Cerita Terbaru
- CERITA CINTA : KEKASIH TAK SAMPAI
- CERITA DEWASA : PAARTWENE
- CERITA CINTA : PURNAMA DI PELUPUK MATA
- CERITA DEWASA : CINTA BISU
- CERITA DEWASA : Cinta Sejati
- CERITA DEWASA : Tinggal Kenangan
- CERITA DEWASA : Terpisahnya Persabatan
- CERITA DEWASA : Penghianat Cinta
- CERITA DEWASA : Kenapa Kau Ambil Ke Dua Orang Tua Ku
- CERITA DEWASA : TAKDIR (True Story)
- CERITA DEWASA : JANJI MANIS
- CERITA CINTA : AKU INGIN DIA KEMBALI
- CERITA CINTA : DOA CINDY KEPADA MANTAN PACAR PLAYBOY (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : TERPISAHNYA PERSAHABATAN
- CERITA DEWASA : DOLLY
- CERITA CINTA : PENGHIANAT CINTA
- CERITA DEWASA : Mata Cinta Kasih dari Surga
- CERITA CINTA : Karena Cinta Sejati, Vino Tidak Jadi Pergi
- CERITA CINTA : HUJAN DI BULAN JANUARI
- CERITA DEWASA : MALAM MINGGU KELABU
- CERITA DEWASA : DUA CINTA
- CERITA DEWASA : GELISAH SI CANTIK NESSA YANG PUTIH MULUS DAN SEXY
- CERITA DEWASA : MENCINTAIMU...
- CERITA DEWASA : MISTERI CINTA SESAAT
- CERITA DEWASA : ALWAYS IN LOVE
- CERITA DEWASA : BAU BADAN... OH NO !!!
- CERITA DEWASA : TERSENYUMLAH UNTUKKU
- CERITA DEWASA : KEPENTOK CINTA KAKAK KELAS
- CERITA DEWASA : GARA-GARA FACEBOOK (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : CARIIN GUE COWOK !!!

Sponsor Kami #2
Iklan Link
Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
CERITA DEWASA : TOLONG AKU (HOROR)
Last Updated on Tuesday, 06 July 2010 13:52 Written by Administrator Tuesday, 06 July 2010 13:50
ICHA! Mahasiswi jurusan kedokteran ini harus pindah kuliah ke Jakarta. Icha pindah dari Sumedang karena orang tuanya yang berprofesi sebagai dokter dipindah tugaskan ke Jakarta.
Ini hari pertamanya masuk Universitas baru di Jakarta. Icha menuju resepsionis Universitas tersebut, “ Selamat siang mba. Saya mahasiswi baru, saya sudah buat janji dengan Ibu Irma. Ruangan Ibu Irma dimana ya Mba…??”
“Oh kamu Icha ya, pindahan dari Sumedang? Tadi Ibu Irma sudah berpesan kepada saya, kamu disuruh langsung saja keruangannya.”
“Ruangannya dimana ya Mba…?”
Resepsionis menjawab dengan ramah, ”Ruangan Ibu Irma di Lorong paling ujung. Dari sini lurus, belok kanan. Nah, ruangan Ibu Irma paling ujung di Lorong itu.”
“Oke. Makasih ya Mba.”
Setelah mengucapkan terima kasih Icha menuju ruangan Ibu Irma. Ibu Irma adalah Rektor Universitas tersebut. Universitas ini terkenal dengan gedungnya yang menjulang tinggi hingga 18 lantai, dan juga terkenal dengan prestasinya yang begitu banyak.
“ Lurus… Trus belok kanan…” Icha menelusuri lorong itu. Suasana di Lorong itu sunyi senyap, mungkin karena para mahasiswi disini jarang sekali ke Lorong ini, dan mungkin juga mereka sedang ada kelas.
Lorong ditempat begitu mencekam, hingga membuat bulu kuduk Icha berdiri dan perasaannya tak enak. Memang Universitas ini sudah lama sekali berdiri.
Hingga akhirnya, Icha sampai di lorong yang ia tuju. Di luar lorong ada sebuah tempat duduk untuk menunggu.
Di lihatnya seorang mahasiswi dengan wajah pucat pasi, rambut terurai dan tatapan matanya kosong. Icha menghampiri mahasiswi tersebut, sekedar ingin bertanya.
