Sunday May 20

Sponsor Kami #2

Iklan Link

 

Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent

--------------------------

Buy Online

--------------------------

Kredit Mobil Jakarta

--------------------------

Jual Flash Disk

--------------------------

Baju Baju Baju

--------------------------

Busana Muslimah

--------------------------

Kredit Laptop

--------------------------

Lowongan Kerja

--------------------------

Buy Vacuum Cleaner

 --------------------------

Jual Laptop Murah

 --------------------------

Jual Tas Laptop

--------------------------

 Lelang Online

--------------------------

Hotels & Resorts Finder

 

Vemma Bisnis Online Automatis

Vemma Bisnis Online Automatis

CERITA CINTA : BOLEHKAH GUE DAPETIN CINTA

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Cerita Cinta - Cerita Cinta

User Rating: / 3
PoorBest 

Siang itu bener-bener sial buat Jaylani. Gimana enggak? Udah Metromini yang dinaikinya di tengah jalan puter haluan, sehingga dia mesti turun di tengah jalan dan mesti cari angkutan lain untuk nyampe ke rumahnya. Eh, belum juga dia berhasil ngedapetin angkutan yang akan membawanya ke wilayah dimana dia tinggal, hujan tiba-tiba turun, tercurah dari langit dengan derasnya. Mau gak mau  terpaksa Jaylani pun cari tempat untuk berteduh, kalau dia gak kepingin keguyur air hujan, dan akhirnya sakit flu. Untung, enggak jauh dari tempat dia melangkah ada sebuah halte. Maka tanpa banyak pikir lagi, ketimbang dia basah kuyup terguyur air hujan, Jaylani pun berlari ke arah halte itu. Kemudian berteduh di bawah halte. Beruntung, halte itu sepi. Cuma dia seorang. Namun enggak lama kemudian, seorang cewek berseragam sebuah sekolah lanjutan atas, namun Jaylani yakin tuh cewk bukan dari SMU 27, karena emang dia enggak pernah ngeliat th cewk di SMU-nya, ikut berteduh di halte itu.

Melihat di halte itu ada  orang lain, cowok tuh cewk senyum. Mau gak mau, Jaylani pun akhirnya membalas senyum.

“Huh... Hujan turun mendadak sekali, gumam tuh cewk seakan mengeluh, sembari memandang ke wajah Jaylani yang mengadah, memandang ke langit yang meski terang, namun dari atas sana hujan malah turun dengan derasnya.

“I... iya,” timpal Jaylani. Namun ia enggak balas memandang cewek itu. Pandangan mata Jaylani justru diarahkan ke atas, menengadah ke langit, malihat langit yang sebenarnya lumayan cerah, enggak begitu banyak awan yang menghiasinya. Bahkan matahari pun masih bersinar dengan terangnya. Tapi entah mengapa, hujan malah turun dengan sangat derasnya.

Cewek manis itu kembali memandang ke wajah Jaylani yang tampan. Namun kali ini keningnya agak mengerut. Mungkin dia heran, mendengarucapan Jaylani yang berbata-bata, keren, dan macho juga nih cowok, pikir si cewek saat ngeliat wajah Jaylani yang emang ganteng. Dari omongannya yang gugup kayaknya nih cowok belum pernah deket ama cewek.
“Pulang sekolah ya, Kak?”
“I... iya,” jawab Jaylani.

Ah, bener dugaan gue ternyata nih cowok emang masih bujang tulen, belum pernah deket ama cewek? Buktinya, baru ngadepin gue aja ngomongnya gugup begitu. Atau jangan-jangan nih cowok emang kuper. Tapi wajah dan bodinya keren ama macho banget. Dan kayak-kayaknya, nih cowok mirip banget ama aktor India Ritikh Roshand. Ah, cowok seperti inilah yang gue demenin. Gue yakin, cowok macam ini, enggak bakal bertingkah sebagiamana cowok-cowok yang selama ini gue kenal. Kalau gue kasih dia cinta, pasti dia akan ngebalas cinta gue dengan sepenuh jiwa ama raganya. Gue juga yakin, dia pasti akan nurut ama gue.

