Sponsor Kami #2

Iklan Link

 

Peluang Usaha, Dicari Agent
Umrah Travel dan Haji Plus Travel Agent

--------------------------

Buy Online

--------------------------

Kredit Mobil Jakarta

--------------------------

Jual Flash Disk

--------------------------

Baju Baju Baju

--------------------------

Busana Muslimah

--------------------------

Kredit Laptop

--------------------------

Lowongan Kerja

--------------------------

Buy Vacuum Cleaner

 --------------------------

Jual Laptop Murah

 --------------------------

Jual Tas Laptop

--------------------------

 Lelang Online

--------------------------

Hotels & Resorts Finder

 

Vemma Bisnis Online Automatis

Vemma Bisnis Online Automatis

Cerita Cinta

Last Updated on Tuesday, 30 November 1999 07:00 Written by Administrator Monday, 31 October 2011 22:54
Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
        Menyedihkan memang melihat seseorang yang putus cinta. Baginya seakan segalanya sudah tak berarti ,gak kebanyakan orang seperti itu. Tidak juga bagi IMEL.
         Gadis penyendiri dan pendiam ini menganggap putus cinta adalah hal yang konyol. Pertama senang, cemburu, ada perasaan gelisah jauh dari pasangan, lalu terakhir putus.
         Wajar menurutnya, putus cinta hal yang dialamisemua manusia. Semua manusia pasti pernah merasakannya. Pantaslah hingga kini Imel memang belum pernah mersakan namanya menjalin kasih, bahasa kerennya sih pacaran! Hanya first love saja.
         “Imel !!!” panggilan itu terasa jauh didengar. Tak berapa lama seorang gadis berambut panjang terurai menghampiri Imel.
         “Imel !!gw nyari loe 3 bulan ini. Kemaja aja loe??”tanya si gadis
         Imel memandang lalu menjawab, “Urel ??ko loe bisa disini??gw sekarang tinggal di deket sini.”
         “Iya gw “Urel. Loe gak lupakan sama gw Mel??gw gak sengaja liat loe. Loh !! ko loe bisa tinggal disini.”
         Kedua gadis itu berjalan menyusuri lampu kota disamping jalan, sambil melepas keingintahuan mereka masing-masing.
         Imel melanjutkan perkataannya, “ya enggak lah, masa gw lupa sama loe. 3 bulan yang lalu, gw pindah kesini.”
         “Owh !!! pantas saja gw cari loe dirumah loe yang dulu gak ada.”
         “By the way... ada apa loe nyari gw??”
         “Loe ternyata masih sama ya kaya dulu gak ada yang berubah. Gw nyari loe karna sebentar lagi ada REUNI AKBAR SMA kita, dan undangan punya loe ada di gw. Kebetulan “Urel mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah undangan, Urel menyodorkan undangan tersebut ke Imel.
         Diambil oleh Imel undangan itu. Undangan berwarna biru langit itu sangt menarik. Dibaca oleh Imel undangan yang telah lama itu.
         “Acaranya satu minggu lagi ??” tanya Imel.
Urel mengangguk tersenyum.
         “Masih ingat gak loe sama temen SMA dulu ....??” tanya Urel.
         “Ya iyalah masih inget !!”
         “gw kirain loe dah lupa!! Hehe ... “ Urel berucap sambil tertawa.
         Pembicaraan mereka berakhir ketika sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka. Urel mendekati mobil itu, seorang supir membukakan pintu untuk Aurel (Urel).
         “Imel gw ,duluan ya... atau loe mau bareng gw anterin??” tanya Urel menawarkan.
         “owh !! gak usah Rel, terimakasih... rumah gw juga udah deket ko !!” penolakan yang ramah.
         Urel pergi meninggalkan Imel sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.
         Kini di pinggir jalan itu tinggallah Imel sendiri yang berjalan menyusuri lampu kota menuju rumahnya.
         Yang ada dipikiran Imel sekarang adalah menamatkan kuliahnya, tidak peduli orang lain berkata apa tentang Imel yang tidak memiliki pasangan. Baginya kalau jodoh tidak kemana. Itulah pepatah lama yang cocok.
         Bukan berarti Imel tidak menyukai lawan jenis, dalam hatinya ada perasaan sayang dan suka terhadap lawan jenis.
         Imel mengingat kembali masa SMA nya. Pertama kali Imel MOS (Masa Orientasi Siswa) disitulah ia bertemu dengan Urel yang sampai sekarang menjadi teman dekatnya. Di SMA juga Imel merasakan yang namanya first love atau cinta pertama.
         Kalau kata orang tua, cintanya anak SMA tuh masih “cimon” alias Cinta Monyet. Hehe...
         Ternyata, cintanya Imel nggak bertepuk sebelah tangan, soalnya si pujaan hati juga punya perasaan yang sama kaya Imel.
         “Adam.” Itu nama first love Imel. Sayangnya semua berakhir dengan perpisahan.
        Adam melanjutkan kuliah ke STPDN. Adam dan Imel sama-sama tidak ada yang mengucapkan kata putus. Hanya saja, Adam berucap agar Imel menjaga dirinya baik-baik. Imel juga berjanji kepada Adam bahwa ia akan menunggu Adam sampai tamat kuliah. Semoga saja penantian tidak sia-sia.
        Semenjak itu, Imel tidak pernah lagi berhubungan dengan cowok manapun. Karna ia ingat akan janjinya kepada Adam. Janji yang menurutnya adalah sesuatu yang seharusnya ditepati.
        Urel pernah berkata pada Imel. Agar Imel melupakan Adam yang belum jelas nantinya. Siapa tahu Adam lupa dengan Imel saat ia kuliah. Mungkin aja Adam mencari cewek lain.
        Tetap saja Imel tidak menggubris ocehan Aurel. Menurutnya, apa yang diucapkan Urel tidak benar. Itu semua hanya omong kosong. Cuma takdir yng bisa menjawabnya. Apapun bisa terjadi dalam jangka waktu 4 tahun.
        Hingga kini, 4 tahun sudah Imel melupakan semuanya. Masa lalu yang menurutnya hanya bualan belaka. Entah dimana Adam sekarang. Mungkinkah Adam masih mengingatnya. Masih setiakah ia dengan janji yang dulu.
        Janji yang hingga kini masih terngiang di telinga Imel. Entah, janji itu di tepati atau diingkari.
***
        Reuni Akbar SMA Imel pun diadakan hari ini, pukul 13.00. Imel sudah berpakaian rapi hendak menghadiri acara tersebut dalam hatinya, “siapa tahu Adam datang ke reuni itu, diakan satu SMA dengan Imel.
        Dengan wajah yang cerah, Imel berangkay bersama Urel. Sampai disana pukul 13.00. Acara sudah dimulai setengah jam yang lalu.
        Imel dan Urel duduk dikursi paling belakang. Terlihat samar-samar didepan orang yang berpidato. Tidak begitu jelas karena jarak antara orang yang berpidato dan tempat duduk Imel sangat jauh.
        Imel menengok kekanan dan kekiri seolah-olah mencari seseorang bisa ditebak, Imel sedang mencari Adam.
        “kenapa sih loe Mel?? Lama-lama leher loe patah deh nengok-nengok mulu!!” tanya Urel.
        Imel tidak menghiraukan ucapan Urel. Ia hanya mencari seseorang. “kok gak ada??”
        “Imel loe nyari siapa??” Urel melihat wajah cemas Imel.
        “Adam!!” nama itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya.
Mendengar hal itu, Urel langsung berdiri menengokkan kepalanya ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mencari.
        “kayanya dia gak dateng deh !!” ujar Urel.
        Wajah Imel semakin memucat mendengar perkataan Urel.
        “tenang, Mel... coba kita lihat di daftar hadir tamu undangan reuni.” Urel menarik tangan Imel menuju tempat para tamu mengisi daftar hadir.
        Urel bertanya pada seorang gadis yang menjaga tempat daftar hadir tamu undangan, “permisi....”
        “iya, ada yang bisa saya bantu kak??” si gadis menjawab ramah.
        “saya mau cari tamu yang bernama Adam Syahputra. Apa dia sudah datang??” tanya Urel.
        Gadis itu membuka catatan daftar hadir tamu. Dilihatnya satu persatu nama yang ada dibuku daftar hadir tamu.
        “maaf kak ... tidak ada yang bernama Adam Syahputra.” Urel mengecek kembali.
        Tidak didapati nama Adam dibuku itu. Dengan perasaan kecewa Imel mengucapkan terimakasih kepada gadis tadi. Urel dan Imel meninggalkan tempat acara reuni tersebut.
        “dia gak dateng !!” ucapan Imel melemah.
        “udah donk Imel, sampai kapan loe mau nunggu dia??”
        “sampai gw ketemu dia.”
        “loe gila !! kalau loe gak ketemu lagi sama dia gimana??”
        “Cuma Tuhan yang tau semuanya.”
***
        Sore ini di Taman Kota. Dari jauh terlihat saat gadis cantik duduk dibangku Taman. Sendiri hanya di temani dedaunan yang jatuh.
        Imel..!! seperti menunggu seseorang, benar saja, Imel menunggu Adam di Taman itu.
        Sewaktu Adam akan kuliah, mereka berdua berjanji akan bertemu di Taman itu. Imel menunggu termenung sendiri sambil melempar batu kedalam kolam.
       Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Dari sore sampai hampir larut malam Imel masih menunggu kedatangan Adam. Malam ini yang didapat hanya kekecewaan saja. Tak nampak Adam datang.
        Imel pulang membawa senyum kecewa. Imel berjalan sendiri di temani lampu kota dan bintang malam yang bertaburan. Dia menengadah ke langit berhenti sejenak.
        “Tuhan... kenapa dia tidak datang. Apa aku bersalah padanya?? Kalau memang kau ijinkan aku bertemu dengannya, pertemukan aku dengannya untuk yang terakhir kali.” Ucapan Imel melemah lemas, wajahnya kusut, langkah kakinya gontai menuju rumah.
***
        Terdengar ketukan pintu, “tok...tok..tok..”
         Imel berlari menuju pintu membukakan pintu untuk orangyang datang.
         “Urel !! ada apa loe datang pagi-pagi?? Ayo masuk !!” Imel mempersilahkan masuk.
         Urel masuk dengan wajah yang muram.
          “Mau minum apa Rel??”
          “gak usah Mel, gw Cuma mau nganterin ini.”
          Sebuah undangan berwarna gold, begitu indah dan rapih dilihat. Imel tercengang melihat nama dalam undangan itu.
          “Adam dan Naura??” tanya Imel.
          “iya Mel !! loe harus terima kenyataan. Dia gak inget sama loe. Gw udah bilang supaya loe lupain dia. Sia-sia pengorbanan loe selama ini. Sampai sekarang loe gak pernah buka hati loe buat cowok lain cuma demi dia.” Urel kesal.
          Imel hanya terdiam membisu. Tak sepatah katapun terucap darinya.
          “gw pasti datang ke pernikahannya!!” ucap Imel sambil berlari menuju kamar.
          Urel melangkah pelan masuk ke kamar Imel. Di depan jendela Imel melihat hujan yang turun pagi ini. Air matanya menetes tak terbendung lagi. Hujan pagi ini mengiringi kenyataan yang dibawa oleh Urel.
          Kenyataan bahwa penantian yang selama ini ia tanamkan, hanya angin belaka. Orang yang ia cintai dan tunggu akan menjadi milik orang lain.
          “Mel, loe gak boleh kaya gini. Loe harus buktiin sama Adam, kalau loe bisa tanpa dia. Cowok di dunia ini gak Cuma 1, masih banyak yang suka sama loe.”
          “ok !! gw harus ikhlassin dia. Bener kata loe Urel, gw gak boleh kaya gini terus.” Hanya di ucapan saja, tetapi didalam hati Imel berbeda.
          “loe yakin mau dateng ke pernikahannya??”
          Imel mengangguk kepala menandakan “iya” .
***
           Hari ini detik ini, Imel menghadiri pesta pernikahan Adam. Ia pergi bersama Aurel. Tema pesta pernikahan ini seperti pesta kebun.
             Terlihat kedua insan yang berwajah bahgia sedang bersanding di pelaminan. Tidak ada yang berubah dari wajah Adam, yang berubah hanya Adam melupakan segalanya tentang masa lalunya.
             Adam melihat kedatangan  Imel dan Urel. Adam hanya terdiam terpaku, menatap wajah Imel dari kejauhan. Mungkin penyesalan adalah kata-kata yang pantas untuk Adam.
            Dua hari sebelum hari pernikahan Adam. Urel menemui Adam dirumahnya. Urel menceritakan semuanya kepada Adam. Tetapi, sudah terlambat. Hari pernikahan Adam sudah dekat Adam dijodohkan dengan Naura.
           Naura adalah anak dari pengusaha properti teman  bisnis orang tua Adam. Adam tidak mau membantah orang tuanya. Imel melihat Adam yang menatapnya dari kejauhan.
          Dalam hati Imel berkata, “Adam.. gw udah ikhlasin loe buat yang lain. Mungkin loe bikan jodoh gw. Selama apapun gw nunggu loe, gak akan bisa bersatu. Karna takdir kita berbeda”.
         Air matanya jatuh tak terbendung lagi. Mencintai seseorang yang tak mungkin dimiliki. Bagaikan Punduk Merindukan Bulan. Mencintai manusia berlebihan akan menimbulkan atau bahkan sebaliknya menyedihkan.
         Kesenagan duniawi hanya sementara, kesenangan diakhir nantilah yang kekal abadi.
 
