Cerita Terbaru
- CERITA CINTA : KEKASIH TAK SAMPAI
- CERITA DEWASA : PAARTWENE
- CERITA CINTA : PURNAMA DI PELUPUK MATA
- CERITA DEWASA : CINTA BISU
- CERITA DEWASA : Cinta Sejati
- CERITA DEWASA : Tinggal Kenangan
- CERITA DEWASA : Terpisahnya Persabatan
- CERITA DEWASA : Penghianat Cinta
- CERITA DEWASA : Kenapa Kau Ambil Ke Dua Orang Tua Ku
- CERITA DEWASA : TAKDIR (True Story)
- CERITA DEWASA : JANJI MANIS
- CERITA CINTA : AKU INGIN DIA KEMBALI
- CERITA CINTA : DOA CINDY KEPADA MANTAN PACAR PLAYBOY (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : TERPISAHNYA PERSAHABATAN
- CERITA DEWASA : DOLLY
- CERITA CINTA : PENGHIANAT CINTA
- CERITA DEWASA : Mata Cinta Kasih dari Surga
- CERITA CINTA : Karena Cinta Sejati, Vino Tidak Jadi Pergi
- CERITA CINTA : HUJAN DI BULAN JANUARI
- CERITA DEWASA : MALAM MINGGU KELABU
- CERITA DEWASA : DUA CINTA
- CERITA DEWASA : GELISAH SI CANTIK NESSA YANG PUTIH MULUS DAN SEXY
- CERITA DEWASA : MENCINTAIMU...
- CERITA DEWASA : MISTERI CINTA SESAAT
- CERITA DEWASA : ALWAYS IN LOVE
- CERITA DEWASA : BAU BADAN... OH NO !!!
- CERITA DEWASA : TERSENYUMLAH UNTUKKU
- CERITA DEWASA : KEPENTOK CINTA KAKAK KELAS
- CERITA DEWASA : GARA-GARA FACEBOOK (KISAH NYATA)
- CERITA DEWASA : CARIIN GUE COWOK !!!
AdsSpy: 18 sites by this AdSense ID 

Sponsor Kami #2
Iklan Link
Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
--------------------------
CERITA CINTA : DOA CINDY KEPADA MANTAN PACAR PLAYBOY (KISAH NYATA)
Last Updated on Tuesday, 30 November 1999 07:00 Written by Administrator Thursday, 10 March 2011 16:07
Dari teman baikku yang mengenalkan kami, lalu aku dan Riki memulai hubungan pertemanan kami lewat chatting, dari obrolan-obrolan ringan dan tidak pernah serius, kami merasa sangat nyaman dan hubungan pun berjalan dengan lancar. Meskipun usianya lebih muda 2 tahun dari ku, namun aku tak ambil pusing. Aku pikir, hubungan kami hanya sebatas hubungan ”have fun”.
Dari obrolan-obrolan itu, kami bertukar nomor hp. Dan mulai menjadi teman sms-an, tak hanya jadi teman di dunia maya saja. Setelah kira-kira satu bulan, kami memutuskan untuk bertemu.
Di pertemuan kami itu, kami mulai membicarakan hal-hal yang serius dan kami sepakat untuk menaikkan status hubungan kami, dari pertemanan menjadi pacaran.
Pada saat-saat awal pacaran, aku tidak pernah berpikir untuk menjadikan dia sebagai pria yang istimewa, apalagi mengingat usianya yang masih lebih muda, dan dia adalah orang asing yang baru aku kenal.
Satu bulan kami berpacaran, aku tetap masih keras dengan pandangan ku, dan dia juga belum ada artinya dalam hatiku. Aku hanya senang, karena setidaknya aku tidak sedang sendiri lagi. Weekend pun terasa lebih bermakna, karena aku tidak lagi menghabiskan hari-hari ku di rumah bersama anjing peliharaanku, nonton televisi berdua di dalam kamar. Biarpun begitu aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkannya. Hanya saja aku belum mau serius dalam berhubungan dengan pria manapun.