“Permisi, ruangan Ibu Irma dimana ya ??? Dengan wajah menegang Icha menatap mahasiswi tersebut. Mahasiswi tersebut tidak berkata sepatah katapun, ia hanya menunjuk kesebuah ruangan.
Icha makin takut dengan mahasiswi tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi, Icha langsung pergi meninggalkan mahasiswi tersebut.
“Aduh…kenapa gw jadi merinding gini ya…???” Ujar Icha yang makin mempercepat langkahnya.
Sampailah dia di ruangan yang dituju.
“Tok, tok, tok…” Icha mengetuk pintu.
Dibukanya pintu itu, dan dilihatnya seorang wanita paruh baya memakai kaca mata duduk menghadap Icha.
“Selamat sore.” Salam Icha.
“Iya, selamat sore..silahkan duduk!!!!” wanita itu mempersilahkan Icha duduk.
Lama Icha berada di Ruangan Ibu Irma, Hingga tak terasa hari menjelang malam ketika Icha pulang.
Bintang malam menghiasi langit. Mobil Icha melaju dengan santainya, hingga ia sampai di rumah. Icha langsung masuk kamar dan tertidur.
Di lihat olehnya seorang gadis yang sedang duduk. Sepertinya dia menunggu seseorang. Tapi, siapa yang dia tunggu?
Tak lama kemudian wajah gadis itu berubah menjadi berlumuran darah. Sepertinya wajah gadis itu Icha kenal. Benar saja gadis itu adalah mahasiswi yang ditemuinya di Universitas tadi.
“Tolong..tolong…” wajah gadis itu memelas merintih dengan nada yang sayu.
Tetapi, betapa kagetnya Icha ketika melihat gadis itu diseret seperti binatang oleh seorang wanita paruh baya yang tidak terlalu jelas wajahnya.
Samar-samar Icha melihat kejadian itu. Terlebih lagi ketika gadis itu diseret dan masukkan kedalan bak mandi. Dengan wajah yang berlumuran darah gadis itu berontak menyelamatkan diri, tetapi tak bisa. Wanita paruh baya yang menyiksa gadis itu mengambil sebuah gergaji mesin.
Betapa terkejutnya Icha melihat kepala gadis itu dipotong dengan gergaji mesin.
Tak hanya kepalanya saja yang terpotong, tapi tangan, kaki, dan seluh badan gadis itu terpotong habis.
Setelah itu, wanita paruh baya tersebut membawa potongan-potongan seluruh tubuh gadis itu dengan sebuah karung. Dibawanya karung tersebut menjauh dari tempat itu. Wanita paruh baya itu mengambil cangkul dan menggali tanah untuk menguburkan potongan tubuh gadis itu.
Setelah dikubur, wanita itu menutup kuburan tersebut dengan semen hingga tak terlihat mencurigakan.
Menjeritlah Icha sejadi-jadinya.
“Aaaaaaaaakkhhhhhhh……” Dengan nafas yang tersenggal-senggal Icha terbangun dan mengambil segelas air putih disebelah tempat tidurnya.
“Ya Tuhan… ternyata hanya mimpi…Bukan kenyataan..” Icha masih tak bisa melupakan mimpinya itu.
Namun, tanpa menghiraukan mimpinya, Icha melanjutkan tidur.
Pagi yang indah. Burung berkicau dengan riangnya. Hari baru menuju Universitas.
“Hai, anak baru ya….Gw Rani. Nam aloe siapa?” Rani memberikan jabatan tangannya ke Icha.
“Iya, gw anak baru pindahan , nama gw Icha, senang berkenalan dengan loe Rani.” Icha tersenyum.
“Ikut gw yuk! Loe kan anak baru jadi pasti loe belum tahu semua tempat di kampus ini kan?””
“Kemana?” Icha heran dengan Rani yang gampang sekali bergaul dengan orang yang baru di kenal. Rani gadis yang cantik, agak gemuk dan selalu membawa cemilan kemanapun dia pergi.
“Udah ayo..Ikut adjah!” Rani menarik tangan Icha.
Rani mengajah Icha duduk di Taman kampus.
Di taman, Icha dan Rani duduk disebuah pohon besar yang rindang. Mereka membicarakan mengenai kepindahan Icha dari Sumedang ke Jakarta.