Last Updated on Tuesday, 30 November 1999 07:00 Written by Administrator Friday, 01 July 2011 11:00
Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail
User Rating: / 1
PoorBest 

    Royal merasa dirinya seperti si itik buruk rupa. Dia berbeda dengan saudara kandungnya. Dia mengira bahwa dia adalah anak angkat, yang dipunggut dibak sampah lalu diasuh karena kakaknya menginginkan seorang adik laki-laki.  Dia anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakak perempuannya bagai bulan yang sinarnya menyejukkan mata yang memandangnya. Mereka mewarisi kecantikan dari Ibunya yang berkulit putih mulus, tinggi semampai dan bermata bulat sedangkan Royal seperti pinang dibelah dua dengan Ayahnya. Ayahnya berkulit sawo matang, pendek dan jenis kulitnya berminyak sehingga cenderung berjerawat.

Royal merasa dunianya seperti dineraka. Setiap hari Royal selalu diejek oleh saudara perempuannya begitu juga teman-teman wanitanya baik dikerjaan maupun di kampus. Sebuah kata “Jelek” selalu menemaninya sepanjang hari. Royal mencoba untuk tersenyum saat mereka menghinanya. Namun jauh dilubuk hatinya, Royal merasa ini adalah pembunuhan berdarah dingin. Hatinya teramat perih seperti tercabik-cabik oleh pisau belati setajam kata-kata wanita yang mulutnya tidak terpelajar. Mereka hanya memandang sebelah mata pada seorang pria yang fisiknya rendah.

