Sunday May 20

Sponsor Kami #2

Iklan Link

 

Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent

--------------------------

Buy Online

--------------------------

Kredit Mobil Jakarta

--------------------------

Jual Flash Disk

--------------------------

Baju Baju Baju

--------------------------

Busana Muslimah

--------------------------

Kredit Laptop

--------------------------

Lowongan Kerja

--------------------------

Buy Vacuum Cleaner

 --------------------------

Jual Laptop Murah

 --------------------------

Jual Tas Laptop

--------------------------

 Lelang Online

--------------------------

Hotels & Resorts Finder

 

Vemma Bisnis Online Automatis

Vemma Bisnis Online Automatis

CERITA DEWASA : TERSENYUMLAH UNTUKKU

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Cerita Dewasa - Cerita Dewasa

User Rating: / 2
PoorBest 
Malam ini, hujan deras disertai petir mengguyur tempat dimana orang sakit meminta pengobatan, agar sembuh.
Berita yang tidak ingin didengar oleh semua keluarga. Yang ini adalah keluarga yang bahagia.Keluarga yang tidak ingin salah satu anggota keluarganya pergi untuk selamanya.

Tangisan mulai terdengar, ketika seorang Ibu mendengar pemberitahuan. Seorang Dokter memberitahukan penyakit yang diderita salah satu dari keluarga kecil itu.
Seorang Dokter dengan wajah menyesal mengabarkan bahwa umur Lauren hanya tinggal beberapa bulan lagi. “Penyakitnya sudah Stadium akhir.” Ujarnya.

Lauren adalah gadis manis yang sekarang duduk dikelas dua SMA terkenal di jakarta. Lauren tidak terlihat tampak seperti orang sakit. Dia gadis yang periang dan baik terhadap semua temannya di Sekolah.

“Apa!!!! Dokter pasti bohong. Anak saya tidak mungkin sakit Dokter. Dia baik-baik saja.  Rintihan seorang Ibu yang tidak ingin mendengar kabar bahwa anaknya terkena penyakit yang mematikan. Matanya sembab oleh tangisannya yang menjadi-jadi.
“Sudahlah, Bu...” Suami menenangkan Istri yang sedang gelisah sekali.
“Tapi, Yah... Kasian Lauren anak kita. Dia masih terlalu muda, dan masa depannya pun masih panjang. Dia memiliki angan-angan yang belum tercapai.” Tangisannya terisak.

Dari balik jendela ruang periksa ternyata, Lauren mendengar pembicaraan tersebut. Mendengar hal itu... air matanya mulai menetes di pipi gadis itu.

Lauren menangis hingga tangisannya terisak. Ia mulai menyalahkan tuhan, “Tuhan... Kau tidak adil padaku. Mengapa di saat seperti ini Kau berikan aku coba'an yang begitu berat. Apa salahku Tuhan? Aku ingin seperti mereka yang senang tanpa beban penyakit.”

Semenjak kejadian malam itu, Lauren sering melamun. Lauren juga tidak seceria dulu, sebelum Ia tahu umurnya di dunia tidak lama lagi. Hanya tinggal menghitung hari.
Obat yang berjejer disamping tempat tidur Lauren, membuatnya susah untuk tidur. Ia membayangkan... “Sampai kapan aku harus meminum obat-obat ini?”.

Terkadang Lauren tidak meminum obatnya, alasannya karena Ia bosan meminum obat-obat itu.
Memprihatinkan sekali. Sekolah pun Lauren harus di jaga. Berangkat dan pulang Sekolah harus dijemput. Kebiasaan Lauren kini berubah drastis, tidak seperti dulu.

Pagi ini Lauren datang tepat waktu ke Sekolah. Tepat dengan lonceng Sekolah yang berdenting tanda masuk, Teng, teng, teng...”
Lauren masuk kelasnya, betapa anehnya wajah teman-teman Lauren. Mereka melihat Lauren dengan wajah yang memelas. Mungkin saja mereka tahu apa yang dirasakanLauren saat ini.

Menurut Lauren, tak ada satu pun temannya yang tahu tentang penyakitnya, bahkan kekasihnya (Albert) sekalipun. Karena Lauren tidak mau ada yang mengasihi dirinya.
Terkadang juga Lauren merasa, teman-temannya sangat memerhatikan dia.
Kini semuanya terasa aneh bagi Lauren. Tak seperti dulu.