“Sekolah di mana, Kak?”
“SMU 27,” jawab Jaylani
“Oh, SMU 27, toh?” gumam si cewek sambil senyum.
”I... iya...”
” Saya SMK Pertiwi,” kata si gadis kasih tahu dimana dia bersekolah.
Jaylani manggut-manggut.
”Kak...”
”Eh, ya?”
”Nama saya Cintia, tetapi lebih akrab dipanggil Tia. Nama kakak siapa?”
“Jaylani...”
Sejenak keduanya sama-sama diam.
”Tia...” panggil Jaylani.
”Ya, Kak?”
”Maukah kamu jadi temanku?”
”Kakak ingin jadi teman Tia?”
”Ya, itu pun kalau kamu gak keberatan.’
”Keberatan?” ulang Cintia dengan kening mengerut, namun kemudian tersenyum dan berkata, ”Enggak...Tia enggak keberatan. Malah Tia seneng kok punya teman kak Jay.”
”Sungguh?”

Cintia mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mengulurkan tangan kanannya ke depan, mengajak Jaylani berjabat tangan sebagai tanda kalau mereka resmi menjalin persahabatan. Jaylani pun menyambuti uluran tangan tuh cewek. Kemudian keduanya saling berjabat tangan dengan bibir sama-sama senyum.

Seiring dengan senyum mereka, hujan pun reda. Dan pada saat itu, sebuah angkutan umu berhenti.
”Kak, Tia duluan, ya?”
”Ya.”
”Sampai nanti.”
”Ya, sampai nanti.”
“Kak...”
“Ya?”
“Kalau mau ketemu Tia besok siang kemari aja. Tiap pulang sekolah Tia nunggu angkutan di sini, kok.”
”Ya.”
”Oke, sampai nanti, Kak.”
“Ya. Hati-hati...”

“Makasih.” Cintia tersenyum, kemudian cewek cantik dan baik hati yang mau menjadi teman Jaylani itu pun naik ke dalam bus setelah terlebih dulu melambaikan tangan ke arah Jaylani yang membalasnya dengan melambaikan tangan pula.

Begitu angkutan yang dinaiki Cintia melaju. Jaylani tertegun. Dia bagai terkesima dengan apa yang baru saja dialaminya nyata, atau hanya halusinasinya semata? Atau barangkali dia sedang tidur dan bermimpi ketemu seorang bidadari?

Kagak puas dengan apa yang ada dalam pikirannya, Jaylani pun berusaha ngebuktiin kalau apas aja yang dialaminyabukan mimpi, bukan ilusi, atau halusinasi semata. Maka dia pun nepuk pipinya sendiri keras-keras.
Untung aja di halte itu cuma ada dia seorang. Kalau ada orang lain, pasti tuh orang akan nunjukin rasa heran ngeliat ulah Jaylani yang nampar pipinya sendiri dengan keras. Atau, bisa jadi tuh orang bakal nyangka kalau Jaylani sudak enggak waras lagi aliasgila.
Plok!

“Aukh...! Jaylani ngejerit kesakitan. Dan itu sebagai tanda, kalau dia sedang tidur apalagi bermimpi. Kalau apa yang dialaminya bukan ilusi atau halusinasi. Tapi nyata, senyata-nyatanya. Namun begitu, tetep aja Jaylani masih enggak juga bisa percaya and nerima kenyataan yang ada. Sebab, emang kalau dipikir rasanya emang enggak masuk akal. Gimana mungkin secantik Cintia, mau nerima dirinya yang gagap sebagai taman?

Sementara yang dialaminya selama ini, teman-temannya baik di sekolah maupun di kampung tempat tinggalnya aja, enggak bisa nerima kehadirannya tanpa disertai olok-olok dan ejekan. Apa mungkin, di kota Metropolitan seperti Jakarta ini, dimana orang memandang orang lain dari sisi luarnya aja, masih ada orang seperti yang ditunjukkan oleh Cintia?

Entalah, Jaylani enggak ngerti. Dia Cuma berharap, kiranya Cintia bener-bener ada, bukan Cuma bayangannya aja. Jaylani juga berharap, kiranya kebaikan Cintia pada dirinya yang mau nerima dirinya yang gagap sebagai teman muncul dari hati nurani yang tulus.