Bisakah fisik tidak menjadi faktor utama dalam menjalin cinta? Adakah cinta yang menawarkan ketulusan hati? Mungkinkah nasib orang-orang yang fisiknya tidak menarik akan menghabiskan hari tuanya seorang diri? Atau mungkin sebaliknya ada seorang wanita yang tulus menerimanya sepenuh hati? Royal mengibaskan lamunannya membiarkan pertanyaannya berlalu bersama angin yang berhembus.
Tetapi Ayahku bisa mendapatkan wanita cantik yang sekarang menjadi ibuku? Apa resepnya ya? Hatinya berbisik.

Saat hatinya sedih, sebuah pemandangan yang menggetarkan sanubarinya menjalar keseluruh pundi-pundi sarafnya. Menggetarkan jantung yang berdetak tidak menentu. Sebuah senyuman mampu membuat hati Royal kalang kabut. Royal seakan tidak mampu melepaskan pandangannya dari seorang wanita yang duduk disudut tembok bersama teman-teman wanita yang juga teman dari Royal.

     Royal mengamati setiap gerak gerik wanita yang sudah menusukkan panah asmara tepat dijantungnya. Senyum lirih menggembang dibibir Royal saat melihat wanita itu berbicara. Tingkahnya yang kalem seperti putri solo, rambutnya yang tergelai panjang sepinggang, bibirnya yang melengkung mengucapkan kata demi kata dihiasi dengan senyum yang manis membuat Royal ingin menghampirinya.

    Namun keinginannya tidak dilakukan Royal mengingat masih dalam kondisi belajar. Royal hanya bisa berdoa semoga bel istirahat segera berdering. Sekilas Royal memalingkan pandangannya kesahabatnya yang duduk disampingnya. Dengan diam-diam Royal menatap wanita itu dari kejauhan.
    Royal tersentak oleh tepukan yang mendarat dipundaknya,”Plak!
    “Roy sholat yuk,”ajak Yuda teman yang duduk disamping Royal.
    “Kamu aja, aku udah sholat dikerjaan,”jawab Royal dengan santai.

    Yudapun meninggalkan Royal. Satu demi Satu teman-teman Royal meninggalkan kelas menuju mushola yang berada dilantai dua. Setelah suasana sepi, Royal perlahan menghampiri gadis itu yang sedang menulis ditempat duduknya.
    “Hai, boleh kenalan gak?”tanya Royal.
    “Boleh.”
    “Aku Roy, anak jurusan Informatika Komputer. Kalau kamu?”
    “Titas.”
    “Nama yang indah,”bisiknya. “Jurusan apa?”
    “Hmm…”
    Royal mengulangi pertanyaannya,”Titas ambil jurusan apa?
    “Oo…KA, kak.”
    “Ooh, pantes aku enggak pernah liat kamu,”ujar Royal.

    Titas hanya tersenyum. Royal mati gaya didepan wanita yang mulai menguasai seisi hatinya. Royal merasa salah tingkah saat Titas balik memandangnya. Ingin rasanya mengeluarkan semua pertanyaan yang memenuhi seluruh kepalanya, Namun bibirnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun terucap dari bibirnya. Royal hanya diam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kesunyian menguasai suasana mereka berdua. Mereka berdua hanya terdiam. Titas yang menyibukkan dirinya dengan  mencatat bahan pelajaran sedangkan Royal hanya bisa menatapnya diam-diam. Sekilas Titas tersenyum kearah Royal. Royal hanya bisa membalasnya dengan tersenyum. Padahal hatinya berkecambuk berbagai pertanyaan. Kalau aku bilang sekarang bahwa aku suka dia? Apa Titas mau menerima cintaku? Atau…? Pikiran Royal buntu sebuntu angannya.

Dengan tersipu malu, Royal memberanikan diri untuk meminta nomor hp Titas. Namun anak-anak sudah berdatangan memasuki kelas. Royal salah tingkah saat salah satu temannya memergoki Roy bersama Titas.
    “Ayo lagi ngapain?”tanya Gadis teman Titas
    “Lagi ngobrol, mang gak boleh?”tanya Royal polos.
    “Enggak boleh jelek, sana balik keasal you,”usir Gadis teman satu jurusan Titas.
    Melihat Titas menahan senyumnya membuat Royal sakit hati. Namun seperti biasa Royal hanya bisa membalasnya dengan tersenyum dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk meminta nomor hp Titas. Walaupun penghinaan yang akan diterima Royal lebih dari kata “Jelek”.
    “Bilang aja kamu jealous’kan my ladies,”menggoda Gadis.
 

   Gadis yang mendengarnya langsung mengeryitkan dahinya,”Jealous ma you, kelaut aja deah loe,”balasnya dengan lantang sambil memalingkan muka kearah Titas.
Royal tidak mau mendengar penghinaan yang lebih dalam lagi menusuk hatinya. Sebelum beranjak pergi, Royal memberanikan diri untuk meminta nomor hp Titas dengan menggunakan imajenasinya bahwa ruangan itu hanya ada dirinya dan Titas. Sehingga Royal bisa membuang rasa malunya.
Sekilas Royal melayangkan senyuman manis kearah Gadis lalu memalingkan wajahnya kearah Titas,”Tit, aku boleh minta nomor hp kamu gak?”ujar Royal sambil menyembunyikan perasaan tegangnya dihadapan wanita yang disukainya dengan menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali.
Titas menganggukkan kepalanya sambil memberikan sebuah kertas yang sudah tertera nomor ponselnya. Royal tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Kepercayaan dirinyapun timbul mengiringi kepergiaannya ketempat duduk.

****

    Malam turun perlahan dengan cahaya Bulan yang bersinar benderang menyinari dunia ini. Langit terlihat indah bersama kelap-kelip bintang, awan yang berjalan menghampiri bulan lalu menghilang tersapu angin malam. Suasana malam ini seperti perasaan Royal yang diselimuti cinta yang menggebu.

    Seperti ada yang menari-nari diatas kepalanya. Sekelompok bintang-bintang kecil yang turun dari langit menyambut kebahagian Royal. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Pikirannya hanya tertuju pada Titas. Suasana kamar yang bernuansa cat hijau menyejukkan hati Royal yang sedang kasmaran.

    Lagu-lagu syair cinta melantun dengan indah yang berasal dari radio disamping meja belajar Royal. Lampu kamar Royal dibiarkan gelap hanya lampu belajarnya yang  dibiarkannya menyala. Royal terpaku membisu. Menatap ponsel yang tergeletak diatas mejanya. Diambilnya ponsel dari mejanya. Tangannya ragu-ragu untuk menekan nomor ponsel Titas.

    Satu jam terlewatkan. Royal memutar kursinya lalu melihat jam dinding yang menunjukkan pukul.23.00 wib. Royal panik. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mondar-mandir disekeliling kamarnya sambil mulutnya komat-kamit seperti orang yang membaca mantra. Royal merasakan tenggorokkannya kering, Royalpun keluar untuk mengambil air minum didapur. Setelah minum, Royal langsung melesat kekamarnya.

