Sunday May 20

Sponsor Kami #2

Iklan Link

 

Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent

--------------------------

Buy Online

--------------------------

Kredit Mobil Jakarta

--------------------------

Jual Flash Disk

--------------------------

Baju Baju Baju

--------------------------

Busana Muslimah

--------------------------

Kredit Laptop

--------------------------

Lowongan Kerja

--------------------------

Buy Vacuum Cleaner

 --------------------------

Jual Laptop Murah

 --------------------------

Jual Tas Laptop

--------------------------

 Lelang Online

--------------------------

Hotels & Resorts Finder

 

Vemma Bisnis Online Automatis

Vemma Bisnis Online Automatis

CERITA DEWASA : BAU BADAN... OH NO !!!

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Cerita Dewasa - Cerita Dewasa

User Rating: / 2
PoorBest 

Nama gue Jojo. Sebenarnya sih nama gue Jesika, tapi temen-temen gue lebih suka memanggil gue dengan nama Jojo. Alasan mereka karena nama Jojo lebih mudah diingat. Padahal, Orang Tua gue ngasih nama Jesika harus pake selamatan dulu.

Penuh perjuangan ya buat ngasih nama gue. Gue duduk di kelas II, di salah satu SMA favorit di Jakarta. Hobi Gue ngoceh sama nonton konser musik.   Kok ada ya orang yang hobinya ngoceh?

Di Sekolah, Gue mendapat predikat. Predikat Gue ini bukannya nyenengin tapi malah selalu bikin gue kesel, karena ledekan temen-temen gue. Predikat yang sampai sekarang masih gue sandang. Predikat cewek nomor satu di Sekolah yang punya bau badan.

Gue juga bingung sama mereka yang selalu bilang kalau badan gue bau!! Padahal, gue mandi ajah sampai satu jam. Terus gue pake minyak wangi yang harganya selangit mahalnya. Tapi tetep ajah, gue bau badan. “Oh Tuhan... Lengkap sudah penderitaanku”.

Gara-gara bau badan gue ini, cowok-cowok gak ada yang berani deketin gue. Sampai sekarang, gak ada yang bisa bantuin ngilangin bau badan gue. Bahkan Orang Tua gue sekalipun.
Temen gue, Ratna menyarankan gue buat berobat supaya bau badan gue ini hilang. Dengan cara tradisional
katanya.

Cara yang satu ini, gue belum pernah coba. Orang yang direkomendasikan buat ngobatin bau badan gue itu namanya Mbah Retno. Nah, ternyata Ratna ini cucunya Mbah Retno. Pantesan ajah namanya hampir sama.

Rumah Mbah Retno ini di daerah Cirebon. Walaupun sampai ke ujung dunia pasti gue jabanin dah.. Sampai bau badan gue ini hilang, apapun akan gue lakuin. Katanya sih, ramua Mbah Retno ini manjur.

Akhinya, gue memutuskan untuk mencoba saran dari Ratna. Yaitu berobat alternatif buat ngilangin bau bandan gue ini. Semoga ajah berhasil, dan perjuangan gue gak sia-sia nantinya.
Pagi ini gue barangkat ke Cirebon. Dengan nyali gue yang gede, gue berangkat sendiri mengendarai mobil kesana. Orang Tua gue selalu mendukung apa yang gue lakuin. Apalagi kalau untuk masalah bau badan gue. Dosa apa ya gue? Sampai bisa bau badan kaya gini!.

“Mamah... Jojo berangkat ya?”
“Iya, hati-hati...”
Sambil masuk kedalam mobil, Jojo mengangkat tangan kanannya, tercium olehnya bau yang tidak sedap.
“Ukhhh... Bau.”

Semakin hari bau badannya semakin bertambah. Hingga Jojo sendiri merasa ingin muntah. Mungkin gak ya, bau badan gue ini bisa hilang? Problem yang selalu bikin gue gondok banget.

Memang sih, bukan gue doang cewek di dunia ini yang bau badan. Tapi kayanya, bau badan gue melebihi dari cewek-cewek lain yang juga bau badan. Makannya, gue selalu minder.

Perjalanannya pagi ini, sangat jauh dan melelahkan. Bayangin ajah dari jakarta ke Cirebon. Apalagi dia membawa mobil sendiri tanpa supir. Biasa, Jakarta macetnya luar biasa. Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet. Macet di Jakarta sekarta sekarang sudah seperti rutinitas. Orang yang berkerja saja sudah terbiasa dengan macetnya kota Jakarta. Pokoknya, mau hari libur atau gak, Jakarta tetep ajah macet.