Icha tak sengaja melihat dipohon besar itu tertulis sebuah nama. Dirabanya pohon itu dan terlihat nama ANA LOVE RINO.
“Widiiiihhhhh…liat apa loe Cha? Serius amat liatnya.” Rani mengagetkan Icha.
“Gak ko, gw liat nama ini.” Icha menunjuk pohon itu.
“Coba gw liat!” rani melihat nama yang tertulis dipohon itu.
Wajah Rani langsung berubah.
“Kenapa Ran?”
“Ini sih namanya Ana…” Ujar Rani.
“Loe kenal?”
“Ia mahasiswi disini. Dia mahasiswi angkatan tahun 2006.”
“Terus.” Icha makin penasaran dengan cerita Rani.
“Tapi dia sekarang gak tahu kemana.”
“Loh kok gitu…?”
“Iya, Dia sampai sekarang gak tahu kemana, dah kaya ketelan bumi. Terus Rino, GILA!!.
Gara-gara Ana gak tahu kemana perginya. Udah ah..gak usah ngomongin itu lagi mendingan kita ke kantin cari makanan..Hehehe…Laper nih…”
“Huhhh dasar makan mulu kerjaannya, ya udah ayok ke kantin!!!”
Icha dan Rani pergi meninggalkan Taman. Disamping pohon itu terlihat seorang gadis yang tiba-tiba saja muncul. Dengan wajah sedih, sepertinya gadis itu menangis. Lalu gadis itu menghilang begitu saja.
Semakin hari Icha dihinggapi rasa takut. Icha selalu memimpikan gadis itu.
“Kayanya semenjak gw ketemu gadis itu di tempat waktu gw mau ketemu Ibu Irma, gw selalu mimpi aneh deh…! Apa mungkin ini ada hubungannya sama nama yang ditulis di pohon itu. Gw gak mau nih terus-terusan di hantui rasa takut. Ehhh…tapi gw kan gak kenal sama cewek itu, tapi kenapa dia ganggu gw? Pokoknya gw harus cari tahu….!!!”
Setelah selesai kuliah Icha menunggu Rani di taman.
“Ada apa Cha?” Rani datang dengan cemilannya.
“Gw mau tahu tentang Ana!”
“Hah, buat apa loe mau tahu?”
“Gw yakin mimpi gw pasti ada hubungannya dengan Ana… Semenjak gw ketemu gadis di lorong tempat ruangan Ibu Irma, gw sering mimpi aneh Ran…”
“Gadis??? Setahu gw jarang banget yang mau keruangan Ibu Irma. Kata mahasiswi disini, lorong itu angker… Gw adjah gak pernah ke ruangan Ibu Irma.”
“Kenapa begitu..?” Icha heran.
“Gw juga gak tahu kenapa.”
“Ya udah, anterin gw kebagian administrasi yuk?”
“buat apa Cha?”
“Gw mau minta alamatnya Ana! Udah cepetan!.”
Setelah mendapatkan alamat Ana, Icha dan Rani langsung menuju rumah Ana. Sampai di rumah Ana, mereka langsung tho the point tentang kedatangan mereka kepada Ibunya Ana.
“Saya juga tidak tahu kemana Ana. Dia waktu itu hanya pulang sebentar, anehnya lagi wajah Ana terlihat seperti orang sakit, terlihat dingin dan tidak berbicara sepatah katapun.” Ujar Ibu Ana yang merasa kehilangan anak gadis satu-satunya itu.
“Kalau boleh tahu Bu… terakhir kali Ana sebelum Ana menghilang dia kemana ya Bu??” tanya Icha.
“Dia Cuma bilang mau menemui Rino.”
Setelah mendengar penjelasan dari Ibu Ana, Icha dan Rani langsung pamit pulang.
Di rumah, Icha hanya memikirkan Ana. “Siapa sebenarnya dia? Lalu kenapa dia selalu datang dalam mimpiku?”
Teringat oleh Icha dimimpinya, Icha mengenali ruangan tempat gadis itu dibunuh.
Icha langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju taman kampus. Sebelum Icha menuju taman kampus, Icha bermaksud meminta izin kepada Ibu Irma Rektor kampusnya.