    Royal duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memeluk bantal didadanya. Awalnya Royal hanya menatap ponsel yang tergeletak tak bernyawa diatas tempat tidurnya lalu dengan menyampingkan sedikit posisi duduknya, Royal mengambil ponselnya. Rencana semula ingin menelepon Titas Namun dibatalkan karena Royal menyadari bahwa mulutnya akan kaku, otaknya akan beku, maka Royal memutuskan untuk mengirim sms.
 

    Royal mulai menulis kata pertama,”Malam Tit, dah tidur pa blm?”
    Pesan dikirim. Tak lama ponsel Royal bergetar. Royal langsung membacanya,”Belum, ini siapa ya?”
    “Aku Royal, anak IK yang tadi sore kenalan ma kamu,”pesan dikirim.
    Tak lama ponsel Royal bergetar. Balasan sms diterima,”Ooh,kak Roy. Ada apa ya?”

    Membaca pesan itu Royal bingung. Royal bangkit untuk mengambil napas lalu menghembuskannya sebelum membalas sms dari Titas. Setelah pikirannya tenang dan bisa berkonsentrasi dalam menyusun kata-kata yang akan ditulisnya, Royal segera menulis pesan,”Maaf sebelumnya tapi kalau kamu enggak keberatan aku mau tanya, apa kamu udah punya pacar?”pesan dikirim.

    Pesan terakhir dikirim namun detik demi detik berlalu, Royal harap-harap cemas. Tangannya mengepal dengan erat hingga buku-buku kukunya memutih karena tekanan yang kencang. Dilihatnya layar ponselnya, namun layarnya tidak menyala. Royal semakin cemas. Kepalanya seakan berputar. Ada kegelisahan, kegundahan menguasai renung hatinya. Royal merasa matanya berat. Sekejap Royal terlelap. Tangannya masih menggengam ponselnya.

Sekitar setengah jam Royal menunggu balasan dari Titas hingga terlelap. Ponsel Royal bergetar, Royal tersentak. Matanya masih berat, namun berusaha untuk membuka mata. Dibukanya pesan terakhir yang membuat tubuh Royal menggigil, jantungnya berdebar, terasa sakit yang amat didasar hatinya, mata yang semula masih tertutup selaput terhapus oleh butiran halus yang seakan ingin keluar dari matanya. Namun tertahan oleh sesuatu sehingga air matanya hanya menggenangi pelupuk matanya. Hatinya terbanjiri oleh air mata yang tidak bisa tumpah kepermukaan. Balasan sms yang berbunyi,”Udah punya,kak.” Seakan mematahkan separuh hidup Royal. Dilema cinta menggelayuti jiwa Royal. Tangannya tidak mampu untuk membalas sms dari Titas. Kata-kata “Sudah” memenuhi seisi kepala Royal. Tubuhnya lemas seketika. Royal mencoba untuk bangkit. Perlahan menuju jendela kamarnya. Royal berharap dapat menghirup udara diluar karena Royal merasa sesak didadanya. Sambil menatap keatas langit, hatinya menjerit,”Ya Tuhan! apa salahku sehingga engkau tidak pernah memberikan wanita yang aku cintai menjadi milikku?”

    Buku kukunya memutih mencengkram pinggiran jendela kamarnya. Sesosok pria setengah baya menghampiri kesendirian Royal. Pria yang mengenakan piamay berwarna biru dangker mengusap bahu Royal dari belakang.
    Royal tersentak,”Ayah!”ucapnya.
    “Kok belum tidur?”
    “Ayah sendiri kenapa belum tidur?”balik bertanya.
    “Lagi cari udara segar,”jawab Ayahnya.
    “Sama.”Royal menjawab dengan ringan.

    Ayahnya sepertinya menyadari bahwa putra bungsunya sedang jatuh cinta tetapi ada gurat kesedihan terpancar jelas diraut wajah Royal. Walaupun Royal ingin menyembunyikannya dari seluruh dunia tetap saja terlihat. Seperti peribahasa yang mengatakan “sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga”

    Royal dibuatnya tercenang oleh kata-kata Ayahnya,”Putra Ayah sedang jatuh cinta nih. Siapakah gadis yang beruntung itu nak?”
    “Boro-boro ada gadis yang suka ma Roy, yang ada mereka cuma bilang aku jelek tau monster yang mengerikan,”kata-katanya seakan meluapkan semua emosi yang terpendam didalam hati Royal.
    Saat Ayahnya mendengar hal itu, Ayah Royal menanggapinya dengan sebuah senyuman manis yang mengangkat sedikit kumis tipisnya. Sambil menepuk-nepuk pundak putranya Ayah Royal berkata,”Mana mungkin ada seorang gadis yang menghina kamu, itu hanya perasaan kamu aja kali.”Ayah menyingkapi dengan santai
    “Ayah ini beragak tahu apa enggak tahu sih!”geramnya. “ Liat aja mba Sinta, mba Anti, sama mba Sisil yang bilang kalau aku jelek,”pundaknya lunglai.
    “Jangan salah sangka dulu, kakakmu memanggilmu seperti itu karena mereka sayang sama kamu bukannya menghina.”
    Namun Royal masih belum bisa mendamaikan emosinya,”Iya aku bisa terima tapi kalau teman-teman perempuanku yang bilang begitu apa masih dibilang sayang?”
    “Kalau kita hidup cuma memikirkan hal-hal yang enggak penting seperti itu atau selalu berpikiran negatif terhadap apapun, kita tidak akan bisa maju. Tetap berada dalam pusaran yang sama.”
    Salah satu alis Royal yang sebelah kanan terangkat,”Maksud Ayah?”
    “Anggaplah penghinaan itu sesuatu yang indah buat kita. Hidup akan lebih indah bila kita menerapkan sisi positif dari kejadian yang sedang melimpa kita.”
    “Ngomong gampang tapi pelaksanaannya nihil.”
    “Kata siapa buktinya Ayah sendiri yang sudah merasakan manfaatnya.”
    “Apaan?”tanya Royal dengan antusias.
    “Ibumu,”jawab Ayah Royal.
    “Apa hubungannya dengan ibu?”tanya Royal heran.
    “Kamu tahukan kalau Ayah tidak tampan tapi bisa mendapatkan istri yang cantik seperti ibumu..”kata Ayahnya tersanggah oleh Royal.
    “Itu mah mata Ibu aja yang lagi seliwer karena enggak pake kacamata,”ejek Royal.
    Mendengar itu Ayah Royal tertawa lalu melanjutkan kata-kata yang terpotong oleh Royal,”Mungkin bisa jadi tapi satu hal yang membuat Ibumu bertekuk lutut dipelukan Ayah adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh lelaki tampan yaitu kualitas untuk memberikan kehidupan yang layak dikemudian hari.”
    “Orang tampan juga bisa?”timpalnya kemudian.
    “Et, jangan salah, wanita yang pandai seperti ibumu pasti memilih Ayah karena Ayah adalah laki-laki yang setia,”membanggakan diri sendiri.
    Royal hanya tersenyum menanggapinya. Lalu Ayah Royal memberikan sesuatu yang bisa menyejukkan hati Royal yang terbakar api cinta.
    “Satu hal yang harus kamu tahu bahwa wanita hebat akan menggejar atau menghampiri laki-laki yang hebat juga. Fisik seseorang tidak bisa menjamin keabadian cinta. Kamu harus bisa menjadi laki-laki yang hebat dan biarlah wanita-wanita hebat berebut mendapatkan dirimu. Kamu tinggal bersiap menghadapinya.”
    “Gimana caranya?”
    “Gali potensi yang ada didalam dirimu lalu lakukan raksasa besar untuk melaksanakannya. Seperti sekarang kamu sedang patah hati,”ujar Ayah Royal.
    “Kok, Ayah bisa tahu?”Royal tersipu malu.
    “Karena Ayah pernah merasakannya beberapa kali ditolak perempuan tetapi Ayah tidak pernah berdiam diri atau meratapi nasib. Ayah akan menjadikannya sebagai motivasi dalam meraih kesuksesan baik dalam cinta maupun karier. Ayah yakin kamu bisa, orang kamu anakku, kok!”