Suatu hari, aku terkejut ketika pacar berondongku itu akhirnya memprotes sifatku yang cuek dan tidak pernah memanjakannya, padahal setiap hari ia selalu berkata hangat dan manis padaku. Aku pun sedikit kelonggarkan kecuekanku itu dan mulai belajar untuk bersikap manis padanya. Tak kusangka, ia begitu senang dengan perubahan kecilku itu. Sikapnya pun menjadi semakin manis terhadapku. Sampai suatu hari ia berkata ”Aku yakin hubungan kita bisa berlanjut sampai kita akhirnya menikah. Dan aku mau kamu jadi yang terakhir untukku!”.
Perkataan itu adalah perkataan termanis yang pernah kudapat dari seorang pacar. Walapun dia bukanlah laki-laki pertama yang mengajak aku untuk serius dalam menjalin suatu hubungan, tapi entah kenapa, aku yakin dia bisa jadi yang terakhir untukku. Saat aku mendengar kata-kata itu, adalah kali pertama aku menangis untuk seorang laki-laki. Dan tangisan pertamaku ini adalah haru dan bahagia.
Perkataannya hari itu merupakan sebuah mantra ajaib yang seperti kunci dari hatiku yang tak pernah terbuka lebar bagi pria manapun. Aku mulai menginginkannya untuk jadi yang pria yang terakhir, dan berharap hubungan kami akan berlanjut sampai kami menikah.
Topik pembicaraan kami berkembang dan mulai membicarakan tentang masa depan, kami sudah saling terbuka, dan mengenal keluarga masing-masing.
Tak pernah aku merasa seperti ini sebelumnya. Aku percaya dengan setiap perkataan yang keluar dari bibirnya, aku semakin menyayanginya setiap aku bicara dengannya, setiap aku melihatnya, setiap mendengar tawanya, setiap aku menggenggam tangannya, dan setiap kali ia menciumku. Seperti obat yang membuat aku ketagihan dan semakin tak mampu lepas darinya.
cerita manis itu, suatu hari serasa lenyap ketika ia berkata padaku bahwa ia memiliki suatu penyakit, dan penyakit itu mungkin dapat merenggutnya dariku kapan saja. Namun setiap aku bertanya tentang penyakitnya, ia tidak pernah mau menjawab. Sejak mengetahui hal itu aku banyak menangis. Aku pernah berpikir dan berdoa ”Tuhan, kalau memang kami harus berpisah, aku tidak mau perpisahan itu karena penyakitnya. Lebih baik kami berpisah karena ia mencampakkanku dengan wanita lain. Aku mau ia hidup, memiliki umur panjang, sehat dan bahagia, meski bukan denganku.”
Penyakitnya adalah tangisan kedua bagiku untuk seorang pria. Aku terus berdoa dan tak pernah lupa mengingatkannya untuk meminum obat dengan teratur dan istirahat dengan baik. Hampir setiap saat aku memikirkannya, aku semakin takut kehilangan dirimya dan hampir setiap aku memikirkannya pun aku menangis.
Semenjak aku tahu penyakitnya itu, sikapnya padaku mulai berubah, ia mulai cuek dan tidak semanis dulu lagi. Aku berpikir, mungkin ia memang sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan aku juga tidak mau jadi beban, jadi aku hanya bisa bersabar menunggunya, dan berharap sikapnya akan kembali seperti awal kita berpacaran.
Seminggu sudah, sejak perubahaannya itu, aku yang masih bersabar, kini mulai gelisah, aku benar-benar merindukannya, aku ingin dia tidak bersikap seperti ini. Lalu aku pun memberanikan diri untuk bertanya ”Kamu mulai berubah, apa kamu mulai bosan denganku?”. Dengan menunggu agak lama, akhirnya ia pun menjawab ”Oh ya? Maaf ya..... Aku sedang sibuk, jadi sedikit menterlantarkan kamu.” Nada bicaranya yang berubah menjadi dingin itu, memang lebih baik daripada ia menjawabku dengan nada yang kasar dan membentak. Namum itu benar-benar jauh dari harapanku.