Jam istirahat. Albert datang dengan membawa coklat kesukaan Lauren.
“Aku membawa sesuatu untukmu.” Albert mengeluarkan coklat dari saku bajunya.
Lauren tersenyum senang, lalu mengambil coklat tersebut dari genggaman Albert.

Albert melihat kesedihan di mata kekasihnya.
“Tahun baru nanti kita pergi ke danau tempat biasa ya...? dua bulan lagi tahun baru. Aku mau melihat kembang api yang berwarna-warni di awan untuk yang terakhir.” Suara Lauren lirih mengucapkan kata-kata itu.
 “Terakhir? Apa maksudmu?”Memangnya kamu mau kemana?” tanya Albert bingung.

Lauren tersenyum mendengar pertanyaan Albert, “Aku tidak akan kemana-mana, dan aku juga tidak akan pergi jauh darimu. Itu janjiku.”
“Syukurlah.. Aku kira kau akan meninggalkan aku.”
Lauren menahan air matanya di depan Albert. Wajahnya tampak pucat. Tak di sadari oleh Lauren, dari hidungnya keluar darah. Melihat hal itu, Albert langsung membawanya ke UKS.
“Entah apa yang terjadi pada Lauren, “ Pikir Albert.
Lauren terbaring lemas di UKS. Albert menunggu Lauren hingga sadar.

Sesadarnya Lauren, Albert langsung bertanya, “Sebenarnya kamu kenapa?”
Lauren hanya menggelengkan kepalanya.
Albert memegang tangan Lauren, “Ceritalah kepadaku apa yang sebenarnya terjadinya?”
“Maafkan aku... bukannya akau tidak mau bercerita, tapi belum saatnya aku ceritakan..”
“Baiklah, tak apa-apa kalau kamu belum mau bercerita.”

Pulang Sekolah Lauren dipapah oleh pembantu dan supirnya turun dari mobil. Ibunya sudah tahu dari Albert apa yang terjadi di Sekolah.
Sampai di Kamar Lauren, ia berbaring di ranjang tempat tidurnya. Dari wajahnya terlihat letih. Wajah yang pucat pasi.

Ibunya menyodorkan obat, “Ini minum dulu obatnya!”
Lauren menolak. Bagi Lauren... minum obat atau tidak sama saja, toh ia akan menjemput ajal nantinya. Ibunya memeluk Lauren, air mata Ibunya menetes. Dengan mata yang sembab Ibunya berkata, ”Jangan berkata seperti itu... kita harus berusaha.”
“Tapi dengan cara apa lagi Ibu?”
Dengan sabar Ibunya berkata, “Kita coba Kemoterapi ya, Nak? Dokter menyarankan itu.”
“Kemoterapi?... Tidak Ibu. Kemoterapi hanya menyiksa Lauren.”

Lauren tahu Kemoterapi hanya memperlambat penyebaran penyakitnya, tetapi tidak membuat penyakitnya sembuh. Kemoterapi membuat tubuhnya habis termakan oleh penyakit mematikan yang dideritanya.
Kemoterapi juga membuat nafsu makan hilang, rambutpun akan rontok dengan sendirinya.
“Ayolah Lauren, kita coba dulu.” Bujuk Ibunya.
Lauren tidak kuasa menolak permintan Ibunya. Ia pun menyetujui permintaan Ibunya.

Beberapa hari kemudian, Lauren mencoba Kemoterapi.
Rasanya seperti aneh ditubuhnya. Pertama kalinya Lauren Kemoterapi. Begitu menyakitkan baginya. Membuat sekujur badannya sakit. Hingga pada saat Kemoterapi terkadang Ia menjerit kesakitan.
Orang Tuanya tidak tega melihat Lauren menahan sakit yang amat sangat. Mau bagaimana lagi, mungkin dengan cara ini, akan memberi harapan hidup bagi Lauren.

Setelah Kemoterapi, Lauren muntah karena rasa mual akibat efek Kemoterapi.
“Rasanya aku tidak sanggup. Tuhan...  Obat-obatan dan Kemoterapi hanya menyiksa hidupku.Akhirilah penderitaanku ini.” Ujar Lauren meneteskan air matanya.
Lauren hanya bisa pasrah. Hidupnya tidak akan bisa bertahan lama, mungkin.
Waktu terasa begitu cepat. Tidak terasa sudah dua bulan Lauren berjuang melawan penyakitnya. Selama satu bulan juga penyakit itu menggerogoti tubuh Lauren.