    Setelah memberikan sebuah nasihat untuk Royal, Ayah Royal beranjak pergi meninggalkan Royal. Semua perkataan Ayahnya dicerna didalam kepalanya. Iapun membiarkan Titas hanya menjadi purnama dipelupuk matanya yang tidak mungkin bisa Ia miliki. Namun bisa dipandangnya dari kejauhan. Walaupun Titas hanya menawarkan sebuah persahabatan kepada Royal,. Baginya melihat senyumnya setiap saat yang membuat hati Royal tenang setenang nirwana dihutan belantara.

Last Updated on Tuesday, 30 November 1999 07:00 Written by Administrator Thursday, 10 March 2011 16:11
Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail
User Rating: / 2
PoorBest 
Nama aku Rima, aku dulu mempunyai kekasih bernama dimas. Aku kenal dia dari teman dekat ku. Semenjak perkenalan itu aku dan dimas menjalanin hubungan pertemanan, awalnya aku tidak menyangka bahwa aku bisa berteman dengan dimas bahkan aku menjadi pacarnya, sungguh aneh itu terjadi, karena setau aku dimas itu orangnya sombong dan jutek. Tapi buktinya selama dia menjalani hubungan dengan aku, yang aku rasakan dia orangnya baik dan menyenangkan.

Pada saat itu aku bingung karena teman aku menyarankan agar aku berhati-hati sama dimas, karena menurut teman aku dimas cowo yang playboy yang hanya bisa mempermainkan perasaan seorang cewe, di saat itu aku bingung aku harus percaya sama siapa teman apa dimas.

Kurang lebih satu minggu kami berteman dan memang sudah saling terbuka dan juga saling berkomunikasi dengan baik, dimas menyatakan cinta kepada ku, aku sangat bingung sekali harus menjawab apa kepada dimas.

Hati aku benar-benar bimbang apa aku harus menerima cintanya, karena yang aku takutkan nantinya dia hanya mempermainkan perasaan aku saja, tapi selama aku kenal dia, dia orangnya baik, perhatian dan menyenangkan, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menerima cintanya dimas, walaupun aku merasa tidak yakin bahwa dia benar-benar suka sama aku atau tidak.

Akhirnya aku menerima cintanya, menurut aku mencoba segala sesuatu tantangan bagi aku itu tidak menjadi masalah, siapa tahu saja ketika dia berpacaran dengan aku dia bisa berubah , aku mencoba berpacaran dengan dia dengan sangat berhati-hati jangan sampai aku kemakan rayuan gombalnya itu, walaupun kita sudah pacaran hati ini tetap saja ragu, tapi kenyataannya dia sangat baik dan selalu perhatian pada aku dan selalu ada di saat aku membutuh kan nya.

Selama kita jadian hubungan kita baik-baik saja tidak ada masalah, tapi aku selalu mencari gara-gara dengan nya karena aku ingin tahu sifat sesungguhnya dia, tapi yang aku dapatkan dari sifatnya dia masih saja baik dan tidak pernah marah walaupun aku sering membuat masalah kepadanya.

Aku mencoba untuk menyayangi nya, tapi perasaan aku tidak bisa karena aku takut kalau nantinya aku sayang dengan nya ku takut tiba-tiba dia meninggalkan aku begitu saja, pada suatu hari aku menanyakan tentang perasaan dia yang sesungguhnya dengan aku, apa mungkin dia benar-benar sayang dengan aku atau cuma ingin mempermainkan aku saja.
Tapi yang dimas bilang dia sangat sayang dengan aku bahkan dia tidak ingin kehilangan aku, dan ia berkata” aku sayang sama kamu dan aku tidak ingin kehilangan kamu” kata-kata itu membuat aku menjadi tambah ragu, sulit untuk aku percaya padanya.

Pada waktu itu kami bertengkar tentang perasaan kami sendiri, dia marah pada aku karena aku tidak pernah percaya tentang perasaan dia pada ku, sampai akhirnya dia berkata “ kalau cara kamu seperti ini terus dan selalu curiga dengan aku apa lagi kamu tidak pernah percaya dengan perasaan aku, kalau aku tuh benar-benar sayang sama kamu, kalau cara kamu seperti ini terus untuk apa hubungan ini kita lanjutin, akhiri ajah hubungan ini, percuma hubungan ini kita lanjutin, karena diantara kita tidak ada saling percaya satu sama lain.”

Hati aku baru yakin kalau dia benar-benar sayang pada aku, tapi semua itu tidak mungkin bisa kembali lagi karena kami sudah putus, pertama aku putus dengannya hati aku terasa biasa-biasa saja, tapi memang terkadang aku merasa kesepian karena hanya dia lah orang yang selalu menghibur aku, akhirnya aku menyadari betapa pentingnya kehadiran dia di kehidupan aku.

Saat itu aku bingung dan  bimbang aku harus melakukan apa agar dia bisa kembali lagi dengan aku, kenapa rasa sayang ini baru timbul semenjak aku putus dan jauh dari dirinya. Beberapa hari kemudian aku sangat terkejut tiba-tiba dia menghubungi aku melalui sms, dan dan dia berkata “ maaf malam-malam gini aku ganggu kamu, aku cuma mau minta maaf sama kamu dan aku juga mau bilang kalau aku tidak bisa melupakan kamu aku masih sayang sama kamu “  kata-kata itu membuat aku tambah yakin bahwa dia memang sayang pada ku, tapi kenapa baru sekarang aku sayang padanya di saat dia pergi dari kehidupan aku.


Pada saat malam itu aku sangat bingung, aku harus membalas apa, tidak mungkin aku bilang  kalau aku juga sebenarnya masih sayang padanya, sampai akhirnya aku mengucapkan “ kamu tidak ganggu aku ko, ohh ya kenapa kamu ngomong seperti itu dengan aku, apa maksud kamu bukannya kamu yang mutusin aku, tapi kenapa kamu sekarang bilang kalau kamu masih sayang sama aku “
aku kirim kan kata-kata itu melewati sms, kurang lebih satu jam dimas membalasnya dan berkata “ maaf, kemarin aku lagi emosi, aku sangat sayang pada kamu. “

Malam itu tepat pukul 10.00 malam sms dimas masuk ke handphone aku tapi sayangnya aku  sudah tidur dan pada akhirnya dimas berkata “ kenapa sms aku tidak di balas, maaf kalau malam-malam begini aku ganggu kamu aku cuma ingin menyampaikan perasaan aku yang sesungguhnya sama kamu “.
malam itu sebenarnya malam keberuntungan aku untuk mendapatkan dimas kembali, tapi sayangnya malam itu aku ke tiduran dan aku tidak sempat untuk membalas kata-katanya.

Hari pun mulai pagi matahari mulai bersinar terang yang membuat aku terbangun dari tidur ku, tidak tahu kenapa tiba-tiba aku teringat dengan dimas, dan aku baru sadar bahwa aku tadi malam sedang smsan dengan dia, aku pun langsung melihat handphone aku dan ternyata ada sms dari dimas, malam itu membuat aku ngantuk sekali yang pada akhirnya yang membuat aku ketiduaran, kenapa sih malam itu aku harus ketiduran.