Tak lama setelah perkataannya yang pertama itu, ia berkata lagi ”Sekali aku bilang aku sayang kamu, ga akan berubah atau berkurang” . Lagi-lagi kata ajaibnya meluluhkan semua keraguanku padanya. Aku tenang dan percaya bahwa ia memang tidak akan berubah.
Aku sangat senang, karena aku tidak perlu mengkhawatirkan hubungan ku lagi dengannya. Namun sungguh suatu hal yang mengejutkan, ketika malam dan di hari yang sama, ia mengirimkan pesan untukku yang isinya ”Sori, mungkin kita ga usah kontek-kontekan dulu, aku lagi ada masalah.”
Seperti petir di siang hari rasanya, tak tau harus apa dan bagaimana, aku langsung menelpon, untuk minta penjelasan dari perkataannya itu. Aku sangat marah saat menelponnya, tapi yang aku inginkan sebenarnya hanya menanyakan permasalahannya, dan tidak mau kalau masalah ini berlarut-larut. Aku ingin masalah ini selesai malam ini juga.
Namun apa yang akhirnya aku dapat? Ia meminta putus! Kemarahanku seketika berubah menjadi tangis dengan beribu-ribu pertanyaan di otakku. Aku tidak pernah berpikir untuk putus dengannya, dan aku tidak pernah menginginkanya sama sekali. Meski aku bersi keras untuk tidak mau melepasnnya, tapi sikap dinginnya benar-benar mencabik hatiku hingga tidak tersisa. Aku tidak tahan dengan sikapnnya itu, sehingga aku memberanikan diri dan membunuh perasaanku itu padanya. Aku melepasnya!
Hari itu adalah tangisan ketigaku untuknya. Aku tidak makan, tidak bisa tidur, dan terus menangis. Setiap saat aku hanya bisa terpaku dan larut dalam kepedihan, ia berkata padaku disaat kami putus ”Aku akan membenci kamu kalau kamu sampai berbuat bodoh, kalau kamu sampai bunuh diri, atau menyakiti diri kamu dengan cara apapun.” Kalau bukan karena perkataannya itu, mungkin aku sudah mengakhiri rasa sakit hati ku itu, supaya aku tidak merasakan sakit apapun lagi. Aku mungkin bisa berbuat bodoh dan nekat.
Hari-hari terasa sangat berat bagiku sejak kami putus. Aku tidak lapar meski aku tidak makan, aku tidak mengantuk meski aku sadar bahwa aku sangat lelah, dan aku juga tidak merasa senang, meskipun tawa ada disekitarku.
Sudah sebulan sejak kami putus, meski aku masih terus mengharap dia kembali dan berubah pikiran. Aku benar-benar rapuh, mudah sekali menangis setiap aku mengingat masa-masa manis kami. Tapi ternyata, harapanku memang tidak pernah akan terjadi. Suatu hari aku tak sengaja mendengar dari kawannya, bahwa ia sedang dekat dengan wanita lain.
Harapan untuk dia kembali, langsung berubah menjadi benci yang teramat sangat. Aku menangis lagi untuk keempat kalinya. Tak kusangka aku begitu bodoh mempercayai setiap perkataannya, aku sangat membencinya dan sejak saat itu aku tidak lagi peduli dengan penyakit atau kata-kata manis darinya. Hanya satu yang aku pikirkan saat itu, ”Lebih baik dia mati karena penyakitnya, daripada ia meninggalkanku demi wanita lain.”
based on true story
Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api
>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook
| < Prev | Next > |
|---|
| Cerita Cerita Lainnya : |
|---|
|
| Powered By relatedArticle |
CeritaCeritaKu.Com




