika jarak mereka hanya dua jengkal dari tempat Wildia berdiri. Wildia semakin tidak mengerti dengan semua ini.
Tiba-tiba Lionier ada disini dan Remikpun terlihat menahan senyum saat melihat Wildia yang seperti maling ketangkap basah oleh keamanan. Dan siap menerima hukuman atas perbuataannya.
“Remik, aku mohon Lionier tidak bersalah dalam hal ini. Kalau kamu mau menghukum aku…aku terima,”ujar Wildia dengan lantang.
“Lionier aku tidak tahan lagi!”ujar Remik
“Wildia siapkan mentalmu sebelum kamu mendengar ini semua?”kata Lionier sambil memapah Wildia menuju tempat duduk.
Malam turun perlahan. Angin sepoi-sepoi semakin kencang berhembus tetapi misteri ini belum terungkap. Mereka sudah berada di meja bundar. Wildia yang terlihat kalut, membuat Remik dan lionier tidak bisa menahan tawa.
Keheningan semakin terpecah oleh suara tawa Remik dan Lionier. Wildia semakin jengkel melihat tingkah mereka berdua yang tak kunjung berhenti tertawa.
“Hentikan semua ini, aku mau pulang!”teriak Wildia.
Sekejap tawa mereka menghilang dan Remik membuka pembicaraan diantara mereka.Wildia yang semenjak tadi dibuat penasaran sangat antusias mendengarkan Remik menyatakan sesuatu yang membuat Wildia tercenang.
“Sebenarnya semua masalah ini aku yang menyusunnya,”kata Remik terhenti saat Wildia menimpahnya.
“Apa maksud kamu Remik?”tanya Wildia penasaran.
“Lionier ini teman aku. Aku yang menyuruhnya untuk menggantikan posisiku selama aku tidak disampingmu. Jadi aku tenang meninggalkan kamu bersamanya karena Lionier tidak mungkin jatuh cinta sama kamu karena dia sebenarnya gay.
Wildia seperti tersambal petir mendengar pernyataan Remik dan yang membuatnya lebih terkejut adalah Lionier seorang penyuka sesama jenis. “Apah, gay?”
“Maaf kalau membuat kamu merasa bersalah terhadapku. Tapi ini semua aku lakukan agar aku tidak kehilangan dirimu. Dan kebetulan Lionier ingin melupakan kekasihnya, Jadi saat aku tawarkan Lionier untuk menjagamu di Jakarta, Lionier menerimanya.”
“Pantas aku merasa ada yang aneh dengan semua ini. Tiba-tiba kamu jadi romantis, perhatian dan jelas saja kamu enggak marah saat aku bilang Lionier teman special dihatiku. Tapi ada pertanyaan yang besar didalam kepalaku, Apakah diantara kalian tidak terjadi apa-apa?”tanya Wildia menyelidik.
Remik dan Lionier serentak menjawab,”Maksudnya?”
“Entahlah, kalian berdua yang bisa menjawabnya?”ujar Wildia dengan tersenyum.
“Maksud kamu aku dan Lionier pacaran?”tanya Remik kepada Wildia.
Wildia hanya mengerutkan dahinya.
“Tenang saja Wildia, aku tidak mungkin suka dengan Remik. Selama aku tinggal di sini, banyak hal yang aku pelajari dan aku sudah kembali menjadi laki-laki yang normal. Ini berkat seorang wanita yang mampu menyadarkan aku bahwa inilah cinta yang sesungguhnya bukan seperti selama ini aku jalani bersama…berhenti sejenak lalu,mantanku. Gadis itu….kamu, Wildia,”kata Lionier dengan tatapan menyala kearah Wildia.
“Selamat ya Brow. Akhirnya keajaiban membukakan mata hatimu dan kembali menjadi laki-laki yang sesungguhnya. Aku sangat berterima kasih padamu Brow karena telah menjaga Wildia selama aku berada di luar negeri,”ucap Remik sambil menepuk pundak Lionier beberapa kali.
“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu begitu mempercayaiku untuk menjaga kekasihmu tanpa takut aku akan menghianati dirimu.” Ujar Lionier.
“Tapi sekarang aku yang akan menjaganya sendiri. Karena sekarang aku begitu cemas meninggalkan kekasihku bersamamu. Apalagi kamu sudah normal menjadi laki-laki sejati tidak suka lagi sama cowok.”
“Kalau ternyata Wildia mencintaiku?” tanya Lionier kepada Remik.
Suasana berubah mencekam.
Raut wajah Remik terlihat muram. Wildia menyadari bencana yang akan terjadi diantara kedua sahabat ini. Garis-garis kerutan menghiasi dahi Wildia. Sementara Lionier tersenyum tipis kearah Wildia.
“Kalau memang kenyataannya seperti itu aku akan melepaskannya dan merelakan bersama orang yang dicintainya. Karena bagiku membuat orang yang aku cintai bahagia, itu sudah lebih cukup buat aku. Walaupun hati ini sakit.”
Wildia tidak menyangka Remik bisa mengatakan itu semua. Wildia baru menyadari bahwa Remik yang keras kepala, egois dan mempertahankan apa yang menjadi miliknya bisa berkata seperti itu tanpa ada amarah terpancar di wajahnya namun kesedihan yang terdengar sumbang dari kata-katanya. Itu membuat Wildia terenyuh hatinya.
Amarah Wildia memuncak, “Kalian pikir aku wanita apaan? Dan Kamu Lionier jangan salah mengartikan sikap aku terhadap kamu selama ini. Sampai detik ini aku tetap mencintai Remik. Walapun aku sempat ragu terhadap cintanya,”ujar Wildia berliang air mata.
Lionier beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di tengah-tengah Wildia dan Remik. Lionier mempersatukan tangan Wildia dan Remik,”Sampai kapanpun dia tetap milikmu, Brow?”ucap Lionier sambil tersenyum manis kearah mereka berdua.
Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook
| < Prev | Next > |
|---|
CeritaCeritaKu.Com