Sekitar pukul 9.30 aku baru membalasnya dengan kata “ maaf tadi malam aku ketiduran “
tapi sayangnya dia membalas sms aku dengan kata-kata “ tidak apa-apa ko, ohh yah maaf aku ganggu kamu, aku tidak akan menghubungi kamu lagi untuk selamanya, mungkin ini sms terakhir dari aku “, di situ aku bingung apa salah aku, harapan aku mulai sinar dan aku mencoba untuk melupakannya, tapi sayang rasa sayang aku saat ini padanya begitu dalam , sehingga sulit untuk aku melupakannya, aku ingin dia kembali pada aku, Rima.   
 
Last Updated on Tuesday, 30 November 1999 07:00 Written by Administrator Thursday, 10 March 2011 16:07
Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail
User Rating: / 3
PoorBest 
Namaku Cindy, dan ini kisah cinta ku yang singkat. Aku dikenalkan dengan seorang pria bernama Riki, ia adalah rekan kerja dari pacar teman baikku.

Dari teman baikku yang mengenalkan kami, lalu aku dan Riki memulai hubungan pertemanan kami lewat chatting, dari obrolan-obrolan ringan dan tidak pernah serius, kami merasa sangat nyaman dan hubungan pun berjalan dengan lancar. Meskipun usianya lebih muda 2 tahun dari ku, namun aku tak ambil pusing. Aku pikir, hubungan kami hanya sebatas hubungan ”have fun”.

Dari obrolan-obrolan itu, kami bertukar nomor hp. Dan mulai menjadi teman sms-an, tak hanya jadi teman di dunia maya saja. Setelah kira-kira satu bulan, kami memutuskan untuk bertemu.

Di pertemuan kami itu, kami mulai membicarakan hal-hal yang serius dan kami sepakat untuk menaikkan status hubungan kami, dari pertemanan menjadi pacaran.

Pada saat-saat awal pacaran, aku tidak pernah berpikir untuk menjadikan dia sebagai pria yang istimewa, apalagi mengingat usianya yang masih lebih muda, dan dia adalah orang asing yang baru aku kenal.

Satu bulan kami berpacaran, aku tetap masih keras dengan pandangan ku, dan dia juga belum ada artinya dalam hatiku. Aku hanya senang, karena setidaknya aku tidak sedang sendiri lagi. Weekend pun terasa lebih bermakna, karena aku tidak lagi menghabiskan hari-hari ku di rumah bersama anjing peliharaanku, nonton televisi berdua di dalam kamar. Biarpun begitu aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkannya. Hanya saja aku belum mau serius dalam berhubungan dengan pria manapun.

Suatu hari, aku terkejut ketika pacar berondongku itu akhirnya memprotes sifatku yang cuek dan tidak pernah memanjakannya, padahal setiap hari ia selalu berkata hangat dan manis padaku. Aku pun sedikit kelonggarkan kecuekanku itu dan mulai belajar untuk bersikap manis padanya. Tak kusangka, ia begitu senang dengan perubahan kecilku itu. Sikapnya pun menjadi semakin manis terhadapku. Sampai suatu hari ia berkata ”Aku yakin hubungan kita bisa berlanjut sampai kita akhirnya menikah. Dan aku mau kamu jadi yang terakhir untukku!”.

Perkataan itu adalah perkataan termanis yang pernah kudapat dari seorang pacar. Walapun dia bukanlah laki-laki pertama yang mengajak aku untuk serius dalam menjalin suatu hubungan, tapi entah kenapa, aku yakin dia bisa jadi yang terakhir untukku. Saat aku mendengar kata-kata itu, adalah kali pertama aku menangis untuk seorang laki-laki. Dan tangisan pertamaku ini adalah haru dan bahagia.

Perkataannya hari itu merupakan sebuah mantra ajaib yang seperti kunci dari hatiku yang tak pernah terbuka lebar bagi pria manapun. Aku mulai menginginkannya untuk jadi yang pria yang terakhir, dan berharap hubungan kami akan berlanjut sampai kami menikah.

Topik pembicaraan kami berkembang dan mulai membicarakan tentang masa depan, kami sudah saling terbuka, dan mengenal keluarga masing-masing.

Tak pernah aku merasa seperti ini sebelumnya. Aku percaya dengan setiap perkataan yang keluar dari bibirnya, aku semakin menyayanginya setiap aku bicara dengannya, setiap aku melihatnya, setiap mendengar tawanya, setiap aku menggenggam tangannya, dan setiap kali ia menciumku. Seperti obat yang membuat aku ketagihan dan semakin tak mampu lepas darinya.

cerita manis itu, suatu hari serasa lenyap ketika ia berkata padaku bahwa ia memiliki suatu penyakit, dan penyakit itu mungkin dapat merenggutnya dariku kapan saja. Namun setiap aku bertanya tentang penyakitnya, ia tidak pernah mau menjawab. Sejak mengetahui hal itu aku banyak menangis. Aku pernah berpikir dan berdoa ”Tuhan, kalau memang kami harus berpisah, aku tidak mau perpisahan itu karena penyakitnya. Lebih baik kami berpisah karena ia mencampakkanku dengan wanita lain. Aku mau ia hidup, memiliki umur panjang, sehat dan bahagia, meski  bukan denganku.”

Penyakitnya adalah tangisan kedua bagiku untuk seorang pria. Aku terus berdoa dan tak pernah lupa mengingatkannya untuk meminum obat dengan teratur dan istirahat dengan baik. Hampir setiap saat aku memikirkannya, aku semakin takut kehilangan dirimya dan hampir setiap aku memikirkannya pun aku menangis.

Semenjak aku tahu penyakitnya itu, sikapnya padaku mulai berubah, ia mulai cuek dan tidak semanis dulu lagi. Aku berpikir, mungkin ia memang sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan aku juga tidak mau jadi beban, jadi aku hanya bisa bersabar menunggunya, dan berharap sikapnya akan kembali seperti awal kita berpacaran.

Seminggu sudah, sejak perubahaannya itu, aku yang masih bersabar, kini mulai gelisah, aku benar-benar merindukannya, aku ingin dia tidak bersikap seperti ini. Lalu aku pun memberanikan diri untuk bertanya ”Kamu mulai berubah, apa kamu mulai bosan denganku?”. Dengan menunggu agak lama, akhirnya ia pun menjawab ”Oh ya? Maaf ya..... Aku sedang sibuk, jadi sedikit menterlantarkan kamu.” Nada bicaranya yang berubah menjadi dingin itu, memang lebih baik daripada ia menjawabku dengan nada yang kasar dan membentak. Namum itu benar-benar jauh dari harapanku.

Tak lama setelah perkataannya yang pertama itu, ia berkata lagi ”Sekali aku bilang aku sayang kamu, ga akan berubah atau berkurang” . Lagi-lagi kata ajaibnya meluluhkan semua keraguanku padanya. Aku tenang dan percaya bahwa ia memang tidak akan berubah.

Aku sangat senang, karena aku tidak perlu mengkhawatirkan hubungan ku lagi dengannya. Namun sungguh suatu hal yang mengejutkan, ketika malam dan di hari yang sama, ia mengirimkan pesan untukku yang isinya ”Sori, mungkin kita ga usah kontek-kontekan dulu, aku lagi ada masalah.”