Sebuah Metromini yang menuju ke arah wilayah dimana Jaylani berhenti di depan halte dimana Jaylani berada. Dengan hati masih diliputi ketidak mengertian dengan apa yang baru saja dialaminya, Jaylani pun naik. Tak lama kemudian. Metromini itu pun kembali melaju, membawa Jaylani pergi meninggalkan halte yang menyimpan sebuah misteri.

Nyampe rumah, rasa heran bercampur ketidak mengertian masih melekat di wajah Jaylani. Hal itu membuat nyokap mengerutkan kening denga wajah nunjukin rasa heran pula. Ada apa sama si Jay? Tumben-tumbenan gini haru dia baru pulang? Dan sepertinya dia baru aja mengalami sesuatu.

Sambil ngeladenin anak satu-satunya makan siang. Nyokap pun nyetusin rasa penasarannya, ”Jay...”
”Ya, Mak?
”Gini hari kok baru pulang?”
”Tadi Metromininya putar haluan di tengah jalan. Terus hujan. Terpaksa Jay berteduh, Mak”
”Trus, emak perhatiin, nih hari elo gak seperti biasanya?”
”Tidak seperti biasanya bagaimana, Mak?”
”Hari ini, emak liat elo lain dari biasanya?”
”Nih hari, elo pulang dengan wajah merenung. Sepertinya ada yang sedang elo pikirin. Apa sih yang elo pikirin?”
”Ah, Emak...”
”Boleh emak tahu?” tanya nyokap
”Tahu apa, Mak.”
”Ya, mengenai apa yang sedang elo pikirin sehingga elo merenung...”
”Enggak ada apa-apa, Mak”

”Jangan bo’ong? Emak ini udah lebih dari tujuh belas tahun ngerawat elo, Jay. Dan sebagai seorang ibu, emak pasti perasaan anaknya. Makanya, segala apapun yang elo rasain, emak pasti akan tahu dan ngerasa juga. Jadi, jangan deh sekali-kali bo’ong sama emak...”
”Iya, Mak.”

”Nah, sekarang makan dulu, ya? Nanti selesai makan, ceritain ama emak, kenapa elo nih hari ini ama hari-hari sebelumnya? Mau kan lo cerita sama emak?” bujuk nyokap sembari senyum, berusaha ngerayu sang anak agar mau nyeritain apa yang membuat tuh anak tampak seneng.

Nyokap kemudian duduk di kursi yang ada di depan Jaylani duduk, nungguin anak makan. Sementara tu’ anak dengan lahap menyantap makan siangnya.
”Ya udah makan yang banyak. Trus, nanti ceritain sama emak apa yang membuat elo nih hari seneng. Ya?”
”Ya, Mak.”

”Ya udah makan dulu yang kenyang.”
Jaylani pun nurut, kembali menyantap makan siangnya dengan lahap. Maklum, perutnya udah laper, karena setelah sarapan pagi, pulangnya terlambat lagi, sehingga perutnya semakin terasa laper aja. Jaylani bukanya enggak diberi uang saku oleh nyokap sama bokapnya, tetapi dia pikir sayang kalau uang sakunya dijajanin. Mending ditabung. Sehingga kalau dia butuh sesuatu yang mendesak and enggak pingin ngeropotin bokap sama nyokapnya. Dia bisa pake uang tabungannya.


Lihat Juga cerita cerita dewasa Rekomendasi dari Kami :

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Mencintaimu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Always in Love

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kepentok Cinta Kakak Kelas

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Angel yang Cantik Sekali

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Jamilah Anak Betawi

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Hari Pertama Gw Jalan Sama Dia

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Sepinya Kelas Qu

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kehidupan Seorang Play Girls

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Kenangan Terindah

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Stasiun Kereta Api

>> Cerita Cerita Ku : Cerita Dewasa : Gara-gara Facebook

DbClix




Cerita Cerita Lainnya :

Powered By relatedArticle

CeritaCeritaKu.Com TrafficRevenue Get paid To Promote at any Location

GTranslate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Sponsor Kami #1

Custom Tags Cloud