Ketika bangun tidur, Lauren selalu dikejutkan dengan rontokan rambutnya. Selalu ia menangis melihat rambutnya sedikit demi sedikit mulai rontok. Tubuhnya semakin kurus tak berdaya. Wajahnya pun memucat.
Sampai Sekolah pun Lauren tinggalkan. Karena takut kondisinya semakin menurun.
Setiap sore waktunya hanya di habiskan untuk duduk disamping jendela. Memandang keluar rumah.
Hujan deras sore ini, Lauren memandangi rintik hujan yang turun. Rintik hujan itu seakan menjadi penghiburnya.  Udara dingin mulai terasa, menusuk hingga ketulangnya. Di ambil olehnya jaket disamping meja tempat menaruh air minumannya.

Derai rintik hujan yang membasahi bumi mengiringi doanya.
“Tuhan... Kalau memang ini yang terbaik untukku. Aku Ihklas menerimanya. Aku rela meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Meskipun berat rasanya hatiku meninggalkan mereka. Jika aku telah tiada nanti Tuhan... Aku ingin mereka yang menyayangiku tidak menangisi kepergianku. Aku ingin mereka tersenyum bahagia, melihat aku tenang disisi-Mu. Jaga mereka, seperti Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang taat kepada-Mu.”

Malam harinya. Lauren mengambil obat dari meja disamping tempat tidurnya. Di minumnya obat itu. Lalu ia mengambil sebuah kalender kecil yang berada tepat di samping tempat tidurnya. Di coret olehnya tanggal hari ini, yaitu tanggal 20 Desember.
“ 11 Hari lagi Tahun Baru. Apakah aku bisa melewati Tahun Baru kali ini? Mungkin iya... Mungkin juga tidak. Tapi aku ingin melewati malam Tahun Baru ini.”
Suara lirih dengan nada sumbang keluar dari mulutnya. Setelah mencoret tanggal pada hari ini, Ia kembalikan lagi kalender itu ketempat semula.

Malam ini bintang-bintang bertaburan dengan indah di langit. Tidak seperti sore harinya, hujan turun dengan derasnya. Bintang dan bulan sangat serasi. Menambah  keindahan malam.
“Klik.” Lampu kamar Lauren dimatikan. Ia tertidur tanpa gelisah malam ini. Dari raut wajahnya, tak ada lagi kesedihan. Yang ada hanya ketenangan.
Heningnya malam seakan menina bobokan Lauren dalam tidurnya. Rasa lelah tak tampak. Ingin rasanya seperti ini terus. Tak ada kegelisahan, tak ada kesedihan. Yang ada hanya ketenangan.

Kicauan burung mulai bersahut-sahuttan. Membangunkan Lauren yang  tertidur lelap.
“Terima Kasih Tuhan. Engkau bisa membuatku melihat mata hari pagi yang menyinari dunia pagi ini.” Ujarnya ketika Lauren membuka matanya. Cahaya yang datang dari selal-sela hordeng jendela menyilaukan matanya.
Begitu nyaman dan hangat matahari yang menyinari bumi pagi ini.
Lauren bangun dari ranjang tempat  tidurnya. Ia membuka jendela kamarnya.
“Sejuk rasanya pagi ini. Selamat pagi burung-burung yang indah. Selamat pagi dunia.” Wajahnya kelihatan riang.

Tak berapa lama dari itu, Kepalanya sakit. Sakit sekali. Wajahnya memucat pasi. Pandangannya mulai menghitam, lalu Ia jatuh tak sadarkan diri, pingsan.
Beberapa menit kemudian. Matanya mulai terbuka, Ia sadar.  
“Dimana Aku?” Tanpa disadarinya.
“Kamu sudah sadar, Nak? Terima kasih Tuhan..” Suara Ibunya seraya mengucap syukur.