Seperti petir di siang hari rasanya, tak tau harus apa dan bagaimana, aku langsung menelpon, untuk minta penjelasan dari perkataannya itu. Aku sangat marah saat menelponnya, tapi yang aku inginkan sebenarnya hanya menanyakan permasalahannya, dan tidak mau kalau masalah ini berlarut-larut. Aku ingin masalah ini selesai malam ini juga.

Namun apa yang akhirnya aku dapat? Ia meminta putus! Kemarahanku seketika berubah menjadi tangis dengan beribu-ribu pertanyaan di otakku. Aku tidak pernah berpikir untuk putus dengannya, dan aku tidak pernah menginginkanya sama sekali. Meski aku bersi keras untuk tidak mau melepasnnya, tapi sikap dinginnya benar-benar mencabik hatiku hingga tidak tersisa. Aku tidak tahan dengan sikapnnya itu, sehingga aku memberanikan diri dan membunuh perasaanku itu padanya. Aku melepasnya!

Hari itu adalah tangisan ketigaku untuknya. Aku tidak makan, tidak bisa tidur, dan terus menangis. Setiap saat aku hanya bisa terpaku dan larut dalam kepedihan, ia berkata padaku disaat kami putus ”Aku akan membenci kamu kalau kamu sampai berbuat bodoh, kalau kamu sampai bunuh diri, atau menyakiti diri kamu dengan cara apapun.” Kalau bukan karena perkataannya itu, mungkin aku sudah mengakhiri rasa sakit hati ku itu, supaya aku tidak merasakan sakit apapun lagi. Aku mungkin bisa berbuat bodoh dan nekat.

Hari-hari terasa sangat berat bagiku sejak kami putus. Aku tidak lapar meski aku tidak makan, aku tidak mengantuk meski aku sadar bahwa aku sangat lelah, dan aku juga tidak merasa senang, meskipun tawa ada disekitarku.

Sudah sebulan sejak kami putus, meski aku masih terus mengharap dia kembali dan berubah pikiran. Aku benar-benar rapuh, mudah sekali menangis setiap aku mengingat masa-masa manis kami. Tapi ternyata, harapanku memang tidak pernah akan terjadi. Suatu hari aku tak sengaja mendengar dari kawannya, bahwa ia sedang dekat dengan wanita lain.

Harapan untuk dia kembali, langsung berubah menjadi benci yang teramat sangat. Aku menangis lagi untuk keempat kalinya. Tak kusangka aku begitu bodoh mempercayai setiap perkataannya, aku sangat membencinya dan sejak saat itu aku tidak lagi peduli dengan penyakit atau kata-kata manis darinya. Hanya satu yang aku pikirkan saat itu, ”Lebih baik dia mati karena penyakitnya, daripada ia meninggalkanku demi wanita lain.”



based on true story
Last Updated on Monday, 21 February 2011 14:02 Written by Administrator Monday, 21 February 2011 13:57
Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail
                     Soni dan Kasih adalah sepasang remaja yang begitu romantis. Mereka saling  menyayangi, hubungan mereka pun sangat langgeng keduanya pun saling mengerti,pengorbanan  Soni sangat besar untuk Kasih, Soni selalu memberikan dan menggikuti kemauan Kasih, Soni sangat sayang pada kasih , karena hanya kasih lah orang satu-satunya yang ada di hati Soni.

Pada suatu hari Soni mengajak Kasih untuk reflesing ke sebuah pantai yang begitu indah, Kasih sangat senang karena kekasinya selalu membuat dirinya bahagia, pemandangan pantai yang begitu indah mereka berdua berjanji akan selalu bersama, di saat-saat itu lah momen yang tepat untuk membicarakan hubungan mereka yang lebih serius lagi, Soni pun mengajak Kasih bertunangan.
                      “ Kasih ?”
                      “ Ada apa Son ?”
                      “ Apakah kau benar-benar sayang pada aku,” tanya Soni..”
                      “ Aku sayang pada mu Soni,” kenapa kau nanya seperti itu pada ku ?”
                      “ Karena aku tidak inggin kehilangan kamu ...”
                      “ Kasih pun terdiam membisu ...”
                      “ Kenpa kau terdiam Kasih,” tanya Soni
                      “ Aku tidak apa-apa ko Son..”

Di situ Soni berfikir, apakah Kasih benar-benar sayang padanya, kenapa dia tadi terdiam pas aku mengucapkan bahwa aku tak ingin kehilangan dia. Hati Soni bertanya-tanya, kenapa Kasih terdiam.
sulit untuk ku tebak apakah dia mau aku ajak bertunangan, aku benar-benar sayang padanya.
Soni pun menarik tangannya Kasih dan Soni bilang,
                       “ Kasih apakah kamu mau betunangan dengan ku, tanya Soni ..”
                       “ Apa tu..nangan, “ (jawab Kasih dengan hati yang kaget pas mendengar Soni mengajak dia bertunangan)...”
                       “ Iaa, apa kamu mau ?”
                       “ Ia , aku mau ..?” jawab Kasih dengan sedikit ragu
                       “ Kamu serius Kasih ,”( hati Soni pun sangat bahagia pas Kasih menerima ajakannya untuk bertunangan )..”
                        “ Aku serius Son,” jawab Kasih

Soni pun berjanji akan menjaga dan menyayangi Kasih sepenuh hati, Soni pun akhirnya mengajak Kasih ke tempat temannya, dia ingin semua temanya tahu bahwa dia akan bertunangan. Sangkin bahagianya Soni, hari itu juga pulang dari pantai langsung mengajak Kasih untuk pergi ke tempat teman-temannya.

Pas sesampai di sana, Soni pun mengungkap kan isi hatinya dan berteriak..
                         “ Teman-teman sebentar lagi gue bakalan bertunangan..”
                         “ Kapan, terus mau tunangan sama siapa loe..?” jawab teman-temanya Soni
                         “ Sama cewe yang gua sayang lah ,” namanya Kasih ini orangnya disamping gue,” jawab Soni..”
                         “ Kasih pun hanya mengeluarkan senyuman manis dari bibirnya..”
di saat itu teman-temanya sedang asyik bermain ps, Soni pun menghampiri temannya tersebut.
Tidak lama kemudian datanglah seorang cowo temanya Soni, di saat itu Kasih hanya sendirian di ruang tamu,
                     “ Assalam mua'laikum ..?”
                     “ Wa'laikum salam ..” jawab Kasih
                     “ Egh ada cewe ?” dengan hati yang bertanya cewe siapa ni cantik banget sendirian lagi
                     “ Iaa ,” jawab Kasih dengan senyuman
                     “ Kalau boleh tau kamu siapa ..?”
                     “ Aku Kasih ..”
                     “ Ohh Kasih ..”

Soni pun menghampiri Kasih yang dia tinggalkan sendirian di ruang tamu, di saat itu Kasih sedang bercaka-cakap dengan temanya Soni. Soni pun terkaget pas ngeliat Kasih sedang berduaan, Soni pun hanya bisa terdiam saat melihat temanya mendekati Kasih dan Soni menarik tangan temanya ke dalam, “lue ngapain deketin cewe gue, ?” maksud loe apa si , itu cewe yang di depan si Kasih cewe gue”. Ohh itu cewe u cantik juga ya, awas lue macem-macem sama cewe gua, tenang aja Son, gue cuma ngajakin kenalan aja ko tadi,” akhirnya Soni meninggalkan temanya dan menghampiri kasih.