Sampai di wilayah Cirebon. Jojo merasa perutnya sudah berdendang. Hehehe... udah kaya lagu dangdut ajah!.
Dia memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah tempat makan. Makanan yang disajikan memang agak berbeda dari makanan yang biasa ia makan dirumahnya. Namanya juga Cirebon, daerah Sunda. Pasti banyak Lalapan.

Lalapan itu, daun-daunan yang direbus atau juga tidak direbus. Lalapan dimakan dengan sambal.
“Widihhh, disini gue udah kaya kambing. Hehe... makannya daun-daunan.” Ujar Jojo.

Mau tidak mau Jojo harus makan, karena perutnya sedang lapar. Perjalanannya, masih jauh. Rumah Mbah Retno berada dipedalaman. Jadi, agak sulit mencapainya. Apapun yang dimakan dengan keadaan perut lapar, pasti enak.

Padahal dirumahnya, Jojo makan dengan tempe goreng saja tidak mau. Tempe gorengkan makanan khas Indonesia. Mau kaya atau miskin, tetep ajah tempe jadi primadonanya.
Kini perut Jojo sudah kenyang, dia melanjutkan perjalanannya lagi. Jojo masuk kesebuah Desa. Nama desa itu, Desa Cibimbim. Nama yang aneh menurut Jojo. Kedengarannya tidak mengenakkan.

Malam ini, Jojo sampai di Desa Cibimbim. Dengan keberanian, dia turun dari mobilnya. Yang ada hanya dia sendiri. Ditemani dengan suara-suara hewan-hewan malam. Apalagi jangkrik, terdengar sangat membisingkan di telinganya. Jojo melihat ada seorang kakek yang sedang melintas tepat di belakangnya. Jojo menoleh, dan menghampiri kakek itu.

“Kek, permisi apa betul ini desa Cibimbim?” Tanya Jojo.
“Iya betul.”
“Kakek, tahu rumahnya Mbah Retno?”
“Mbah Retno?”. Kakek tersebut mencoba mengingat-ingat.” Oh iya saya tahu.”
 Jojo tersenyum lega mendengar ucapan Kakek itu.

“Terus sekarang rumahnya dimana ya, Kek? Kakek tahu gak rumahnya?” Jojo ingin segera mengatahuinya.
“Oh, rumahnya di ujung sana. Masih jalan lagi ke dalam jalan setapak itu.” Kakek itu menunjuk sebuah jalan setapak.

Jojo melihat jalan setapak yang ditunjuk Kakek tadi.
“Terima kasih ya Kek.” Jojo tersenyum mengakhiri pertanyaannya.

Kakek tersebut berjalan meninggalkan Jojo. Makin lama makin jauh tidak terlihat di keheningan malam. Langkah kaki Jojo menyusuri jalan setapak menuju rumah Mbah Retno. Dalam hatinya Jojo, “Semoga ajah usaha gue buat ngilangin bau badan ini terwujud. Hehe...”

Matanya terbelalak kaget, ketika melihat di rumah Mbah Retno banyak sekali orang.
“Apa mungkin itu pasiennya Mbah Retno ya? Banyak amat pasiennya.” Ujarnya.
Salah seorang dari rumah Mbah Retno keluar.
“Ibu permisi?”
Wanita tersebut menoleh kearah Jojo.
“Apa benar ini rumahnya Mbah Retno?”

“Iya betul.” Jawab wanita tersebut.  Wanita tersebut seperti mencium bau aneh pada Jojo. Hidungnya ditutup oleh kain kerudung yang ia pakai.
“Itu pasiennya Mbah Retno ya Bu?”. Seraya menunjuk ke arah orang-orang yang ada di rumah Mbah Retno. Jojo menyadari pasti wanita tadi mencium bau badannya.
“Bukan!” Ujar wanita tadi.
“Lalu mereka semua siapa ya Bu?”
“Oh, jadi Mba belum tahu ya?”
Jojo bingung dengan ucapan Ibu tadi.

“Mbah Retno meninggal.”
“Hah! Meninggal?” jojo kaget bukan maen. Perjuangannya dari Jakarta ke Cirebon sia-sia. Bahkan sampai Jojo memakan lalapan khas Cirebon yang tidak disukainya.  Badan lemas mendengar berita itu.
“Iya, meniggal sekitar dua jam yang lalu. Nah, yang didalam itu adalah orang yang melayat.”
“Oh, begitu ya Bu.”
“Mba pasti ada perlu ya sama Mbah Retno?” Tanya Ibu tadi.
Jojo mengangguk mengiyakan.

“Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya Mba, sudah kemaleman.” Ibu tersebut pamit meninggalkan Jojo yang berdiri terdiam.
Jojo masih Shok mendengarnya. Jojo melangkah pergi menuju mobilnya.
“Apa lagi yang harus gue perbuat? Mesti kemana lagi gue supaya bau badan gue hilang?” jalannya mulai pontang-panting tidak karuan. Jojo pulang membawa kesedihan. Bau badannya masih menempel.
“Sampai kapan nih bau badan nemplok dibadan gue? Aduhhh! Kalau begini terus bisa-bisa gue gak nikah lagi. Boro-boro nikah, punya cowok ajah syukur.” Ocehnya di dalam mobil.

Kepalanya pening. Penyesalan ada. “Coba tadi gue lebih cepat kesana. Pastinyakan sebelum mbah Retno meninggal, dia bisa sembuhin gue dulu. Percuma ajah deh gue dari jakarta ke Cirebon, Kalau ujung-ujungnya gak ada hasil.

Sampai rumah Jojo langsung masuk kamar dan membantingkan tubuhnya ke kasur. Lelah yang dirasakannya tidak sebanding dengan rasa kecewanya yang amat sangat.

Ibu Jojo masuk, “Ehh... anak mamah udah pulang. Gimana pengobatannya/ berhasilkan atau tidak? Tapi bau badan kamu masih tercium dihidung mamah.”
“Mamah, jangan ngeledek aku deh Mah.” Ujar Jojo kesal.
“Loh, Mamah gak ngeledek kamu kok.”
“Orang yang mau ngobatin aku, meninggal dua jam sebelum aku datang.”

 Ibunya tersenyum, 'Sudahlah, mungkin bukan sekarang waktunya buat kamu menghilangkan bau badan itu. Yang penting kamu sudah berusaha.”
“Iya, Mah... Tapi aku kesel. Jauh-jauh dari Jakarta ke Cirebon cuma pengen ngehilangin bau badan, gak ada hasilnya.”

Ibunya mengelus kepala Jojo. Lalu pergi meninggakan Jojo dengan rasa sedihnya.
Biasanya pagi-pagi sekali Jojo sudah bangun untuk bersiap ke Sekolah. Tapi hari ini, Jojo malas sekali Sekolah. Alasannya karena minyak wanginya habis.
“Aku gak mau masuk Sekolah hari ini, Mah! Nanti teman-teman pada ngeledek Aku.”
“Eh, kamu kok begitu, cuma gara-gara itu saja jadi gak mau sekolah. Payah kamu.” Ucap Ibunya menasehati sambil pergi berlalu menyiapkan sarapan pagi.

Setelah dipikir-pikir, benar juga apa kata Ibunya tadi. Masa gak masuk Sekolah gara-gara takut diledek temen-temennya. Ih, kan gak banget deh!
“Masa bodo deh, temen-temen gue mau ngeledek atau gak. Yang penting gue Sekolah.” Jojo beranjak dari tidurnya bersiap Sekolah.  
Turun dari tangga, Jojo tersenyum. Baginya, EGP (Emang Gue Pikirin) ajah deh...

“Pake hujang segala... Gue kan mau berangkat Sekolah.” Jojo menatap keluar jendela rumahnya. Kalau hujang begini, bikin gue makin seneng Sekolah. Soalnya, Kalau hujan temen-temen gue jarang yang masuk Sekolah. Kata mereka becek, dan kotor.

Kalau menurut gue sih, No Problem. Mau hujan atau panas gak peduli. Gue cuma agak takut ajah kalau mereka nanti mencium bau badan gue yang gak enak ini.
Kan gue malu. Bayangin ajah kalau loe dijauhin sama temen-temen loe cuma gara-gara bau badan.

Aduhhh... Gak nahan deh gue ngebayanginnya kaya apa.
Masih mending temen-temen gue yang ngejauhin, apalagi kalau cowok yang ngejauhin.
Beberapa menit kemudian, hujan berhenti.
“Ya, ampun... Hujannya berhenti. Hujan lagi ajah. Huft..”

Di Sekolah. Awan yang tadinya menghitam, kini sudah berwarna biru cerah lagi.
Di kelas gue, gak ada satu orang pun yang berani ngedeketin gue, apalagi duduk bareng sama gue. Untung ajah di Sekolah gue memakai fasilitas AC. Kalau gak memakai AC, bisa-bisa temen-temen gue satu Sekolah keluar kelas gara-gara gue. Banyak yang bilang, predikat gue ini gak akan bisa hilang dari gue. Karena bau badn gue ini yang gak hilang-hilang.