Dipandangi olehnya satu persatu orang disekelilingnya. Ia tidak melihat Albert disana. Kemana Albert? Kenapa disaat Lauren sedang seperti ini Albert tidak ada. Rasa kecewa mulai menyelimuti Lauren.
“Ibu, Kemana Albert? Apakah Ia tidak datang?” Suara serak Lauren.
“Dia sedang ada urusan. Tadi dia sempat mengantarmu ke Rumah Sakit. Lalu Ia pergi lagi.”
rasa kecewanya sedikit terobati mendengar ucapan Ibunya.
“Aku ingin pulang Ibu. Aku tidak mau di sini.” Ujar Lauren.
“Kamu harus di sini dulu Lauren. Supaya mendapatkan perawatan yang lebih baik.”
“Tapi aku tidak ingin menghabiskan waktu Aku di sini Ibu.”

Akhirnya, Ibu Lauren mengabulkan permintaan Lauren. Sore ini Lauren pulang. Ia tidak bisa bebas berjalan lagi seperti dulu. Kini Ia harus memakai kursi Roda.
Sampai di rumah, Ia langsung menuju Taman dihalaman Rumahnya. Wajahnya semakin memucat. Tubuhnya pun kelihatan kurus.

Di Taman rumahnya, Lauren duduk dengan memakai kursi rodanya. Sambil duduk Ia memandang ke arah anak-anak kecil yang sedang bermain.
“Bahagianya anak-anak itu... bermain dengan riangnya tanpa beban. Seperti baru lahir ke dunia, tanpa dosa.”
Dari belakang mulai agak terdengar seperti suara langkah kaki orang yang sedang berjalan. Ternyata Albert. Dari belakang Albert menutup mata Lauren.
“Coba tebak.”
“Albert!”Tebak Lauren.
“Yahhh... Ketahuan.” Albert tersenyum menghadap ke depan Lauren.

Albert jongkok menyamai Lauren yang duduk di kursi Roda. Albert memberikan tiga buah coklat kesukaan Lauren.
“Aku sudah tahu semuanya.” Albert bercerita.
Lauren hanya terdiam.
“Aku tahu itu. Ibumu sudah menceritakannya padaku.”
Lauren masih terdiam.
“Aku tidak akan meninggalkanmu Lauren. Apapun yang terjadi.” Albert memeluk Lauren.
Lauren tidak bisa berkata apa-apa lagi, air matanya menetes di pelukan Albert.

Di usap oleh Albert kepala Lauren yang tertutup dengan kain penutup kepala.
“Kamu harus sabar Lauren.”
“Sampai kapan aku harus bersabar dengan penyakit Leukimia ini? Tidak sanggup rasanya seperti ini.”
“Jangan berbicara seperti itu.”
“Albert! Kamu harus melanjutkan Sekolahmu ya? Jangan pernah meneteskan air mata untukku.” Pesan Lauren.
Albert hanya diam mendengarkan Lauren.
Albert melihat Lauren yang sudah terisak dengan tangisannya. Ia mengusap air mata dari pipi Lauren.
“Sudah... Jangan menangis lagi.”

Besok adalah hari ke 30 menjelang Tahun Baru. Tak sabar rasanya Lauren menantikan hari itu.
Albert menelepon Lauren. Ibu Lauren memberikan teleponnya kepada Lauren.
“Lauren, ada telepon dari Albert.”
Lauren mengambil telepon tersebut. “Halo.”
“Lauren, bagaimana kabarmu hari ini?”
“Aku baik-baik saja hari ini. Ada apa meneleponku?”
“Besok aku jemput. Tepat pukul 09.00 Wib malam. Jadi kamu harus bersiap.”
“Baiklah.”
Lauren menutup teleponnya.

Ia meminta tolong kepada Ibunya untuk mengemasi barang yang akan dibawanya besok malam. Mungkin Ia akan menginap di sana. Di danau itu ada sebuah tempat penginapan.
“Barang bawaanmu sudah Ibu siapkan Lauren.”
“Terima kasih Ibu.”
“Hati-hati disana ya! Jangan lupa pakai jaketmu jika malam tiba. Dan jangan lupa juga minum obatmu.”
“Iya Ibuku...”

Keesokan harinya, Albert menuju rumah Lauren. Ia sampai di rumah Lauren tepat pukul 08.00 Wib malam.
Albert menuntun Lauren ke mobilnya.
Orang Tua Lauren mengantarkan sampai kedepan rumah.
“Albert! Jaga Lauren baik-baik ya.” Pesan Ibu Lauren.
“Iya Tante. Saya akan menjaga Lauren dengan sebaik-baiknya.”
Mobil Albert melaju meninggalkan rumah Lauren. Semakin menjauh, menjauh, dan menjauh. Hingga mobil Albert tidak terlihat lagi dari pandangan dekat.