Soni pun bertanya kepada Kasih,” ngapain aja kamu sama dia, cuma ngbrol aja ko lagian kamunya lama banget ninggalin aku sendirian disini”.” Aku minta maaf ya udah ninggalin kamu sendirian disini”, teman-temannya Soni akhirnya ke ruangan tamu untuk melihat cewe yang akan mau diajak tunangan sama Soni,

Akhirnya Soni mengenalkan kasih pada teman-temannya, mereka semua pun saling berjabat tanggan, ada satu orang temanya Soni yang bernama Rian yang melihat kasih langsung jatuh cinta padahal di sisih lain Rian tahu bahwa kasih kekasihnya Soni, tapi hati Rian semenjak melihat Kasih langsung bergetar kencang, Rian pun berkata mengapa hati gue ini berdebar kencang ketika gue sedang berjabatan tangan dengan Kasih , apa gue  jatuh cinta padanya , tapi engga mungkin dia kan pacar temen gue, “tapi apa boleh buat, toh janur kuning belum menancam jadi Kasih masih bisa di miliki siapa saja..”

Ketika itu Soni pamitan sebentar sama Kasih untuk sabar menunggu dia karena dia ingin mengantarkan temannya ke suatu daerah yang cukup jauh ,
            “ Kasih , aku mengantarkan teman aku ya sebentar, engga papa kan..?” tanya soni
            “ Ohh, ia udah ga papa ko, tapi jangan lama-lama ya Soni.” jawab Kasih
            “ Iaa kasih ...”

Rian langsung menyambar pembicaraan mereka” tenang ajah Son ada gue cewe lue bakalan nyaman ma gua disini, oh yaudah gue berangkat dulu ya.” tidak lama soni pergi, Rian menghampiri Kasih dan mengajak Kasih ngbrol, Rian pun merasa senang karena bisa berduan sama Kasih, Rian pun meminta number handpone nya Kasih. Setelah mereka ngbrol kurang lebih 1 jam, suara mobil datang dan masuk ke garasi ternyata Soni sudah pulang..
            “ Duhh, cpe baget..” tanya Soni
            “ Kamu cape kenapa ..?” jawab Kasih
            “ Cape abis nganterin temen-temenlah..” sambil mengusap rambut Kasih

Rian pun kesal saat melihat Soni dan Kasih mesra-mesraan, hari pun mulai gelap Soni pun mengajak Kasih untuk pulang, akhirnya mereka pun beranjak pulang, Soni dan kasih pamitan kepada Rian.” gue pulang dulu ya, thanks banget dah mau jagain cewe gue, ?” iaa sama-sama, jawab Rian..”
akhirnya mereka pun pulang, sesampai di rumah Kasih , Soni hanya bisa pamitan karena dia sangat lelah dan hari pun sudah larut malam.

Kasih pun masuk kerumahnya langsung menuju ke kamar, karena Kasih sudah merasa lelah sekali, tiba-tiba Handpone Kasih berbunyi.
Kasih pun langsung mengangkatnya.
    “ Hallo, ini siapa ya ?”
    “ Ini gue Rian masih inget engga .. ?”
    “ Oghh Rian,, temenya soni yaa ,?”
    “ Iaa,, ko belum tidur kan uadah mallem..”
    “ Belum ni soalnya gua baru ajah nyampe rumah ,,?” jawab Kasih
    “ Oghh,, begitu yah....”
    “ Ada apa nih malem-malem begini nelpon gua,,.?” tanya Kasih
    “ Hhhmmm,, tapi lue jangan bilang Soni yaa,,.?
    “ Emang apaan sih ,,”
    “ Besok lue kemana ..?”
    “ Besok iaa,, kayanya sih gua di rumah, emangnya kenapa ,.?”
    “ Kalau di bolehin gua mau maen ke rumah ,, itu pun kalau lue ngjinin,,?”
    “ Ohh, boleh ko maen aja ke sini,,.” jawab kasih
    “ Yaudah besok gua ke rumah lue ya,,?”
    “ Ok...

Besokan harinya sekitar pukul 07.00 malam Rian sudah sampai di rumah Kasih, mereka pun akhirnya akrab dan bercanda-canda, pada saat itu lah Rian mengungkap kan perasaannya ke pada Kasih bahwa Rian suka sama kasih, kasih pun terkejut mendengarnya, Kasih sebenarnya juga merasakan hal yang sama, entah tau kenapa Kasih langsung menerima cintanya Rian tanpa menyadari bahwa sesungguhnya dia sudah memiliki Soni yang begitu sayang sama dia,..

Akhirnya malam itu mereka berdua jadian. Mereka pun beromantis-romantisan di ruang tengah,tidak lama kemudian Soni datang, Soni pun melihat ada sebuah motor di rumak Kasih, dan motor itu kayanya dia kenal.Soni pun turun dari mobilnya, kata Soni “ ini kan motor Rian ngapain dia malem-malem ke rumah Kasih, Soni pun tanpa basa-basi langsung masuk ke rumah Kasih, sesampai di depan pintu Soni mengucapkan salam tapi tidak ada yang menjawabnya.

Soni pun langsung masuk dan benar-benar tidak ada orang, memang malam itu keluarga Kasih sedang pergi ke luar kota, di rumah hanya lah Kasih seorang diri, akhirnya Soni masuk melusuri ruang tengah dan dia melihat Kasih yang sedang berduaan bermesra-mesraan dengan Rian.Soni hanya bisa terdiam dan merasakan begitu sakit di hianati cewe yang selama ini dia sayang, Kasih dan Rian pun terkejut saat melihat Soni yang berdiri terdiam melihat dia berdua.
           “ So...ni,,?” tanya mereka berdua
           “ Iaa,, gue Soni kenapa lue kaget,,!! jawab Soni
           “ Son,, semua bisa gua jelasin lo jangan salah paham dulu yahh ..” jawab Rian dengan nada ketakutan
           “ Gak usah di jelasin gua udah tau semua,, apa salah gua sama lo semua,, sampai-sampai u menghianatin gue, dan buat lo Kasih apa selama ini lo masih kurang dengan apa yang sudah gua berikan sama lo,, lo bener-bener cewe yang enggak ada terima kasihnya yaa...”( dengan ekspresi wajah yang sangat  kesal)
          “ Semua yang udah lo berikan sama gua udah lebih dari cukup,, Son..” jawab Kasih(dengan nada yang lembut)
          “ Tapi kenapa lo selingkuh di belakang gua ..?”
          “ Maaf Son, karena gua udah gak sayang lagi sama lo, rasa sayang gua sudah berpaling ke yang lain,, yaitu ke Rian..”( Kasih sambil menunjuk Rian dan langsung menggandengnya di depan Soni)
         “ Gua sangat menyesal bisa sayang sama lo,, trus gimana sama rencana tunangan kita..?”
         “ Lupakan saja Son,, masalah pertunangan kita,, gua minta maaf banget sama lo..” jawab kasih dengan nada yang begitu pelan
         “ Gua,, sangat kecewa sama lo,sampai kapanpun gua engga bakal mau maafin lo apa lagi ngeliat wajah lo.” jawab Soni dengan kata yang keras dan penyesalan yang begitu dalam

         Soni pun akhirnya meninggalkan rumah Kasih dengan keadaan hati yang sangat hancur, dan hilang semua impian Soni yang ingin bertunangan sama Kasih perempuan yang ia sayangi.

Page 1 of 4

GTranslate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Sponsor Kami #1

Custom Tags Cloud