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Petir dan kilat seakan semakin menggambarkan malam yang kian mencekam. Icha menuju lorong tempat Ibu Irma. Lorong itu gelap.
Icha terus melangkah dengan perasaan yang campur aduk, antara takut dan ingin menyelesaikan masalah ini. Ia makin mempercepat langkahnya.
Sampai di ruangan Ibu Irma. Di bukanya pintu ruangan, tetapi terhenti sejenak ketika Icha melihat Ibu Irma berbicara dengan seorang wanita. Didengar oleh Icha percakapan mereka.
“Maaf Bu, tapi saya sudah tidak bisa terus menerus seperti ini, saya selalu dihantui rasa bersalah. Sampai kapan saya harus menyembunyikan ini? Ana selalu menghantui saya.” Ucap Bu Irma.
”Tolonglah Bu... saya mohon jaga rahasia ini, saya tidak mau masuk penjara!” Wanita itu memohon kepada Ibu Irma.
Ibu Irma berkata dalam hati, ” Andai saja dulu saya tidak membantu Ibu Retno untuk membunuh Ana, pasti tidak akan begini jadinya.”
Ibu Irma membantu Ibu Retno yang ternyata adalah Ibu dari Rino.
Malam itu Ibu Irma menelepon Ana, memberitahukan bahwa Rino ingin bertemu dengannya. Tetapi ternyata Ana hanya akan mengantarkan ajalnya. Ibu Retno membunuh Ana karena ia tahu Ana hamil diluar nikah oleh Rino. Dari awal memang Ibu Retno tidak setuju dengan hubungan mereka. Ana hanya dari keluarga miskin dan Rino dari keluarga terpandang, hal ini yang membuat Ibu Retno tidak setuju dengan hubungan mereka.
Pembicaraan Ibu Retno dan Ibu Irma masih terus berlanjut, hingga tak disangka oleh mereka sosok seorang gadis berwajah tertutup rambut sudah ada dibelakang Ibu Retno. Gadis itu tiba-tiba mencekik Ibu Retno dari belakang. Ibu Irma menjerit karena rasa takutnya melihat itu. Ibu Retno meronta-ronta karena tercekik. Dilepaskannya cekikan gadis itu, lalu menjauh. Gadis itu mengambil gergaji mesin.
”Ini yang dulu kau lakukan padaku, kau telah membunuh janin yang tak berdosa ini. Sekarang terimalah ajalmu.” ucap gadis itu dengan mata merah dan wajah marah mengingat dulu ia diperlakukan seperti itu. Dengan penuh amarah gadis itu memotong kepala Ibu Retno dengan gergaji mesin. Kepala Ibu Retno langsung terpental dan darahnya memuncrat hingga kedinding tembok. Seketika itu juga darah berceceran dimana-mana hingga mengenai Ibu Irma. Gadis itu Icha kenal, dia Ana!!!
Icha langsung mengambil ponsel dari kantong celananya, dan langsung menelepon polisi.
Yang ada diruangan itu kini tinggal Ibu Irma dan Ana. Ibu Irma memohon maaf kepada Ana. Tetapi seketika setelah membunuh Ibu Retno Ana menghilang begitu saja.
Beberapa menit kemudian polisi datang. Ibu Irma langsung dibawa kekantor polisi. Mayat Ana yang kini hanya tinggal tulang belulang kini sudah bisa dimakamkan secara layak. Kini Ana sudah tenang disana.
Pagi ini langit cerah dan suara kicauan burung di TPU itu sangat merdu. Icha datang dengan menggunakan baju berkabung. Tak hanya Icha yang datang kepamakaman itu tetapi juga seluruh teman Rino juga datang. Wajah penuh duka menyelimuti seluruh keluarga Ibu Retno yang meninggal karena kesalahannya sendiri. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi mendung berawan.
Tak lama kemudian, hujan rintik-rintik turun membasahi tanah yang masih merah. Pelayat satu persatu pergi meninggalkan pemakaman. Tak ada yang harus disesali lagi. Tak ada yang harus mendendam lagi. Semuanya sudah terjadi. Jadikan semua ini menjadi suatu pelajaran dalam hidup. Bahwa semua yang dilakukan pasti ada pertanggung jawabannya.
Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook
| < Prev | Next > |
|---|
CeritaCeritaKu.Com