Di mobil, Lauren hanya terdiam melihat pemandangan dari luar jendela kaca mobil. Perjalanan lumayan jauh. Hingga Lauren tertidur.
Albert tersenyum melihat Lauren tidur dengan nyenyaknya. Di usap oleh Albert kepala Lauren.
Sekitar pukul 11.00 Wib Albert sampai di danau yang dituju, dan merapatkan mobilnya di parkiran mobil.
Albert tidak tega membangunkan Lauren yang tertidur nyenyak. Tapi tetap harus dibangunkan.
“Lauren... kita sudah sampai.” Albert menepuk pundak Lauren.
Seketika itu juga Lauren terbangun dari tidurnya. “Benarkah?”
“Iya, kita sudah sampai.”

Albert turun dari mobilnya dan mengambil kursi roda dari bagasi. Setelah itu, Albert menggendong Lauren agar bisa duduk di kursi roda.
Albert berjalan bersama Lauren yang duduk di kursi roda menuju danau. Albert menghentikan dorongan kursi rodanya. Ia duduk disamping Lauren.
“Indahnya danau ini pada malam hari.” Ucap Lauren
“Betul sekali. Apakah kamu mau kesini lagi esok hari Lauren?”  Tawaran Albert.
“Boleh saja. Jika umurku masih ada. Aku pasti akan kemari lagi.”
“Jangan berbicara seperti itu lagi.”
“Aku harus menerima takdirku. Mungkin Tuhan memberiku yang terbaik. Aku yakin Tuhan tidak akan membuatku sakit lagi disana.”

Mendengar ucapan Lauren, Albert tak kuasa menahan air matanya.
“Kenapa kamu menangis Albert. Hapus air matamu. Coba lihat dirimu, kamu seperti anak kecil.” Lauren tersenyum.
“Jedeeeeerrrrr.....” Kembang api Tahun Baru yang pertama sudah mulai terdengar.
“Hei lihat..” Tangan Lauren menunjuk ke arah awan yang berwarna oleh kembang api tengah malam ini.

Mereka berdua memandangi kembang api yang menghiasi awan. Suara-suara gemuruh kembang api membuat ramai malam ini.
Kepala Lauren bersandar di pundak Albert.
Lauren berdoa, “ Tuhan jagalah Albert dalam lindunganmu. Buatlah ia senantiasa tersenyum. Tuhan jika umurku sampai malam ini, aku rela bersamamu.”

Albert memegang tangan Lauren. Terasa olehnya Lauren sedang kedinginan. Albert memeluk Lauren yang kedinginan.
Terdengar oleh Albert , suara Lauren lirih ditelinganya ketika ia memeluk Lauren, “Albert... tetap lanjutkan Sekolahmu. Jangan bersedih karena aku, tapi tersenyumlah karena aku. Dan jangan kamu lupakan kenangan kita. Ingatlah aku selalu.”
Albert menjawab, “Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku akan selalu mengingatmu.”

Pelukan Lauren yang erat tiba-tiba saja melemah. Tak terdengar lagi suara yang terucap dari mulutnya. Tubuhnya pun lemas terkulai.
Albert memanggil Lauren, tetapi tidak ada respek sedikitpun dari Lauren. Albert melihat wajah Lauren yang memucat pasi.

Kekhawatirannya kini terjadi.
Wanita yang amat disayang olehnya, pergi meninggalkan Albert untuk selamanya.
Hujan membasahi tanah merah pagi ini.

Tanah merah yang kering, kini basah oleh derasnya hujan. Para pelayat satu persatu pergi meninggalkan pemakaman. Yang ada sekarang hanya Albert  sendiri. Hujan juga membasahi Albert yang berjongkok disamping makam Lauren. Albert hanya terdiam melihat pusara makam.

Dalam hati Albert, “Aku akan menuruti semua perkataanmu Lauren. Semoga kamu tenang disana.”
Albert pergi meninggalkan makam Lauren. Kini yang tersisa hanya pusara Lauren yang basah karena hujan.

     

Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook

DbClix




Cerita Cerita Lainnya :

Powered By relatedArticle

CeritaCeritaKu.Com TrafficRevenue Get paid To Promote at any Location

GTranslate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Sponsor Kami #1

Custom Tags Cloud