Kadang-kadang gue sedih, temen-temen gue ngejauhin gue. Ini karena salah bau badan gue atau karena salah Nyokap gue yang ngandung. Nyokap gue dulu ngidam apa sih sampai gue bisa punya bau badan kaya gini.
Permasalahan gue cuma satu, yaitu bau badan yang mengganggu ini.
Kehidupan di Sekolah, gue habisin hanya dengan membaca buku didalam kelas. Atau dengan cara yang bisa bikin temen-temen gue nggak nyium bau badan gue.
Gak enak banget sih memang. Tapi mau gimana lagi. Segala cara udah gue lakuin supaya bau badan gue ini hilang.
“Gue mau pinjem buku dulu deh.”

Biasanya di Sekolah gue ada tempat peminjaman buku. Jadi, setiap istirahat gue kadang meminjam buku kesana.

Hari ini tempat peminjaman buku di Sekolah tutup, karena penjaganya Pulang Kampung. Padahalkan, kebanyakan  orang pulang kampung pas Lebaran. Ini belum lebaran juga, udah pulang kampung.  Adowhhh...
Sampai di depan toilet, tiba-tiba gue kebelet pipis. Jadi, gue pipis dulu. Ternyata didalam toilet, ada Sasa. Cewek yang paling perfect di Sekolah.

“Heh, cewek bau... cepetan loe keluar dari sini. Gue mau pake make-up nih. Kalau loe lama-lama disini, bisa-bisa gue muntah karena bau badan loe.” Sasa mengoceh.
“Bawel banget sih loe punya mulut. Mulut loe gak di Sekolahin ya?”
“Cewek bau, loe gak usah nyeramahin gue deh. Udah kaya Bu Ustad ajah. Panas nih kuping gue denger omongan loe.”

“Blagu banget sih loe. Mentang-mentang perfect. Coba kalau loe jadi gue. Apa yang bisa katain...”
“Ih amit-amit deh kalau gue jadi loe.” Sasa mengelak.
“Siapa tahu loe mau nyoba jadi gue.”
Sasa langsung pergi.

Jojo bercermin di kaca toilet. “Tuhan... kapan ya gue bisa seperfect Sasa? Coba kalau nasib gue berubah kaya dia. Dia jadi gue, gue jadi dia. Seneng banget gue. Akh... Jojo, Jojo... Loe menghayal ajah. Mana mungkin semua itu terjadi.”

Keluar dari toilet. Jojo bertemu dengan Julian. “Julian itu, cowok yang gue suka.” Ujar Jojo.
“Tapi karena bau badan gue, si Julian jadi kabur terbirit-birit. Dia gak tahan bau badan gue. Kapan ya, si Julian mau deket sama gue?”

Malamnya, Jojo tertidur pulas. Dengan bantal guling yang ia dekap erat. Bintang pun menemani tidurnya.
Kicauan burung membangunkan tidurnya.
“Huaammm...” Jojo menguap bangun dari tidurnya.
Jojo merasa ada yang berbeda dari tubuhnya. Tubuhnya segar dan wangi. Bau badan yang biasanya tercium kini sudah tidak terasa lagi.
 
Jojo mengangkat ketiaknya, “Kok badan gue gak bau lagi?”
Jojo melonjak kegirangan karena bau badannya sudah hilang.

Berangkat sekolah pun Jojo sudah tidak takut dengan ejekan teman-temannya.
Teman-teman satu kelas Jojo heran. Kenapa bau badan Jojo tidak tercium lagi.
Sekarang, Julian sangat dekat dengan Jojo.  
Ada yang berbeda juga pagi ini di Sekolah. Teman-teman Jojo lari terbirit-birit Menjauhi kelas IPA.

“Loh! Ada paan nih?”
Salah satu dari temannya Jojo menjawab, “Itu si Sasa.” Menunjuk sambil terengah-engah.
“Iya, si Sasa kenapa?”
“Gila bau badannya gak nahan, Jo.”
“Hah! Bau badan. Bukannya dia wangi banget ya?”
“Katanya dia si, waktu bangun tidur tadi pagi tiba-tiba saja badannya yang wangi berubah menjadi bau badan.”

Jojo berfikir, “Kenapa kejadiannya sama kaya gue ya?”
“Jojo! Woy... Loe malah bengong.”
Lamunan Jojo terperanjat.”Gak kok, Oh yaudah makasih buat informasinya ya...”
Temannya langsung pergi.

Sepulang Sekolah, Sasa menghampiri Jojo. Tercium oleh hidung Jojo bau badan yang menyengat. Dia baru merasakan, mungkin dulu bau badannya seperti ini. Jojo menutup hidungnya.

“Heh, cewek sialan. Pasti loe yang bikin gue jadi bau badan. Dan sekarang bau badan loe hilang.” Sasa nyerocos marah.
“Apaan sih loe. Mungkin aja itu karena kesombongan loe.”
“Loe kok jadi nyalahin gue sih. Pasti loe pake guna-guna buat ngambil bau badan gue.”

“Hah! Guna-guna apaan tuh?”
“Gak usah pura-pura bego deh loe.”
“Akhhh.... Bodo amat deh, gue gak ngerti apa yang loe omongin.” Jojo pergi berlalu.

Sasa memikirkan perkataan Jojo, yang menurutnya agak ada benarnya juga. “Mungkin karena kesombongan gue, gue jadi begini.”
Jojo juga berfikir, “Gue jadi gak enak sama Sasa. Mungkin aja bener, bau badan gue hilang karena Allah menukarnya dengan Sasa. Tuhan kalau memang benar itu, aku lebih baik bau badan selamanya dari pada aku mengambil yang bukan hakku. “

Tapi kalau seandainya, Jojo bau badan lagi kaya dulu, pasti Julian kabur.
Bau badan Jojo keesokan harinya berubah kembali seperti semula. Mungkin karena permintaannya pada Allah. Sudah seperti dongeng.

Di depan jendela kamarnya, Jojo menatap keluar kamar. Dari atas kamarnya, terlihat seorang nenek yang sedang mengemis.
Melihat hal itu, Jojo merasa kasian melihatnya. Jojo turun dengan langkah cepat menuju nenek tua pengemis itu.

Di buka oleh Jojo gerbang pagar rumahnya.
“Mari silahkan masuk, Nek.”Jojo mempersilahkan Nenek tua itu masuk.
“Nenek lapar ya?”
Nenek tua itu mengangguk.

Di ambilnya sepiring nasi beserta lauk pauknya. Lalu diberikan kepada Nenek tua itu.
Nenek tua yang kelaparan itu, menatap Jojo dengan pandangan lain.
“Sepertinya saya kenal anak ini. Atau jangan-jangan anak ini yang 17 tahun lalu saya sumpah? Mencium dari bau badannya seperti ini dia.” Ujar Nenek tersebut.

Teringat oleh Nenek tersebut, sekitar 17 tahun yang lalu Ibunya Jojo pernah memaki-maki Nenek tersebut karena mengemis di depan rumahnya. Karena Nenek tersebut di usir, ia merasa sakit hati, lalu menyumpah Jojo yang ketika itu sedang di gendong oleh Ibunya.

“Kamu orang kaya yang sombong. Aku bersumpah, anak kamu yang sedang kamu gendong itu akan merasakan sakit hati seperti yang aku rasakan. Di hina dan di ejek orang karena bau badan yang menyengat dari tubuhnya. Sumpahku akan hilang jika anakmu bertemu lagi denganku. Entah kapan. Camkan itu baik-baik.” Nenek tersebut pergi dengan rasa kesal dari rumah Jojo.

Mendengar sumpahan Nenek itu, Ibu Jojo merasa takut. Hingga benar yang terjadi pada Jojo. Sumpahnya benar-benar terjadi pada Jojo.
“Nenek kok ngelamun, ayo dimakan Nek.” Jojo berucap.

Nenek tersebut memegang pundak Jojo, “Terima kasih ya nak, kamu baik sekali.”
Jojo hanya tersenyum. “Sebentar ya Nek, saya ambilkan minum.
Jojo masuk kedalam rumah untuk mengambil air minum.

Setelah masuk dan mengambil air minum, Jojo keluar dengan membawa segelas air putih. Tak dilihatnya lagi Nenek tua tadi.
“Kemana ya Nenek tadi?” Jojo melihat hanya ada piring yang tergeletak di teras rumahnya.

Karena Nenek tersebut menepuk pundak Jojo, sumpah itu tiba-tiba hilang. Bau badan Jojo sekarang sudah tidak  tercium lagi.
“Kok, bau badan gue gak tercium lagi ya? Atau jangan-jangan karena Nenek tadi.” Jojo tersenyum senang.
Jojo menceritakan hal yang tidak diduga olehnya kepada Ibunya. Ibunya teringat 17 tahun yang lalu dengan seorang Nenek yang menyumpah Jojo.

Dari kejadian ini, Ibunya dan Jojo dapat mengambil hikmah. Jangan sombong pada orang yang di bawah kita. Bila sudah sakit hati, apa pun yang terucap mungkin terjadi.


Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook

DbClix




Cerita Cerita Lainnya :

Powered By relatedArticle

CeritaCeritaKu.Com TrafficRevenue Get paid To Promote at any Location

GTranslate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Sponsor Kami #1

Custom Tags Cloud